REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyetujui penggunaan insulin basal kerja panjang mingguan milik Novo Nordisk untuk pasien diabetes tipe 2 dewasa. Kehadiran insulin mingguan tersebut dinilai dapat membantu menyederhanakan terapi bagi pasien yang selama ini harus menjalani suntikan insulin harian.
Insulin basal kerja panjang itu digunakan sebagai terapi pendamping diet dan olahraga untuk membantu mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2.
Persetujuan FDA diberikan setelah insulin tersebut menjalani program uji klinis fase 3 yang melibatkan sekitar 2.680 orang dewasa dengan diabetes tipe 2 yang belum terkontrol. Hasil pengujian menunjukkan insulin mingguan mampu membantu menurunkan kadar HbA1c dengan profil keamanan yang secara umum disebut konsisten dengan insulin basal harian.
Presiden dan CEO Novo Nordisk, Mike Doustdar, mengatakan pengembangan insulin basal mingguan menjadi bagian dari upaya menghadirkan inovasi terapi bagi pasien diabetes.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Langkah Novo Nordisk dalam menyediakan insulin basal mingguan mencerminkan komitmen berkelanjutan kami dalam mendukung orang dengan diabetes,” ujar Mike dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Senin (25/5/2026).
Di Indonesia, diabetes masih menjadi salah satu tantangan kesehatan. Data yang disampaikan Novo Nordisk menyebut lebih dari 20 juta orang dewasa di Indonesia hidup dengan diabetes.
Namun, kepatuhan pengobatan pasien disebut masih menjadi kendala. Sebuah studi yang dikutip perusahaan menunjukkan sebagian pasien diabetes tipe 2 merasa terbebani menjalani pengobatan setiap hari, sementara sebagian lainnya mengaku kerap lupa menjalani terapi.
Kondisi tersebut membuat insulin mingguan dinilai berpotensi menjadi alternatif terapi yang lebih praktis sekaligus membantu meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan diabetes.
Selama lebih dari 20 tahun, Novo Nordisk menyatakan telah menghadirkan sejumlah terapi diabetes di Indonesia, termasuk insulin koformulasi dan terapi GLP-1 untuk diabetes tipe 2 maupun obesitas.