JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) Nenden Sekar Arum mengungkapkan, tren pembatasan kebebasan berekspresi di ruang digital terus meningkat.
Menurut dia, kasus intimidasi dan serangan terhadap kelompok kritis semakin banyak terjadi dari tahun ke tahun.
“Nah, kasusnya juga memang semakin lama semakin banyak gitu ya, upaya-upaya pembatasan berekspresi,” kata Nenden saat dihubungi Kompas.com, Senin (25/5/2026).
Baca juga: Wamenko Polkam Sebut Kebebasan Berekspresi hingga Kinerja DPR Jadi Penyebab Turunnya Indeks Demokrasi 2025
Berdasarkan catatan SAFEnet, serangan dan insiden keamanan digital terhadap kelompok kritis terus mengalami eskalasi, baik dari sisi jumlah maupun bentuk serangannya.
Tekanan yang dialami korban tidak lagi sebatas di ruang digital, tetapi juga meluas menjadi intimidasi psikologis hingga kekerasan fisik.
Sebagian besar serangan berkaitan dengan kritik terhadap kebijakan pemerintah dan aparat negara.
Sepanjang 2025, SAFEnet mencatat 907 kasus serangan dan insiden keamanan digital, meningkat 2,75 kali lipat dibandingkan 2024 yang mencatat 330 kasus.
Lonjakan kasus disebut sudah terlihat sejak awal tahun dan terus berulang sepanjang periode pelaporan.
Baca juga: DPD RI Nilai Pembubaran Nobar Film Pesta Babi Coreng Kebebasan Berekspresi
Data SAFEnet menunjukkan, mayoritas laporan berasal dari pengaduan langsung korban sebesar 80,49 persen, disusul pemantauan media sosial 13,89 persen, dan TAUD 5,62 persen.
Dalam konteks politik, serangan digital tidak lagi hanya menyasar aktivis HAM, organisasi masyarakat sipil, atau jurnalis, tetapi juga warga biasa, akademisi, pekerja kreatif, hingga aparatur sipil negara.
Kritik terhadap kebijakan pemerintah semakin dipandang sebagai ancaman terhadap stabilitas.
Akibatnya, unggahan yang mencerminkan keresahan publik kerap menjadi sasaran serangan, bahkan berdampak hingga ke keluarga korban.
Dalam laporan SAFEnet, Agustus 2024 menjadi bulan dengan jumlah serangan keamanan digital tertinggi, terutama saat aksi #PeringatanDarurat berlangsung.
Pada bulan itu tercatat 40 insiden serangan digital, jauh di atas rata-rata bulanan sepanjang 2024 yang mencapai 27,5 kasus.
Adapun Juli 2024 menjadi bulan dengan jumlah insiden terendah, yakni 11 kasus.