Donald Trump Presiden Amerika Serikat menyatakan stok uranium yang diperkaya milik Iran akan segera diserahkan kepada Amerika Serikat untuk dimusnahkan atau dihancurkan di lokasi yang disepakati bersama Teheran. Pernyataan itu disampaikan Trump melalui akun Truth Social pada Senin (25/5/2026), di tengah pembicaraan yang disebut semakin mendekati kesepakatan untuk mengakhiri perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
“Uranium yang diperkaya itu akan segera diserahkan kepada Amerika Serikat untuk dibawa pulang dan dimusnahkan, atau lebih baik dimusnahkan di lokasi,” tulis Trump seperti dikutip Antara dari Anadolu, Selasa (26/5/2026). Ia mengatakan proses pemusnahan bisa dilakukan bersama Republik Islam Iran dan disaksikan Komisi Energi Atom atau lembaga setara lainnya.
Namun, klaim Trump itu belum sejalan dengan sikap Teheran. Reuters pada 24 Mei melaporkan seorang sumber senior Iran menegaskan Iran belum menyetujui penyerahan stok uranium yang diperkaya tinggi kepada Amerika Serikat. Menurut sumber tersebut, isu bahan nuklir Iran belum masuk dalam kesepakatan awal dan baru akan dibahas dalam negosiasi lanjutan menuju perjanjian final.
Sebelumnya, Trump juga sudah menyatakan Amerika Serikat akan mengambil uranium Iran, meski Tehran menolak mengirimkannya ke luar negeri. Reuters melaporkan dua sumber senior Iran mengatakan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei telah menginstruksikan agar uranium yang diperkaya tidak dikirim keluar Iran.
Di sisi lain, sinyal bahwa perundingan mendekati titik temu juga datang dari Pakistan. Dalam pertemuan dengan Wang Yi Menteri Luar Negeri China di Beijing, Jenderal Asim Munir Panglima Angkatan Darat Pakistan menyebut kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat “hampir tercapai”. China dan Pakistan juga menegaskan dukungan terhadap upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di kawasan.
Meski begitu, perbedaan posisi soal uranium tetap menjadi ganjalan utama. Amerika Serikat ingin memastikan Iran tidak mempertahankan stok uranium yang bisa diproses lebih lanjut ke tingkat senjata nuklir, sedangkan Iran bersikeras program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil dan menolak tunduk pada tuntutan yang dianggap melampaui hukum internasional.(ant/iss/ham)




