Rupiah Kian Melemah, Pengamat: Perbankan Dibayangi Risiko Likuiditas hingga Kredit Macet

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SURABAYA – Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,15% atau 27 poin ke level Rp17.744 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan, Senin (25/5/2026). Depresiasi rupiah tersebut dikhawatirkan banyak pihak bakal berdampak pada roda perekonomian nasional, salah satunya adalah industri perbankan Tanah Air. 

Pakar Perbankan Universitas Airlangga (UNAIR) Andi Estetiono menjelaskan bahwa pelemahan rupiah membawa dampak langsung terhadap tiga risiko utama perbankan dan harus diantisipasi sesegera mungkin, yaitu risiko likuiditas, risiko pasar, dan risiko kredit.

"Kenaikan dolar AS terhadap rupiah tentu berdampak terhadap perbankan, bukan hanya dampak terhadap harga atau inflasi," tegas Andi, Senin (25/5/2026).

Dari sisi likuiditas perbankan, khususnya likuiditas valas, Andi menjelaskan terdapat kecenderungan seseorang memilih mengamankan aset dengan mencairkan simpanan rupiah di bank, dan menyimpannya dalam dolar AS. 

Kemungkinan selanjutnya adalah masyarakat mencairkan tabungan valas dolar AS milik mereka untuk memperoleh keuntungan sesaat, maupun konversi ke aset lain seperti emas atau aset lainnya yang dianggap aman.

“Ini tergantung dari persepsi dan respons dari masing-masing masyarakat terhadap kondisi saat ini. Yang jelas, LDR Valas dan Rasio Likuiditas Valas Perbankan perlu dipantau secara ketat," ucapnya.

Baca Juga

  • Buruh Ungkap Dampak Rupiah Melemah, Risiko PHK Meningkat
  • Siasat Malindo (MAIN) Hadapi Kurs Rupiah dan Lonjakan Harga Bahan Baku
  • Pengembang di Makassar Sebut Harga Material Naik 8% Akibat Pelemahan Rupiah

Kemudian, terkait risiko pasar, Andi membeberkan bahwa apabila sebuah bank menempuh kebijakan posisi valas terbuka, maka berpotensi akan terkena revaluasi. Bila terjadi net short valas pada perbankan, maka rugi selisih kurs langsung tercatat, yang secara otomatis berdampak pada laba rugi.

Lalu risiko ketiga, ia menyebut hal tersebut akan mengarah pada sektor kredit. Khususnya, bagi para nasabah yang memiliki pinjaman dalam bentuk dolar AS, yang menjalankan aktivitas usaha di dalam negeri dengan pendapatan rupiah akan kesusahan untuk membayar bunga dan cicilan. Peluang terjadinya kredit bermasalah perbankan atau NPL disebutnya akan meningkat. 

"Ini kan berat, ya. Artinya, dia mendapatkan penghasilan rupiah, tapi harus mengangsur atau membayarnya dalam bentuk dolar AS. Sehingga ketiga risiko tersebut perlu dimitigasi dengan baik oleh industri perbankan,” jelasnya. 

Menurutnya, perbankan nasional akan merespons penahanan dana likuiditas melalui penyesuaian tingkat suku bunga simpanan. Kebijakan ini dijalankan untuk menjaga kepercayaan segenap nasabah dan menjaga likuiditas bank. Bank cenderung menaikkan tingkat bunga simpanan, tetapi untuk bunga pinjaman akan cenderung sulit bila langsung dinaikkan. 

“Akibatnya Net Interest Margin (NIM) atau selisih bunga antara pinjaman terhadap simpanan akan semakin menipis, yang artinya keuntungan bank semakin mengecil sehingga bank harus lebih efisien dalam operasionalnya," tuturnya.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Andi menyodorkan solusi agar manajemen dari masing-masing lembaga perbankan dalam negeri untuk dapat secara terus-menerus mengkomunikasikan kondisi pasar dengan transparan serta dapat menenangkan nasabah agar peristiwa krisis moneter yang mengguncang RI pada medio 1997-1998 tidak terulang kembali. 

“Jangan sampai terjadi seperti tahun 1997-1998, kurs rupiah terhadap dolar AS pada bulan Juni 1998 mencapai lebih dari Rp16.000,” harapnya.

Sementara itu, dari sisi makro, Andi berharap pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK),  yang melibatkan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, hingga LPS, untuk dapat secara intensif memantau ketat dan memberi dukungan bauran kebijakan strategis. 

"Kebijakan yang dapat dijalankan antara lain adalah intervensi pasar, operasi moneter dan suku bunga, pengawasan bank, menjalankan makroprudensial, manajemen utang luar negeri, hingga menjaga keseimbangan APBN dan kepercayaan masyarakat agar tidak menimbulkan kepanikan yang berlebih," paparnya.

Selain itu, Andi juga mengajak kepada segenap masyarakat untuk dapat merespons kondisi melemahnya rupiah terhadap dolar AS yang terjadi dewasa ini dengan keadaan tenang dan tidak mengambil tindakan secara gegabah.

"Saran saya bagi masyarakat, bagaimana kita merespons kondisi saat ini dengan tenang dan bijak, tidak usah panik. Fokus saja pada pemenuhan kebutuhan bukan keinginan. Kalau mau investasi buat namanya portofolio investasi. Kita ingat sebuah istilah, jangan menyimpan telur dalam satu keranjang yang sama. Kalau keranjangnya jatuh, maka pecah semua telurnya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Andi menyatakan bahwa masyarakat sangat perlu untuk mempelajari pengelolaan keuangan dengan baik untuk menghadapi kondisi saat ini, terutama pada portofolio tabungan. 

“Kelola keuangan kita dengan baik, portofolio ada di tabungan, sebagian deposito, sebagian logam mulia, atau saham, atau investasi langsung ke sektor riil yang tetap tumbuh dan aman, seperti kafe. Singkatnya, respons dan cara pandangan kita harus selalu positif dan mampu melihat hikmah dari setiap kejadian," pungkasnya. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tidak Gengsi, Gen Z Usia 21 Tahun Ini Sukses Raup Ratusan Juta dari Ternak Kambing
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Astra (ASII) Dorong Pertumbuhan dengan Perkuat Fokus Tiga Portofolio Bisnis Utama
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Bukit Baruga Ajak Warga Hidup Sehat
• 20 jam laluharianfajar
thumb
Menjaga Ibu, Menjaga Masa Depan
• 22 jam lalukatadata.co.id
thumb
Terdakwa Kasus Pembunuhan Kacab Bank Mengaku Idap Hernia saat Jalani Sidang
• 7 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.