KAMPALA, KOMPAS.TV - Pemerintah Uganda melaporkan lonjakan kasus baru virus Ebola di wilayahnya kini mencapai 7 kasus konfirmasi.
Penularan lokal kini mulai terdeteksi dan menyerang sejumlah tenaga kesehatan (nakes) serta pekerja lapangan yang berkontak langsung dengan pasien asal Republik Demokratik Kongo.
Menanggapi situasi yang kian kritis ini, Presiden Uganda Yoweri Museveni mengambil langkah drastis dengan menghentikan sementara seluruh transportasi publik dan penerbangan dari Kongo, serta melarang warga melakukan tradisi bersalaman.
Baca Juga: Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo Meningkat Cepat, Negara Tetangga Bikin Pembatasan Era Covid
Berdasarkan laporan otoritas kesehatan Uganda, wabah di negara tersebut berakar dari seorang pria warga negara Kongo berusia 59 tahun.
Pasien tersebut dilarikan ke rumah sakit di Ibu Kota Uganda, Kampala, pada 11 Mei 2026 dan meninggal dunia tiga hari kemudian, sebelum statusnya sebagai penderita Ebola diketahui.
Kementerian Kesehatan Uganda mengonfirmasi kasus penularan lokal pertama menimpa seorang sopir dan seorang nakes yang sempat terpapar langsung oleh pasien meninggal tersebut.
Kondisi kian memburuk setelah dua nakes lain di sebuah rumah sakit swasta di Kampala kembali dinyatakan positif Ebola. Dengan tambahan ini, total infeksi di Uganda kini mencapai 7 kasus.
"Kedua pasien (nakes baru) telah dimasukkan ke unit perawatan yang ditunjuk dan saat ini sedang menerima penanganan medis," ujar Direktur Nasional Layanan Kesehatan Uganda, Dr. Charles Olaro, dalam pernyataan resminya, dikutip dari Associated Press.
Larangan Bersalaman dan Pembatalan Acara MassalGuna memutus rantai penularan, Presiden Yoweri Museveni mengimbau seluruh warga Uganda untuk menghentikan sementara tradisi berjabat tangan atau bersalaman.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Associated Press
- ebola di uganda
- penularan lokal ebola
- kasus ebola kongo
- yoweri museveni ebola
- virus ebola kampala
- krisis kesehatan afrika





