Produksi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) tercatat mengalami penurunan realisasi produksi minyak mentah akibat berbagai kendala beruntun, mulai dari konflik geopolitik hingga kendala di fasilitas produksi dalam negeri.
Kombinasi sejumlah kendala tersebut membuat produksi minyak PHE hingga 3 April 2026 tercatat sebesar 475 ribu barel per hari (barel oil per day/BPD), terdiri dari produksi domestik 367 ribu barel per hari dan produksi internasional 109 ribu barel per hari.
Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, mengungkap penurunan tajam di sektor produksi domestik dipicu oleh gangguan rantai pasok gas di salah satu blok minyak paling produktif di Indonesia, yakni Blok Rokan.
Awang menjelaskan salah satu tantangan utama terjadi di Blok Rokan akibat gangguan pasokan gas yang dipicu masalah integritas atau kebocoran pada pipa transportasi gas Indonesia selama lebih dari 20 hari.
"Itu yang menyebabkan average produksi minyak kita terutama di Rokan menurun cukup tajam," kata dia dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR, Senin (25/5).
Di sisi lain, salah satu wilayah kerja yang dikelola bersama ExxonMobil juga mengalami hambatan peningkatan produksi gas akibat keterbatasan fasilitas yang tersedia di Banyuurip.
Akibat kendala-kendala tersebut, produksi minyak domestik PHE hanya tercatat di angka 367 ribu bpd.
Selain itu, konflik geopolitik di Timur Tengah juga berdampak langsung pada operasional perusahaan, membuat kehilangan produksi minyak sekitar 100 ribu barel per hari (barrel oil per day/BOPD) dari asetnya di Irak akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada kuartal I 2026.
Awang mengatakan gangguan tersebut terjadi di lapangan West Qurna, Irak, yang sempat dihentikan operasinya atas permintaan pemerintah setempat setelah konflik pecah.
"Beberapa hari setelah perang, pemerintah Irak meminta lapangan tersebut harus dimatikan. Di situ kita kehilangan sekitar 100 ribu barrel oil per day," kata Awang.
Menurut Awang, produksi di lapangan tersebut saat ini telah kembali diizinkan, namun belum beroperasi secara penuh. Produksi yang berjalan masih di bawah 10% dari kapasitas normal dan hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik Irak.
"Dan sampai sekarang produksi sudah diizinkan tapi belum full, kurang dari 10% hanya untuk memenuhi kebutuhan di internal Irak, jadi belum kembali seperti semula," ujarnya.
Secara keseluruhan, produksi perusahaan yang dikonversi ke satuan oil equivalent per day (BOEPD) mencapai 945 ribu BOEPD. Angka tersebut masih berada di bawah target perusahaan sebesar 1,03 juta BOEPD pada akhir tahun.
Untuk mengejar target tersebut, PHE menyiapkan sejumlah program yang disebut sebagai filling the gap. Program tersebut mencakup survei seismik 2D sepanjang 904 kilometer, seismik 3D seluas 1.660 kilometer persegi, pemboran 16 sumur eksplorasi, pengeboran 800 sumur pengembangan, lebih dari 1.200 kegiatan workover, serta lebih dari 23 ribu aktivitas well intervention.
Di tengah tantangan produksi, Awang juga mengungkapkan bahwa PHE berhasil mencatat temuan sumber daya minyak non-konvensional di wilayah kerja tertentu dengan potensi sekitar 1 miliar barrel oil equivalent.
Selain itu, perusahaan akan melanjutkan eksplorasi migas non-konvensional di Riau melalui pemboran 2 hingga 3 sumur serta mengembangkan sejumlah proyek strategis lain, termasuk enhanced oil recovery (EOR), multistage fracturing, hingga peluang bisnis carbon capture and storage (CCS).




