Dua puluh tahun silam sebuah gempa besar mengguncang wilayah DI Yogyakarta dan sekitarnya. Peristiwa tersebut menelan ribuan korban jiwa dan merusak ratusan ribu bangunan. Jejaknya pun hingga kini masih membekas dalam memori warga, mematri pesan tentang makna hidup di tanah rawan bencana.
Nuansa asri menyelimuti Dusun Potrobayan, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, DIY, Jumat (22/5/2026) sore. Pohon-pohon besar memayungi permukiman di tepian Sungai Opak itu dari sinar matahari.
Di balik suasana syahdu tersebut, dusun kecil ini menjadi saksi kekuatan dahsyat alam yang meledak pada 27 Mei 2006. Potrobayan diyakini sebagai episentrum atau titik pusat gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter atau setara dengan magnitudo 6,3 kala itu. Sebuah prasasti penandanya pun didirikan di sudut dusun.
Sumber gempa tersebut berada jauh di kedalaman bumi, tepatnya di Sesar Opak yang melintasi wilayah Bantul dan Kabupaten Sleman di DIY. Nama Opak disematkan karena memang sebagian besar jalur patahan bumi sepanjang sekitar 45 kilometer itu mengikuti alur sungai besar tersebut.
”Sampai sekarang, kalau ada gempa, di sini biasanya memang lebih terasa (guncangannya) dibandingkan daerah lain,” ujar Heriyadi (38), Kepala Dusun Potrobayan.
Heriyadi masih mengingat jelas peristiwa 20 tahun lalu tersebut. Kala itu, lelaki yang masih duduk di bangku kelas 3 SMK itu hendak bersiap berangkat ke sekolah seusai shalat Subuh.
Namun, tiba-tiba bumi berguncang hebat dengan gerakan naik-turun selama 57 detik. Heriyadi spontan berlari keluar rumah yang kemudian rusak parah itu.
”Saat itu sekitar 90 persen rumah di dusun ini roboh. Hanya beberapa rumah yang masih berdiri. Itu pun kondisinya retak-retak,” ucapnya.
Heriyadi sempat membantu membawa sejumlah tetangganya yang terluka ke rumah sakit. Dalam perjalanan itu, dia baru menyadari betapa besarnya skala bencana tersebut setelah melihat dampak kerusakannya di desa-desa lain.
Catatan pemerintah, gempa itu menyebabkan lebih dari 5.700 korban jiwa dan puluhan ribu lainnya luka-luka. Bukan hanya di DIY, gempa juga berdampak ke sejumlah kabupaten tetangga di wilayah Jawa Tengah, seperti Klaten, Magelang, dan Purworejo.
Terdapat sekitar 200.000 bangunan yang rusak, baik rumah, perkantoran, infrastruktur, maupun fasilitas publik lain. Kerugian material saat itu ditaksir mencapai Rp 29 triliun.
Warga Potrobayan yang kehilangan tempat tinggal pun mengungsi ke shelter-shelter darurat. Namun, Heriyadi menyebut pengungsian tak berlangsung lama, yakni hanya sekitar tiga bulan.
Gotong royong ini sangat membantu memangkas biaya karena dana bantuan tidak cukup.
Dengan dana bantuan rekonstruksi dari pemerintah sebesar Rp 15 juta-Rp 30 juta per rumah, warga membentuk kelompok masyarakat (pokmas). Setiap pokmas yang terdiri atas 10 keluarga itu kemudian bergotong royong membangun kembali rumah semua anggota secara bergantian.
”Gotong royong ini sangat membantu memangkas biaya karena dana bantuan tidak cukup. Bahan-bahan bangunan dari rumah lama yang masih bisa dipakai juga digunakan lagi,” ujar Heriyadi.
Pembangunan kembali itu pun menggunakan standar konstruksi yang lebih kuat ketimbang rumah lama. Sebelumnya, rumah-rumah di wilayah Bantul kebanyakan hanya berupa susunan bata, tanpa memakai struktur tulangan beton, seperti kolom, sloof, dan ring balok.
Hal ini pula yang ditengarai membuat banyak rumah ambruk saat digoyang gempa. ”Sejak itu, sekarang semua rumah sudah memakai standar bangunan dengan tulangan beton,” ucap Heriyadi.
Bahkan, warga menambah antisipasi dengan tidak membangun rumah bertembok tinggi. Rata-rata ketinggian total dinding rumah satu lantai di dusun tersebut hanya berkisar 3 meter. ”Rumah sengaja dibangun pendek-pendek untuk menghindari roboh kalau terjadi gempa,” kata Heriyadi.
Memori gempa juga masih membekas kuat di kalangan warga Kampung Nglepen, Kecamatan Prambanan, Sleman. Bagaimana tidak, akibat gempa, seluruh penduduk harus meninggalkan kampung itu karena sudah tak aman lagi untuk dihuni.
Warga direlokasi ke bekas lahan tebu yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari kampung lama. Permukiman baru itu terdiri atas 80 rumah tahan gempa berbentuk kubah atau yang sering disebut rumah dome.
”Iki kiamat opo yo? (Apakah ini kiamat, ya?),” ucap Sulasmono (36), warga Nglepen, ketika mengenang momen saat tanah tempatnya berpijak berguncang hebat 20 tahun lalu.
Ia yang masih berusia 16 tahun pun segera berlari keluar rumah. Di luar, dia mendapati sejumlah rumah tetangganya ambles seperti tertelan bumi pada pagi itu.
Mayoritas korban jiwa dalam gempa 2006 tertimpa reruntuhan bangunan yang tidak memiliki struktur penguat.
Sebagian tanah di kampung tersebut ambles sedalam 7 meter dengan lebar 15 meter. Panjang retakan akibat gempa itu memanjang sejauh lebih dari 300 meter. Karena itulah, Kampung Nglepen dinyatakan tak layak ditempati lagi.
Kompas pun menyusuri bekas kampung itu bersama Sulasmono, Senin (18/5/2026). Jalan-jalan akses kampung dengan lebar kurang dari 1 meter telah ditumbuhi rumput lebat. Sejumlah rumah dalam kondisi rusak dibiarkan terbengkalai dan ditumbuhi semak yang meninggi.
Guru Besar Manajemen Kebencanaan Geologi Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Yogyakarta Eko Teguh Paripurno mengungkapkan, meski telah berlalu 20 tahun, gempa yang melanda DIY memberi sejumlah pelajaran penting yang tetap relevan hingga sekarang.
Pelajaran pertama adalah pentingnya keamanan struktural bangunan agar bisa menahan guncangan gempa. Menurut dia, mayoritas korban jiwa dalam gempa 2006 tertimpa reruntuhan bangunan yang tidak memiliki struktur penguat seperti kolom dan balok yang standar.
”Pelajaran penting yang tetap relevan adalah bahwa gempa tidak membunuh, melainkan bangunan yang tidak ramah gempa yang menjadi penyebab utama korban jiwa,” kata Eko, Jumat (22/5/2026).
Adapun pelajaran berikutnya terkait pemahaman karakteristik sesar aktif. Dia menyebutkan, gempa 2006 membuka mata banyak pihak bahwa ancaman gempa di DIY tidak hanya datang dari zona subduksi Samudra Hindia di selatan Jawa, tetapi juga dari sesar aktif di daratan, yakni Sesar Opak. Jalur sesar ini melalui wilayah permukiman padat.
Pelajaran lain, menurut Eko, adalah pentingnya menjaga kekuatan modal sosial dalam penanganan bencana. Gempa 20 tahun lalu itu menunjukkan, masyarakat DIY dan Jawa Tengah mempunyai sifat gotong royong yang sangat kuat.
”Karakter masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya saat masa tanggap darurat dan rekonstruksi adalah aset mitigasi terbesar yang diakui dunia. Pelajaran terpentingnya adalah bagaimana menjaga ritme kesiapsiagaan ini agar tidak luntur seiring bergantinya generasi,” tuturnya.
Sementara itu, menurut dosen Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, Gayatri Indah Marliyani, merawat ingatan tentang gempa 2006 sangat penting. Hal ini untuk memastikan masyarakat dan pihak terkait lain tetap mewaspadai potensi terjadinya gempa besar pada masa mendatang.
Dia menambahkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama sejumlah lembaga lain telah memasang alat pemantauan seismik di sejumlah titik yang dilalui Sesar Opak. Hasil pemantauan menunjukkan terjadinya gempa secara rutin di sesar tersebut meskipun mungkin masyarakat tidak merasakannya.
Hal itu menunjukkan Sesar Opak masih terus bergerak sehingga potensi gempa akibat sesar tersebut masih ada. Oleh karena itu, berbagai pihak tetap harus mewaspadai potensi gempa dari sesar tersebut. Selain itu, ada pula potensi gempa dari zona subduksi di perairan selatan Jawa.
Heriyadi pun mengatakan, Dusun Potrobayan hampir setiap tahun memperingati kejadian gempa itu. Selain mendoakan para korban, ini juga untuk terus menyegarkan memori masyarakat bahwa mereka tinggal di daerah yang rawan bencana.
”Terutama untuk generasi yang lahir setelah tahun 2006. Supaya mereka paham soal bencana ini walaupun mereka tidak mengalami langsung,” ucapnya.





