Dari Lapak Daging hingga Tumpukan Arang, Pasar Minggu Siap Menyambut Idul Adha

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Penjual daging tampak sibuk melayani pembeli di lorong sisi timur pasar tradisional kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (26/5). Sejak dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, mereka sudah mulai berjualan seperti hari-hari biasa menjelang Idul Adha.

Salah satu pedagang daging, Samiji (60), mengatakan penjualan daging menjelang Idul Adha tahun ini berjalan seperti biasanya. Meski tidak seramai saat Idul Fitri, dagangannya tetap laku terjual.

“Kalau lebaran ini biasa saja. Enggak terlalu ramai. Ya laku lah, tapi enggak ramai banget kayak lebaran Idul Fitri,” ujar Samiji saat ditemui kumparan.

Samiji mengaku tetap berjualan hingga pukul 09.00 WIB. Namun, ketika Idul Adha tiba, ia justru tidak berjualan karena akan menjadi pemotong hewan kurban di sejumlah tempat ibadah.

“Besok enggak, ada jasa memotong. Di masjid-masjid, musala,” katanya.

Menurut Samiji, ada dua faktor yang membuat jumlah pembeli daging menjelang Idul Adha tidak seramai saat Idul Fitri. Pertama, harga daging mengalami kenaikan.

“Harga berubah. Jadi lebih mahal. Biasanya 14 (140 ribu per kilo), jadi 15. Kalau yang baru sekarang 16, biasanya 14. Modalnya saja sudah 15,” tuturnya.

Faktor kedua, masyarakat umumnya sudah mendapatkan pasokan daging dari pembagian hewan kurban. Hal itu juga diungkapkan salah satu pembeli, Bastari (57).

“Daging enggak (beli). Biasanya dikasih gitu. Alhamdulillah, Idul Adha,” ucap Bastari.

Di sisi lain, aroma perayaan Idul Adha juga terasa dari deretan penjual perlengkapan sate di sisi tenggara pasar. Mereka menjajakan tusuk sate, kipas bambu, hingga arang yang mulai diburu warga.

Salah satu penjual perlengkapan sate, Mijan (22), mengatakan Idul Adha menjadi momen meningkatnya permintaan perlengkapan bakaran. Namun, menurutnya, lonjakan pembeli biasanya baru terasa pada hari H Idul Adha.

“Kalau mulai ramai biasanya besok. Kalau sekarang paling ya satu, dua, ada lah,” ungkapnya.

“Setelah salat Idul Adha, agak siangan lah jam 12-an itu sudah mulai biasa ramai. Karena bakarannya pada malam,” sambungnya.

Untuk menghadapi lonjakan permintaan itu, Mijan menyiapkan stok arang hingga 10 ton dan berencana berjualan selama 24 jam penuh keesokan harinya. Berbeda dari hari biasa ketika ia hanya berjualan mulai pukul 05.00 WIB hingga 19.00 WIB.

Ia menjual dua jenis arang, yakni arang kayu seharga Rp 15 ribu per kilogram dan arang batok Rp 23 ribu per kilogram. Harga tusuk sate pun bervariasi, tergantung ukuran dan jumlah dalam kemasan.

“Kalau tusuk sate itu per ikatnya Rp 5 ribu. Kalau yang pak itu kan yang setengah kilo Rp 15 ribu, kalau yang 2 kilo Rp 25 ribu. Kalau yang gabungan ini (campur) Rp 80 ribu,” ungkap Mijan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Raihan Muhammad Menyoroti Bahaya Normalisasi “Tembak di Tempat” dalam Penanganan Begal
• 52 menit lalupantau.com
thumb
Daftar Lengkap Tim Degradasi Liga Inggris dan Klub Promosi Musim 2026/2027
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
Gandeng Syailendra Capital, BRI Hadirkan Investasi Syariah Lewat BRImo
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Sekolah Rakyat tampung 700 anak jalanan
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Permudah Transaksi, Bank Mandiri-Indogrosir Rilis Kartu Mandiri Debit Co-Brand
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.