Curhat Kampus Swasta yang Kekurangan Mahasiswa: Sungguh Teganya...

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Papan nama bertuliskan ”SMK PGRI 2 Tangerang” itu terlihat buram karena digerogoti karat. Sejumlah mobil terlihat parkir di sepanjang jalan masuk menuju kompleks bangunan bekas sekolah tersebut, Rabu (13/5/2026). Puluhan ruang kelas di kompleks itu dulu pernah disewa Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) yang berada di seberangnya semasa kampus ini jaya.  

Berdiri tahun 2009, UMT yang berlokasi di Babakan, Kota Tangerang, Banten, ini langsung ”kebanjiran” mahasiswa baru. Manajemen kampus sampai harus menyewa gedung SMK PGRI 2 karena ruang kuliah tidak mencukupi.

Ruang sewaan itu dulu dipakai kuliah malam, seperti dituturkan Rektor UMT Desri Arwen. Namun, sejak pandemi Covid-19, kampus menghentikan sewa karena jumlah mahasiswa merosot.

”Dulu kami termanjakan, maksudnya mahasiswa banyak dan warga sini senang dengan kampus Muhammadiyah ini. Setelah gedung baru kami selesai dibangun, ternyata jumlah mahasiswa menurun. Akhirnya ruangan di PGRI tidak kami sewa lagi,” ujarnya.  

Menurut data Pusdatin Kemendiktisaintek, pada 2014, jumlah mahasiswa baru kampus ini tercatat 4.556 orang. Pada 2025, jumlahnya anjlok menjadi 2.007 mahasiswa.   

Penurunan ini sangat terasa bagi UMT yang harus mencicil biaya pembangunan gedung ke bank, sekitar Rp 2 miliar per bulan. ”Sekarang kami masih bisa memenuhi kewajiban cicilan. Namun, dampaknya, ada program-program yang ’gizi’-nya berkurang,”  ujarnya.   

Desri mencontohkan, manajemen harus menekan anggaran untuk penelitian, studi lanjut dosen, hingga biaya riset lainnya. Ia juga terpaksa membatasi keikutsertaan UMT dalam lomba-lomba mahasiswa, baik yang bertaraf nasional maupun internasional.   

Penurunan jumlah mahasiswa juga berdampak terhadap kesejahteraan dosen. Ketika jumlah mahasiswa turun, manajemen terpaksa mengurangi jam mengajar dosen. Dampaknya, penghasilan dosen pun ikut terjerembab.

”Bayangkan kalau si dosen punya cicilan rumah, misalnya, padahal penghasilannya turun. Kepada siapa dia harus mengadu,” ujar Desri.     

Menurut Desri, penurunan jumlah mahasiswa baru di perguruan tinggi swasta (PTS) tak lepas dari agresifnya perguruan tinggi negeri (PTN) dalam merekrut mahasiswa baru. Jalur mandiri PTN dinilai terlalu berlebihan dalam merekrut mahasiswa sehingga mengurangi input mahasiswa baru di PTS.   

Situasi ini mengingatkan Desri pada potongan lagu ”Senyum Membawa Luka”  yang dipopulerkan pedangdut legendaris Meggy Z: Sungguh teganya dirimu teganya… teganya… teganya… teganya…  

Ia berharap pemerintah peduli soal ini. PTN yang menerima mahasiswa baru secara berlebihan bisa jadi  tidak melanggar karena aturannya membolehkan.

”Tetapi , ada hal yang terasa terlanggar, yakni common sense,” tegasnya.    

Kebijakan berkeadilan 

Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Muttaqin mengatakan, ekspansi daya tampung perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH) berdampak pada 164 perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia. Dampaknya dirasakan PTMA yang berada dekat dengan PTNBH.  

Menurut dia, penurunan paling terasa pada prodi-prodi populer di PTMA yang juga dibuka besar-besaran di PTN lewat jalur mandiri, seperti psikologi dan manajemen.  

Ia mengatakan, calon mahasiswa kini cenderung menunggu hingga gelombang terakhir jalur mandiri PTN. Padahal, waktu penerimaan mahasiswa baru di PTN terbilang panjang yang membuat PTS kehilangan momentum rekrutmen mahasiswa. 

”Ini bukan lagi soal persaingan bisnis di bidang pendidikan, melainkan soal tata kelola pendidikan nasional yang kurang berkeadilan,” kata Muttaqin, Senin (4/5/2026).  

Ia meminta pemerintah membatasi jalur mandiri dan mengembalikan fokus PTN pada mutu dan bukan jumlah mahasiswa. Ia juga mengusulkan pembatasan jumlah maksimal mahasiswa atau student body per PTN, misalnya maksimal 40.000 mahasiswa.  

”Jika kondisi ini berlanjut tanpa intervensi regulasi, banyak PTS kecil akan tumbang atau mati pelan-pelan. Ini akan merugikan negara karena PTN tidak akan sanggup menampung seluruh anak bangsa,” kata Muttaqin.  

Kampus swasta lain yang juga mengalami penurunan jumlah mahasiswa adalah Universitas Mercu Buana  (UMB), Jakarta. Mengacu data Pusdatin Kemendiktisaintek, jumlah mahasiswa baru kampus ini pada 2014 tercatat 6.604 orang. Pada tahun 2025, turun menjadi 2.961 orang.  

Pada Senin (18/5/2026), suasana di kampus itu terkesan normal. Mahasiswa ramai nongkrong di sejumlah toko waralaba sekitar kampus. Parkiran motor mahasiswa di seberang kampus juga masih padat. Penurunan mahasiswa di kampus ini tidak terlihat secara kasatmata.  

Namun, kondisi sebenarnya baru tergambar setelah bertemu Rektor Universitas Mercu Buana Andi Adriansyah. Berbincang kurang lebih satu jam di ruangannya, Andi menjelaskan, penurunan dirasakan dalam lima tahun terakhir dan terlihat dari turunnya pendapatan universitas. ”Turunnya 10 hingga 15 persen per tahun,” ujar Andi.   

Menurut dia, penurunan itu dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya, melemahnya ekonomi masyarakat. Namun, faktor terbesar adalah kuatnya daya tarik PTN, khususnya PTNBH yang menerima mahasiswa baru dalam jumlah besar.   

”Orangtua ketika anaknya tidak diterima lewat jalur reguler PTN, akan mendorong ke jalur mandiri PTN, bukan ke kampus swasta seperti dulu sebelum ada jalur mandiri,” ujarnya.

Untuk merespons turunnya pendapatan, lanjutnya, pihak manajemen bisa saja mengurangi jumlah dosen atau mengurangi gaji. Akan tetapi, opsi itu tidak dipilih. Efisiensi anggaran dilakukan lewat cara lain, seperti mengurangi dana kegiatan untuk dosen dan mahasiswa.  

”Tetapi, untuk hal krusial yang berpengaruh pada mutu, seperti dana penelitian, tidak kami kurangi,” tambahnya.   

Perlindungan ekosistem 

Ekspansi besar-besaran PTN bisa mengganggu keseimbangan ekosistem pendidikan tinggi nasional jika tidak diiringi pemerataan kualitas dan dukungan pendanaan, seperti disebutkan Rektor Unika Atma Jaya, Jakarta, Yuda Turana. PTS selama ini menjadi penyangga utama ekosistem pendidikan tinggi, tetapi kini kian tertekan karena mahasiswa baru semakin terkonsentrasi ke PTN. 

”Kalau ekspansi tidak diimbangi pemerataan kualitas, pendanaan, dan perlindungan ekosistem, dalam jangka panjang bisa saja terjadi konsentrasi mahasiswa hanya pada institusi tertentu. Ini kurang sehat bagi keberagaman dan keberlanjutan pendidikan tinggi,” katanya, Senin (18/5/2026).   

Perubahan lanskap pendidikan tinggi juga dirasakan Unika Atma Jaya dalam beberapa tahun terakhir. Catatan Pusdatin Kemendiktisaintek, jumlah mahasiswa baru kampus ini pada 2014 sebesar 2.373 orang. Pada tahun 2025 turun menjadi 1.700 orang.  

Ia menyadari, calon mahasiswa kini semakin mempertimbangkan biaya kuliah, peluang kerja lulusan, reputasi kampus, hingga pengalaman internasional sebelum memilih perguruan tinggi. Situasi ini mendorong kampus swasta tidak bisa lagi hanya mengandalkan nama besar, tetapi harus menawarkan pengalaman belajar dan relevansi lulusan.   

”Selain perbaikan infrastruktur dan fasilitas kampus, poin lainnya adalah penguatan kualitas akademik dan riset, kolaborasi internasional, penguatan koneksi industri, pengembangan soft skills dan leadership, hingga penguatan nilai dan karakter,”  ujar Yuda.  


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Matahari Tepat di Atas Kakbah pada 27-28 Mei, Kemenag Ajak Cek Lagi Arah Kiblat
• 16 jam laluokezone.com
thumb
Polisi: "Blackout" di Sumatera Bukan Sabotase
• 20 jam lalukompas.id
thumb
Listrik di Sebagian Aceh Kembali Padam
• 11 jam laludetik.com
thumb
Perang AS-Iran Mulai Ganggu Ekonomi Malaysia, PHK hingga Biaya Logistik Naik
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Polda Metro Jaya Ungkap 127 Kasus Kejahatan Jalanan, 173 Tersangka Ditangkap
• 23 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.