JAKARTA, KOMPAS.com - Suasana langit sore di atas Flyover Kalibata, Jakarta Selatan, pada Jumat (22/5/2026) tampak dipenuhi belasan layang-layang yang membubung tinggi. Di jembatan layang tersebut, warga memadati sisi flyover untuk bermain, menonton, hingga sekadar berkumpul menikmati sore hari.
Bukan di lapangan terbuka atau taman kota, infrastruktur penghubung jalan itu justru beralih fungsi menjadi arena rekreasi dadakan bagi warga sekitar.
Di tengah padatnya pembangunan Ibu Kota, warga menemukan cara sendiri untuk menciptakan ruang bermain sekaligus ruang berkumpul.
Baca juga: Wajah Kalijodo Sekarang Vs 12 Tahun Lalu
Berdasarkan pengamatan Kompas.com di lokasi sejak pukul 16.30 WIB, keramaian berpusat di sepanjang bentang jembatan yang melintasi aliran Kali Ciliwung.
Suasana riuh terdengar setiap kali ada layangan yang putus akibat saling “adu” di udara. Teriakan spontan pecah dari kerumunan, sementara sejumlah anak berlari mengejar layangan yang terseret angin ke arah permukiman di sekitar flyover.
Di sisi lain, sejumlah pedagang layang-layang memanfaatkan momen tersebut dengan menggantungkan dagangan mereka di pagar pembatas jembatan menggunakan plastik pelindung.
Deretan sepeda motor milik warga yang terparkir di bahu jalan turut membuat lajur kendaraan menyempit.
Kondisi tersebut kontras dengan situasi lalu lintas di atas flyover yang terpantau padat merayap.
Bagi sebagian warga, Flyover Kalibata kini bukan sekadar jalur penghubung antarkawasan. Tempat itu perlahan berubah menjadi ruang sosial informal yang hidup setiap sore.
Ivan (19), salah seorang pemain layang-layang, mengaku hampir setiap hari datang ke flyover jika cuaca mendukung.
“Saya sendiri baru sekitar setahun terakhir sering main di sini. Lama-lama jadi rutin hampir tiap sore kalau cuaca bagus,” ujar Ivan saat ditemui Kompas.com, Jumat.
Menurut dia, minimnya lapangan terbuka di kawasan permukiman sekitar menjadi alasan utama warga memilih flyover sebagai lokasi bermain.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana permainan tradisional masih bertahan di tengah dominasi hiburan digital.
Bagi para remaja, bermain layang-layang bukan hanya soal permainan, tetapi juga menjadi medium berkumpul dan membangun interaksi sosial.
“Daripada nongkrong enggak jelas atau main HP terus, mending ke sini sore-sore. Kadang banyak orang baru juga jadi bisa kenalan,” lanjut Ivan.
Hal serupa diungkapkan Raffi (16), pelajar yang hampir setiap akhir pekan datang ke Flyover Kalibata bersama teman-temannya.
Baca juga: Disdik DKI Gandeng Densus 88-BNPT Cegah Tawuran dan Radikalisme di Sekolah
“Kalau main di gang rumah susah karena banyak kabel dan rumah tinggi. Di flyover lebih terbuka,” ujar Raffi.
Ia mengaku tetap menyadari risiko bermain layang-layang di area jalan raya. Terlebih, ia pernah melihat pengendara motor hampir terkena benang layangan.
“Pernah lihat ada motor hampir kesangkut benang gelasan. Makanya sekarang saya usahain pakai benang biasa dan enggak terlalu dekat jalan,” ucap dia.
Hiburan Murah untuk KeluargaDi tengah keramaian itu, tidak sedikit orangtua yang turut hadir mendampingi anak-anak mereka bermain. Sebagian bahkan ikut menerbangkan layang-layang.
Joanda (42) mengatakan, aktivitas sederhana tersebut menjadi cara murah untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.
“Buat saya ini cara murah buat quality time sama keluarga. Daripada anak main gadget terus di rumah,” ujar Joanda.
Menurut dia, flyover kini berubah seperti ruang berkumpul warga secara tidak resmi. Banyak keluarga datang hanya untuk duduk santai sambil menikmati suasana sore dan melihat layangan beterbangan.
Namun, Joanda tetap mengkhawatirkan aspek keselamatan, terutama bagi anak-anak yang terlalu asyik bermain hingga kurang memperhatikan kendaraan yang melintas.
“Saya selalu ingetin jangan lari ke tengah jalan,” ucapnya.
Hal senada disampaikan Eja (34), warga yang rutin mengantar anaknya bermain layang-layang di flyover setiap akhir pekan.
“Ramai sekali. Banyak pedagang juga jadi suasananya hidup. Ada yang jual minuman, jajanan, sampai layang-layang. Jadi kayak tempat rekreasi dadakan buat warga,” kata Eja.





