JAKARTA, KOMPAS.com – Dompet Dhuafa mengarahkan distribusi hewan kurban Idul Adha 1447 Hijriah (H) ke berbagai wilayah yang masih membutuhkan dukungan pemulihan pascabencana, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan manfaat kurban dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan, termasuk kelompok rentan di daerah yang masih menghadapi dampak bencana.
Ketua Program Kurban 1447 H Dompet Dhuafa Ali Bastoni mengatakan, program Tebar Hewan Kurban 2026 ditargetkan menjangkau 24 provinsi dan lebih dari 800 desa di Indonesia.
“Antusiasme masyarakat untuk menyalurkan kurban ke wilayah-wilayah tersebut cukup tinggi. Bahkan, sebagian kuota hewan kurban telah habis dipesan menjelang Idul Adha,” kata Ali dalam konferensi pers bertajuk Kisah Pengorbanan Besar dalam Misi Kemanusiaan dan Semangat Kurban 1447 H di Philanthropy Building, Pejaten, Jakarta Selatan, Senin (25/5/2026).
Selain distribusi di dalam negeri, Dompet Dhuafa kembali menjalankan program kurban untuk Palestina melalui pengolahan daging dalam bentuk makanan kaleng.
Baca juga: Cara Antisipasi Risiko Kontaminasi Daging Kurban, Tak Pakai Wadah Plastik dan Standar ASUH
Menurut Ali, langkah tersebut diperlukan agar daya simpan produk lebih lama dan distribusi bantuan dapat menyesuaikan kondisi di wilayah konflik.
“Kenapa harus kaleng? Karena Gaza tidak kondusif. Jadi perlu diolah dulu supaya daya simpannya lebih panjang dan distribusinya bisa menyesuaikan situasi di lapangan,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, komedian sekaligus pegiat sosial Indro Warkop menilai distribusi kurban perlu dirancang secara tepat sasaran agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Ia mengaku memilih menyalurkan kurban melalui lembaga filantropi karena proses distribusinya dilakukan berdasarkan pemetaan kebutuhan dan survei lapangan.
Menurut Indro, pendekatan tersebut memungkinkan bantuan menjangkau wilayah yang selama ini menerima distribusi kurban dalam jumlah terbatas.
Baca juga: Prabowo hingga Gatot Nurmantyo Sumbang Hewan Kurban di Masjid Agung Demak, Ada Kerbau Bule
Ia mencontohkan, beberapa tahun lalu sapi kurbannya disalurkan hingga ke Myanmar melalui program kemanusiaan.
“Dengan cara seperti itu, manfaat kurban bisa menjangkau wilayah-wilayah yang distribusi kurbannya masih terbatas,” ujar Indro.
Ia juga mengenang masa kecilnya ketika keluarganya hanya mampu berkurban seekor kambing. Pengalaman menyaksikan proses penyembelihan dan pembagian daging bersama orangtuanya menjadi pelajaran tentang rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama.
“Sesederhana apa pun kita, ternyata masih banyak orang lain yang hidupnya lebih susah,” kata Indro.
Baca juga: Harga Plastik Melambung, Besek Bambu Dilirik Panitia Kurban saat Idul Adha
Sementara itu, Ketua Pengurus Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini mengatakan, esensi kurban tidak hanya terletak pada penyembelihan hewan, tetapi juga pada kesediaan berbagi dan berkorban demi membantu sesama.
“Berarti sebenarnya yang disari dari kurban itu adalah berkorban. Mau mengorbankan sesuatu, entah pikiran, tenaga, harta, atau kemampuan,” ujarnya.
Menurut Ahmad, semangat tersebut perlu diwujudkan melalui distribusi bantuan yang mampu menjangkau masyarakat yang membutuhkan, termasuk mereka yang berada di wilayah terdampak bencana maupun daerah dengan akses bantuan yang terbatas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




