Field Trip SINTALARAS dan Realitas Darurat Sampah

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

Oleh Yusran

Pagi itu, langit tampak tenang di tepi danau kecil.
Sekelompok mahasiswa duduk melingkar di bawah pohon, bukan untuk sekadar berkumpul, tetapi untuk belajar membaca kehidupan.

Mereka menamai Field Trip Pendidikan Dasar Kepencintaalaman dan Lingkungan Hidup SINTALARAS.

Tidak ada ruang kelas mewah. Tidak ada pendingin ruangan.

Yang ada hanyalah tanah, angin, air, dan percakapan tentang masa depan bumi.

Di tempat sederhana itu, mereka belajar sesuatu yang sering hilang di kota-kota besar: bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari alam.

Seseorang berbicara tentang sungai yang dulu jernih namun kini dipenuhi sampah.

Yang lain bercerita tentang kebiasaan masyarakat yang mulai menganggap membuang sampah sembarangan sebagai hal biasa.

Lalu suasana menjadi hening.

Karena semua sadar: darurat sampah bukan sekadar tumpukan plastik.

Ia adalah tanda. Tanda bahwa manusia mulai kehilangan disiplin.

Kehilangan empati ekologis.
Dan perlahan memutus hubungan batinnya dengan alam.

Di situlah makna SINTALARAS menjadi penting.

Field trip ini bukan wisata.
Bukan dokumentasi media sosial. Bukan sekadar agenda organisasi mahasiswa.

Ia adalah latihan kesadaran.
Kesadaran bahwa bumi tidak sedang membutuhkan manusia pintar semata,
tetapi manusia yang peduli.

Bahwa pendidikan lingkungan bukan hanya soal teori daur ulang, tetapi tentang membangun karakter: belajar menghormati air, menghargai pohon, dan memahami bahwa sampah yang dibuang hari ini bisa menjadi bencana bagi generasi esok.

Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar teknologi dan pembangunan, anak-anak muda itu memilih duduk di tanah, berdialog dengan alam, dan belajar menjadi manusia yang tidak kehilangan rasa.

Karena sesungguhnya, krisis terbesar hari ini bukan hanya krisis sampah.

Melainkan krisis kesadaran.
Dan mungkin, perubahan besar memang selalu dimulai dari lingkaran kecil: dari percakapan sederhana di bawah pohon, dari langkah kecil memungut sampah, dan dari keberanian anak muda untuk berkata :

“Kami tidak ingin hanya hidup di bumi. Kami ingin ikut menjaganya.”

(Ketua Forum Komunitas Hijau Kota Makassar)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Berkenalan dengan Reymon, Sapi Kurban Jumbo Prabowo untuk Warga Depok
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Harga Cabai dan Sayuran Naik Hingga Dua Kali Lipat, Warga Makassar Keluhkan Turunnya Nilai Uang
• 11 jam lalukompas.id
thumb
Kisah Slamet Jalankan Pertanian Organik, Mupuk Tanaman Pakai Drone
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Fakta Mengejutkan UTBK-SNBT 2026: 99% Kecurangan Menyasar Fakultas Kedokteran
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Transisi ke B50 Tak Semulus yang Dibayangkan, Ini Tantangan Besarnya
• 3 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.