JAKARTA, KOMPAS.com - Ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK), Senin (25/5/2026), siang itu tak hanya dipenuhi perdebatan soal pasal undang-undang tapi juga curahan hati dari dosen.
Ruang sidang menjadi tempat bertumpuknya kisah tentang kehidupan dosen yang jauh dari bayangan sejahtera.
Satu demi satu cerita mengalir. Ada dosen yang harus mencari pekerjaan tambahan demi mencukupi kebutuhan keluarga.
Ada calon akademisi yang mengubur cita-cita menjadi dosen karena gaji dianggap tak menjanjikan.
Ada pula pengajar yang memilih meninggalkan Indonesia demi kehidupan yang lebih layak di luar negeri.
Baca juga: Di Sidang MK, Asosiasi Ungkap Banyak Dosen Cari Kerja Tambahan karena Gaji Rendah
Semua kisah itu muncul dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang diajukan Serikat Pekerja Kampus bersama dua dosen, Isman Rahmani Yusron dan Riski Alita Istiqomah.
Mereka menggugat Pasal 52 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UU Guru dan Dosen karena dinilai belum menjamin penghasilan layak bagi dosen.
Bertahan dengan pekerjaan tambahan
Di hadapan hakim konstitusi, Ketua Umum Asosiasi Dosen Indonesia, Mohammed Ali Berawi, menyebut kondisi dosen saat ini “cukup memprihatinkan”.
Ia mengatakan, banyak dosen terpaksa mencari pekerjaan di luar kampus agar dapur tetap mengepul.
“Tidak sedikit teman-teman dosen yang harus mencari pekerjaan tambahan di luar kampus untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," ungkap Ali dalam sidang uji materi Nomor 272/PUU-XXIII/2025 ini.
Baca juga: “Boro-boro Ngontrak, Gaji Dosen Paling Cukup Buat Makan Saja”
Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia itu menuturkan, situasi tersebut membuat banyak dosen sulit menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi secara optimal.
Di satu sisi mereka dituntut mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat, tetapi di sisi lain masih harus memikirkan kebutuhan dasar keluarga.
Ali kemudian menyinggung fenomena tagar #JanganJadiDosen yang sempat ramai di media sosial.
Menurut dia, kemunculan tagar itu bukan sekadar keluhan spontan, melainkan cerminan keresahan yang nyata.