JAKARTA, KOMPAS.com - Bermacam-macam alasan terjadinya blackout atau mati listrik di Sumatera, tapi satu yang pasti: Pemadaman massal terus berulang.
Alasan penyebab blackout adalah gangguan interkoneksi, masalah transmisi Saluran Udara Tekanan Ekstra Tinggi (SUTET), hingga cuaca buruk.
Dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir, pemadaman listrik massal di Sumatera setidaknya berulang tiga kali: tahun 2019, 2024, dan terakhir 2026.
Padahal, Sumatera merupakan salah satu wilayah dengan sumber daya energi terbesar di Indonesia.
Pulau ini memiliki cadangan batu bara, potensi panas bumi, gas alam, hingga sumber daya air yang dapat menjadi penopang pembangkit listrik.
Akankah negara ini bisa zero blackout di masa depan?
Baca juga: Baru 2 Hari Menyala Usai Blackout, Listrik Aceh Padam Lagi Jelang Meugang Idul Adha
Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai pemadaman listrik secara berulang dapat menjadi indikasi adanya ketidaktepatan dalam pengelolaan jaringan kelistrikan.
Meski ia tidak memungkiri, sistem kelistrikan tidak pernah benar-benar dapat dijamin bebas gangguan atau mencapai kondisi "zero blackout".
Secara teknis blackout dapat terjadi, bahkan di negara maju sekalipun, mengingat sistem kelistrikan merupakan jaringan yang paling kompleks, melibatkan pembangkit, distribusi, hingga transmisi yang saling terhubung.
Baca juga: Blackout di Spanyol, Wisatawan Indonesia Cerita Pengalaman Tanpa Listrik dan Makanan
Yang menjadi pembeda, ada batas wajar selama persentase pemadaman masih berada dalam standar eror tertentu.
Blackout yang terjadi dalam rentang waktu cukup panjang masih dapat dipahami sebagai risiko teknis sistem kelistrikan.
"Jadi memang secara teknis, blackout itu akan terjadi. Kalau dalam standar erornya itu 1 persen, di 1 persen itulah blackout kemudian terjadi. Jadi tidak ada standar errr-nya misalnya 0 persen atau zero blackout. Itu bagi PLN bahkan di luar negeri itu juga terjadi," kata Fahmy saat dihubungi Kompas.com, Senin (25/5/2026).
KOMPAS.com/FAQIHAH MUHARROROH ITSNAINI Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi saat wawancara media usai konferensi pers di Jakarta, Rabu (31/7/2024).
Namun jika pemadaman massal terjadi terlalu sering, hal itu dapat menjadi tanda persoalan dalam pengelolaan jaringan.
"Kalau frekuensinya berulang, misalnya setahun sekali, itu saya kira memang kesalahan PLN yang ada something wrong itu yang harus diperbaiki," tutur dia.