Liputan6.com, Jakarta - Jumat malam, 22 Mei 2026, seharusnya menjadi waktu yang tenang bagi jutaan warga di Pulau Sumatera untuk melepas penat setelah sepekan bekerja. Namun, ketenangan selepas ibadah salat Magrib itu seketika buyar.
Aliran listrik di sejumlah provinsi, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Pekanbaru, Palembang, hingga ujung Lampung mendadak terputus serentak, meninggalkan kepulauan ini dalam kondisi gelap gulita, alias blackout.
Advertisement
Warga di berbagai daerah mengeluh kondisi yang terjadi saat itu. Mereka harus melewati malam tanpa penerangan dan listrik. Hingga keesokan harinya, Sabtu 26 Mei 2026, kondisi perlahan mulai membaik dan listrik di beberapa wilayah mulai kembali menyala.
Liputan6.com merangkum seluk beluk insiden blakcout yang terjadi di Pulau Sumatra akhir pekan lalu.
Apa itu Blackout?
Blackout listrik bisa diartikan mati lampu serentak secara total. Blackout adalah kondisi ketika pasokan listrik padam secara luas dalam suatu wilayah akibat gangguan besar pada sistem kelistrikan. Dalam sistem tenaga listrik, blackout terjadi ketika keseimbangan antara produksi listrik dan beban konsumsi terganggu sehingga jaringan kehilangan kestabilan.
Kapan terjadi blackout di Pulau Sumatra?
Gangguan kelistrikan mati lampu massal atau blackout yang melanda sebagian wilayah Sumatra terjadi pada Jumat (22/5/2026) pukul 18.44 WIB.
Wilayah yang terdampak mati lampu serentak?
PLN melaporkan blackout Sumatra pada Jumat 22 Mei 2026 berdampak pada sekitar 13,1 juta pelanggan listrik di berbagai wilayah Sumatra. Sebagian besar warga di Pulau Sumatra terdampak gangguan kelistrikan mati lampu serentak atau blackout. Meliputi daerah:
Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat Riau
Kepulauan Riau
Jambi
Bengkulu
Sumatera Selatan
Lampung
Kepulauan Bangka Belitung
Berapa kerugian yang ditimbulkan akibat Blackout Sumatra?
Sampai berita ini diturunkan, belum ada angka resmi dari pemerintah, PLN atau dinia usaha mengenai total kerugian ekonomi akibat blackout Sumatra. Namun sejumlah pihak menyebut kerugiannya sangat besar dan meluas. Kadin Indonesia menyebut blackout membuat aktivitas ekonomi di Sumatra lumpuh, terutama karena banyak transaksi kini bergantung pada sistem digital dan internet.
Benarkah ada unsur sabotase dalam insiden blakcout Sumatra?
Hasil investigasi yang dilakukan Bareskrim Polri memastikan tidak ada sabotase dalam insiden ini. Dugaan sementara blackout Sumatra mengarah pada faktor teknis dan cuaca yang ekstrem yang menyebabkan gangguan pada sistem transmisi kelistrikan.
Tim gabungan telah melakukan olah TKP di Tower 175 dan 176 jaringan transmisi di Desa Tempino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi. Dari lokasi tersebut, ditemukan kabel transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kV jalur Muara Bungo-Sungai Rumpeh dalam kondisi putus.
Wakabareskrim Polri Irjen Nunung Syaifudin memastikan, kejadian kabel yang terputus tersebut bukan sabotase. Karena kerusakan atau putusnya kabel atau jaringan ini tidak rapi. Lebih bersifat atau berbentuk serabut. Kalau sabotase, pasti potongan-potongannya lebih rapi.
Apa penyebab terjadinya blackout di Sumatra?
Berdasarkan hasil penelusuran awal saat kejadian, diketahui terdapat gangguan pada transmisi 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi yang disebabkan oleh cuaca buruk.
Menurut penjelasan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung, gangguan bermula dari sambaran petir pada jaringan transmisi listrik di wilayah Jambi. Insiden tersebut kemudian memengaruhi kestabilan sistem kelistrikan Sumatera yang saling terhubung.
Penjelasan serupa juga disampaikan Direktur Transmisi PLN Edwin Nugraha Putra. Saat kejadian muncul fenomena power swing atau gangguan kestabilan daya pada sistem kelistrikan Sumatera. Gangguan tersebut dipicu kondisi cuaca ekstrem berupa hujan lebat, sambaran petir, dan angin kencang yang memengaruhi jaringan transmisi 275 kV New Aur Duri di Muaro Jambi, Jambi. Setelah gangguan terjadi, sistem pengamanan otomatis pada jaringan listrik langsung bekerja melalui mekanisme trip atau pemutusan aliran listrik untuk mencegah kerusakan lebih luas.
Bagaimana Proses Pemulihan Blackout?
Langkah pertama yang diambil PLN adalah isolasi gangguan transmisi. PLN terlebih dahulu melokalisasi titik gangguan pada jalur SUTET 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai di Jambi yang diduga menjadi pemicu blackout. Sistem Sumatra Bagian Utara dan Tengah sempat terpisah untuk mencegah kerusakan lebih luas.
Kedua, melakukan pemeriksaan jaringan transmisi dan gardu induk. Tim teknis melakukan inspeksi menyeluruh pada saluran transmisi tegangan ekstra tinggi, gardu induk, sistem proteksi, dan kestabilan frekuensi jaringan.
Ketiga, setelah itu dilakukan penyambungan kembali backbone transmisi Sumatra. Setelah jalur transmisi dinyatakan aman, PLN menghubungkan kembali interkoneksi utama Sumatra secara bertahap. Tahap ini sangat krusial karena sinkronisasi frekuensi dan tegangan harus stabil agar tidak terjadi blackout ulang.
Keempat, setelah transmisi stabil, pembangkit mulai dihidupkan kembali. Lalu sinkronisasi daya ke sistem interkoneksi. Daya dari pembangkit dimasukkan sedikit demi sedikit ke jaringan transmisi Sumatra untuk menjaga kestabilan frekuensi sistem. PLN melakukan load balancing agar beban tidak langsung melonjak.
Tahap terakhir pemulihan distribusi ke pelanggan. Setelah transmisi dan gardu induk stabil, jaringan distribusi kota mulai dinyalakan.
Berapa jam proses pemulihan blackout?
Proses pemulihan awal berjalan 6-8 jam. Sedangkan untuk pemulihan hingga normal, diperkirakan 20 jam.
Pada Sabtu 23 Mei, sebagian besar wilayah sudah mulai mendapat aliran listrik kembali, tetapi masih ada jutaan pelanggan yang belum pulih penuh. Tercatat pada Sabtu pagi, 8,3 juta pelanggan sudah kembali mendapatkan pasokan listrik. Sekitar 157 dari 176 gardu induk sudah kembali beroperasi.
Hingga Minggu 24 Mei 2026 pagi, PLN menyatakan 176 gardu induk sudah kembali normal dan sistem kelistrikan Sumatra berangsur stabil.




