JAKARTA, KOMPAS — Perubahan hutan menjadi perkebunan, perluasan pertanian, hingga pembangunan kawasan perkotaan di Asia Tenggara tidak hanya mempercepat krisis iklim, tetapi juga merugikan masyarakat. Studi terbaru menunjukkan perubahan penggunaan lahan juga memperburuk polusi udara dan memicu ribuan kematian dini setiap tahun dengan Indonesia menjadi negara paling terdampak di kawasan.
Penelitian yang dipimpin para ilmuwan dari Nanyang Technological University (NTU) dan diterbitkan dalam jurnal The Lancet Planetary Health pada Senin (25/5/2026) itu memperkirakan perubahan penggunaan lahan dan tutupan lahan (land use and land cover changes/LULCC) di Asia Tenggara yang dikaitkan dengan sekitar 13.000 kematian tambahan pada 2018 saja. Kerugian ekonomi total mencapai 7,8 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 120 triliun.
Laporan ini juga mengungkap, Indonesia menyumbang beban terbesar dari deforestasi dan perubahan lahan ini. Studi tersebut memperkirakan sekitar 4.800 kematian berlebih terjadi di Indonesia akibat memburuknya kualitas udara yang dipicu perubahan penggunaan lahan. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan Vietnam sekitar 2.800 kematian dan Thailand sekitar 1.800 kematian.
Sebagian besar dampak kesehatan akibat perubahan lahan ini terkonsentrasi di Pulau Jawa, wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia. Peneliti menilai kombinasi antara perubahan bentang alam dan tingginya jumlah penduduk yang terpapar membuat Jawa menjadi kawasan paling rentan.
”Perubahan penggunaan lahan sering dibahas dalam konteks iklim atau pembangunan ekonomi, tetapi dampaknya terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat kurang dipahami,” kata Steve Yim, profesor kesehatan lingkungan dari NTU Singapura, sekaligus penulis utama studi tersebut.
Ia menambahkan, ”Studi kami menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan dapat secara signifikan memperburuk polusi udara di Asia Tenggara, yang menyebabkan dampak kesehatan dan kerugian ekonomi yang substansial.”
Penelitian ini menggunakan kombinasi model meteorologi-kualitas udara WRF-CMAQ, model respons konsentrasi-polusi untuk menghitung kematian berlebih, serta pendekatan value of statistical life (VSL) dan cost of illness (COI) untuk mengukur kerugian ekonomi.
Hasilnya menunjukkan degradasi dan deforestasi hutan menjadi penyebab terbesar dampak kesehatan tersebut. Hampir 30 persen kematian tambahan di Asia Tenggara terkait langsung dengan kehilangan dan kerusakan hutan.
Di Indonesia, konversi hutan tropis menjadi perkebunan industri, terutama kelapa sawit dan karet, dinilai memainkan peran penting. Deforestasi mengurangi kemampuan hutan menyerap polutan sekaligus mengubah suhu permukaan, kelembaban, dan sirkulasi udara yang memengaruhi pembentukan partikel halus PM 2,5 dan ozon permukaan.
”Hutan adalah salah satu penyaring udara alami yang paling efektif,” kata Tingting Fang, salah satu penulis utama studi itu. ”Ketika hutan ditebang atau mengalami degradasi, atmosfer kehilangan penyerap alami penting yang membantu menghilangkan polutan sehingga PM 2,5 dan ozon dapat menumpuk lebih mudah. Akibatnya, hilangnya hutan dapat secara signifikan memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko kesehatan bagi jutaan orang di Asia Tenggara,” ujarnya.
Studi ini juga menemukan bahwa tidak semua penghijauan otomatis memperbaiki kualitas udara. Program reforestasi tertentu justru berkontribusi terhadap peningkatan kematian berlebih di Indonesia hingga 13,5 persen.
Penyebabnya adalah beberapa spesies tanaman melepaskan senyawa organik volatil seperti isoprena yang dapat memicu pembentukan polutan sekunder di atmosfer. Pendinginan permukaan akibat penghijauan tertentu juga dapat meningkatkan pembentukan aerosol pada malam hari.
Artinya, perubahan tutupan lahan mengubah suhu, kecepatan angin, kelembaban, dan deposisi polutan di atmosfer sehingga memperparah pencemaran udara.
Temuan lain yang dinilai penting adalah lebih dari 60 persen dampak perubahan lahan terhadap kualitas udara berlangsung melalui jalur biogeofisika, bukan sekadar emisi langsung. Artinya, perubahan tutupan lahan mengubah suhu, kecepatan angin, kelembaban, dan deposisi polutan di atmosfer sehingga memperparah pencemaran udara.
Implikasinya, pengendalian emisi saja tidak cukup. ”Temuan kami menunjukkan bahwa pengelolaan lahan yang lebih baik dapat memberikan manfaat tambahan yang penting,” kata Yim.
Menurut Yim, melindungi hutan dan perencanaan pengembangan lahan yang cermat dapat membantu meningkatkan kualitas udara, menjaga kesehatan masyarakat, dan mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan di seluruh kawasan.
Selain korban jiwa, Indonesia juga menanggung kerugian ekonomi terbesar di kawasan. Studi tersebut menghitung kerugian akibat kematian dini menggunakan pendekatan VSL mencapai sekitar 2,58 miliar dolar AS.
Sementara kerugian produktivitas ekonomi akibat penyakit dan kematian prematur mencapai 391 juta dolar AS, dengan biaya medis langsung sekitar 13 juta dolar AS. Nilai itu setara sekitar 0,1 persen dari produk domestik bruto Indonesia pada 2018.
Para peneliti juga menyoroti dimensi ketidakadilan antargenerasi. Keputusan penggunaan lahan hari ini, terutama terkait pembukaan hutan dan ekspansi perkebunan industri, akan dibayar oleh generasi mendatang melalui hilangnya kesehatan dan produktivitas ekonomi.
Studi ini menilai kebijakan konservasi hutan seperti REDD+ dan program restorasi lahan seharusnya tidak hanya dihitung dari manfaat karbon, tetapi juga manfaat kesehatan publik dan kualitas udara.
Penelitian tersebut memang memiliki sejumlah keterbatasan, termasuk penggunaan model respons kesehatan dari Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur yang belum sepenuhnya merepresentasikan kondisi kesehatan masyarakat Asia Tenggara. Namun, studi ini disebut sebagai penelitian komprehensif sejauh ini yang menggabungkan dampak biogeofisika dan biogeokimia perubahan penggunaan lahan terhadap kualitas udara di kawasan.
Kesimpulan studi sangat jelas, di Indonesia, perubahan penggunaan lahan bukan lagi sekadar isu lingkungan jangka panjang. Ia telah menjadi krisis kesehatan publik yang berlangsung sekarang dengan menelan korban jiwa ribuan orang, serta membebani generasi mendatang.





