Kapal Patroli Cina dan Taiwan Saling Ancam Lewat Radio, Adu Klaim Wilayah

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Kapal patroli penjaga pantai atau coast guard administration (CGA) Taiwan sempat bersitegang dengan kapal penjaga pantai Cina melalui komunikasi radio di perairan sekitar Kepulauan Pratas.

Insiden yang berlangsung sejak Sabtu hingga Minggu lalu itu terjadi di perairan utara Laut Cina Selatan, tepatnya di sekitar Kepulauan Pratas yang dikuasai Taiwan tetapi juga diklaim oleh Beijing.

CGA Taiwan menyatakan insiden itu dipicu oleh saling klaim kedaulatan antara kedua pihak. Taiwan dan Cina terlibat saling balas komunikasi radio secara intens hingga kapal Penjaga Pantai Cina bernomor 3501 akhirnya meninggalkan perairan yang berada sekitar 26,6 mil laut atau 49,2 kilometer (km) di sebelah barat Kepulauan Pratas pada pukul 17.00 waktu setempat.

Kepulauan Pratas terletak di antara Taiwan bagian selatan dan Hong Kong, tepat di kawasan strategis utara Laut Cina Selatan. Taiwan menguasai kepulauan tersebut, tetapi sejumlah pakar keamanan menilai wilayah itu rentan terhadap tekanan maupun serangan Cina karena posisinya berada lebih dari 400 km dari pulau utama Taiwan.

CGA Taiwan menyatakan pihaknya mendeteksi kapal Penjaga Pantai Cina bernomor 3501 bergerak menuju Kepulauan Pratas pada Sabtu. Taiwan kemudian segera mengirim kapal patroli untuk menghadang sekaligus menyiarkan peringatan melalui radio.

Namun, kedua pihak justru terlibat konfrontasi verbal secara intens melalui komunikasi radio terkait klaim kedaulatan di kawasan tersebut. Kapal Cina kemudian menyatakan mereka hanya menjalankan misi patroli rutin di perairan itu.

“Republik Rakyat Cina memiliki kedaulatan dan yurisdiksi atas Kepulauan Dongsha. Kapal kami sedang melaksanakan patroli rutin. Mohon jangan mengganggu operasi kami,” demikian siaran kapal tersebut, sebagaimana dikutip dari Taipei Times pada Senin (25/5).

Kapal patroli Administrasi Penjaga Pantai Taiwan kemudian membalas pernyataan tersebut melalui komunikasi radio yang dirilis pemerintah Taiwan. Dalam siaran radio itu, petugas CGA menuding Cina menggunakan narasi perdamaian sebagai tipu daya dan menyatakan komunitas internasional tidak akan mendukung langkah Beijing di kawasan tersebut.

CGA juga meminta Cina tidak memperkeruh situasi di Laut Cina Selatan. Taiwan kemudian memerintahkan kapal Penjaga Pantai Cina untuk segera mengubah arah dan meninggalkan perairan yang mereka klaim sebagai wilayah yurisdiksi Taiwan.

CGA mengatakan pihaknya akan mengambil tindakan sesuai hukum apabila kapal Cina tetap bertahan di kawasan tersebut. “Anda diperintahkan segera mengubah arah dan meninggalkan perairan kami. Jika tidak, kapal kami akan mengambil tindakan yang diperlukan sesuai hukum,” tulis siaran kapal CGA.

China’s Taiwan Affairs Office atau Kantor Urusan Taiwan Dewan Negara Cina belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait insiden tersebut. Seorang pejabat Administrasi Penjaga Pantai Taiwan yang enggan disebutkan namanya karena alasan keamanan mengatakan penggunaan istilah ‘yurisdiksi dan kedaulatan’ oleh Cina dalam komunikasi radio tergolong tidak biasa.

Ia juga menyoroti lamanya kapal Penjaga Pantai Cina bertahan di perairan yang sangat dekat dengan Kepulauan Pratas. Pada Jumat malam, penjaga pantai Taiwan juga mengusir kapal riset Cina Tongji dari perairan sekitar Kepulauan Pratas untuk kedua kalinya sepanjang bulan ini.

Kepulauan Pratas merupakan pulau karang yang juga berstatus taman nasional Taiwan. Wilayah tersebut hanya memiliki pertahanan terbatas dan dijaga oleh penjaga pantai, bukan militer reguler Taiwan. Pada Januari lalu, pemerintah Taiwan menyatakan sebuah drone pengintai Cina sempat melintasi wilayah Pratas.

Menurut CGA, Cina saat ini mengoperasikan lebih dari 120 kapal riset oseanografi yang semakin aktif di kawasan Indo-Pasifik, termasuk sekitar 41 kapal yang beroperasi di sekitar perairan Taiwan. CGA menyatakan jangkauan operasi kapal-kapal Cina terus meluas dalam tiga tahun terakhir. Kapal-kapal tersebut bergerak dari kawasan Rantai Pulau Pertama menuju Rantai Pulau Kedua hingga mencapai Guam, bahkan menembus Rantai Pulau Ketiga yang mencakup Hawaii di Samudra Pasifik.

Rantai pulau merupakan istilah geopolitik untuk menyebut deretan pulau strategis di kawasan Pasifik yang membentang dari Jepang, Taiwan, Filipina, hingga Guam dan Hawaii. Kawasan ini menjadi jalur dalam persaingan pengaruh militer dan maritim antara Cina dan Amerika Serikat.

Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Taiwan, Joseph Wu, pada Sabtu pekan lalu juga menyampaikan keberadaan sekitar 100 kapal Cina yang beroperasi di wilayah Rantai Pulau Pertama melalui unggahan di media sosial.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Di Atas Flyover Kalibata, Warga Temukan Ruang Bermain dan Sosial yang Hilang
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Didukung Danantara, PaDi UMKM Telkom (TLKM) Perkuat Ekosistem Pengadaan Digital BUMN dan UMKM
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
BMKG Imbau Waspada Potensi Hujan-Petir di Sejumlah Kota Besar Hari Ini
• 18 jam lalukompas.com
thumb
KPK Selidiki Fasilitas Kendaraan Importir untuk Pejabat Bea Cukai
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Luhut: Seluruh Data Kementerian Terintegrasi Mulai 1 Juni 2026
• 9 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.