Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan harga pangan menjelang Iduladha mulai menguji daya beli masyarakat di tengah permintaan musiman yang meningkat dan distribusi pangan yang belum sepenuhnya efisien.
Lonjakan harga cabai, bawang, telur, ayam hingga daging sapi memperlihatkan bahwa tekanan pangan bukan hanya dipicu konsumsi hari raya, tetapi juga persoalan logistik dan pasokan antardaerah yang masih rapuh.
Tekanan harga mulai terasa di berbagai pasar, terutama wilayah Jabodetabek. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) mencatat harga cabai rawit merah telah mencapai Rp90.000 per kilogram, cabai merah keriting Rp60.000 per kilogram, cabai merah besar Rp65.000 per kilogram, bawang merah Rp57.000 per kilogram, serta bawang putih Rp42.000 per kilogram.
Harga ayam tercatat naik menjadi Rp44.000 per kilogram dan telur menyentuh Rp28.500 per kilogram. Sementara minyak goreng curah berada di kisaran Rp22.000 per liter dan Minyakita masih sulit kembali ke harga eceran tertinggi.
Sekjen Ikappi Reynaldi Sarijowan mengatakan lonjakan harga pangan mulai memasuki fase pertama menjelang Iduladha dan diperkirakan kembali meningkat pada H-1 Lebaran Kurban.
“Puncak-puncaknya nanti fase kedua di H-1 Iduladha. Di fase pertama sudah terjadi H-7, kemudian masuk ke fase kedua akan terjadi lonjakan yang mungkin akan signifikan,” katanya kepada Bisnis, dikutip Senin (25/5/2026).
Menurut Reynaldi, kenaikan tersebut tidak terlepas dari melonjaknya permintaan rumah tangga menjelang hari besar keagamaan. Konsumsi ayam, telur, cabai, hingga bawang biasanya meningkat tajam karena kebutuhan memasak masyarakat ikut naik selama momentum Iduladha.
“Tentu akan ada permintaan yang dua kali lipat lebih besar dibanding hari-hari biasanya,” ujarnya.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Bank Indonesia (PIHPS BI) juga menunjukkan kenaikan harga terjadi hampir di seluruh kelompok pangan utama.
Harga bawang merah melonjak 15,05% menjadi Rp54.560 per kilogram, bawang putih naik 10,35% menjadi Rp42.650 per kilogram, sementara cabai merah besar naik 38,04% menjadi Rp76.200 per kilogram.
Cabai merah keriting bahkan naik 45,55% menjadi Rp76.850 per kilogram. Kenaikan juga terjadi pada cabai rawit merah yang mencapai Rp81.300 per kilogram.
Di kelompok protein hewani, harga daging sapi kualitas I naik menjadi Rp150.750 per kilogram, ayam ras segar naik 2,59% menjadi Rp39.650 per kilogram, sedangkan telur ayam ras naik 8,17% menjadi Rp33.100 per kilogram.
Harga pangan memperlihatkan kenaikan menjelang Iduladha
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai kenaikan harga pangan menjelang Iduladha masih tergolong wajar karena dipicu pola konsumsi musiman. Namun dia mengingatkan risiko inflasi pangan dapat membesar apabila distribusi dan pasokan tidak terkendali.
“Yang perlu diwaspadai adalah jika kenaikan berlangsung terlalu cepat dan tidak terkendali di daerah-daerah yang pasokannya terbatas,” katanya.
Rizal menjelaskan komoditas yang paling sensitif terhadap lonjakan permintaan Iduladha adalah protein hewani seperti sapi, kambing, ayam, dan telur, serta komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah.
Berbeda dengan Idulfitri yang mendorong hampir seluruh konsumsi rumah tangga, menurutnya Iduladha lebih terkonsentrasi pada peningkatan kebutuhan protein hewani dan aktivitas memasak pasca-penyembelihan kurban.
Meski demikian, kondisi daya beli masyarakat dinilai belum sepenuhnya pulih. Rumah tangga tetap berusaha memenuhi kebutuhan kurban dan konsumsi pangan, tetapi mulai menekan pengeluaran nonprioritas.
“Masyarakat tetap berusaha memenuhi kebutuhan konsumsi Iduladha dan kurban, tetapi pola belanjanya kini lebih hati-hati,” ujarnya.
Dia menilai tekanan harga saat ini bukan hanya dipicu lonjakan permintaan, tetapi juga persoalan distribusi pangan yang belum efisien. Biaya logistik, distribusi antardaerah, hingga keterbatasan cold chain masih menjadi hambatan utama menjaga stabilitas harga pangan.
“Kenaikan harga saat ini lebih banyak dipicu kombinasi permintaan musiman Iduladha dan distribusi pasokan yang belum merata,” katanya.
Rizal juga mengingatkan kenaikan harga cabai dan daging sangat sensitif terhadap persepsi inflasi masyarakat. Ketika harga cabai dan daging melonjak, masyarakat biasanya langsung merasakan tekanan biaya hidup meskipun kenaikannya bersifat musiman.
Jika harga daging terus naik, menurutnya masyarakat berpotensi mengalihkan konsumsi ke protein yang lebih murah seperti ayam dan telur. Pergeseran pola konsumsi tersebut mulai terlihat di sejumlah pasar tradisional.
Di sisi pemerintah daerah, Pemprov DKI Jakarta menyebut kenaikan harga pangan saat ini dipicu meningkatnya permintaan sekaligus gangguan cuaca. Curah hujan tinggi dinilai ikut memengaruhi distribusi dan pasokan beberapa komoditas hortikultura.
Staf Khusus Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta Bidang Komunikasi Publik Cyril Raoul Hakim mengatakan pemerintah daerah terus melakukan pengawasan distribusi pangan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas).
“Pengawasan harian dilakukan terhadap pasokan dan distribusi komoditas strategis di pasar-pasar utama Jakarta,” katanya dalam keterangan resmi.
Pemerintah juga meminta masyarakat tidak melakukan panic buying agar lonjakan permintaan tidak semakin memperbesar tekanan harga di pasar.
Di tengah kenaikan harga tersebut, risiko inflasi pangan dinilai masih cukup terbuka hingga mendekati Iduladha. Apalagi sejumlah komoditas pangan saat ini masih menghadapi persoalan distribusi dan pasokan antarwilayah yang belum sepenuhnya stabil.
Rizal menilai pemerintah perlu fokus menjaga kelancaran distribusi hewan kurban dan pangan strategis agar lonjakan harga tidak berubah menjadi tekanan inflasi yang lebih luas.
“Pemerintah perlu memastikan distribusi hewan kurban, kelancaran logistik antardaerah, serta mengantisipasi spekulasi harga,” katanya.
Jika distribusi terganggu dan permintaan terus meningkat hingga hari raya, tekanan harga pangan diperkirakan masih akan berlanjut pada pekan depan.





