AMERIKA, KOMPAS.TV - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan usai pidato Hari Peringatan atau Memorial Day di Arlington, Virginia, Senin (25/5/2026).
Dalam pidatonya, Trump mengenang 13 tentara Amerika Serikat yang tewas dalam konflik terbaru dengan Iran, sekaligus menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Trump menyebut para prajurit tersebut gugur demi mencegah negara yang ia sebut sebagai sponsor utama terorisme dunia memperoleh kekuatan nuklir.
Di tengah pidato penghormatan itu, Trump juga menyinggung operasi militer Amerika di Venezuela yang menurutnya berakhir dengan kemenangan mutlak tanpa korban jiwa dari pihak AS.
Ia mengatakan Washington kini bekerja sangat dekat dengan pemerintah Venezuela dan mengklaim Amerika mengambil alih kendali dalam operasi tersebut.
Pernyataan Trump dinilai menyimpang dari naskah pidato resmi Memorial Day yang biasanya berfokus pada penghormatan kepada para prajurit yang gugur.
Sementara itu, konflik Iran-AS yang dimulai sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu masih terus memanas meski gencatan senjata telah diberlakukan.
Trump juga mendorong negara-negara Arab seperti Arab Saudi dan Qatar untuk segera bergabung dalam Abraham Accords bersama Israel sebagai bagian dari upaya perdamaian kawasan Timur Tengah.
Namun, Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa belum ada kesepakatan damai yang akan tercapai dalam waktu dekat dan pembicaraan dengan AS lebih difokuskan pada penghentian perang dibanding isu nuklir.
Penulis : Prayogi-Haro
Sumber : Kompas TV
- amerika
- iran
- perang as-iran





