REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Talasemia masih menjadi tantangan kesehatan genetik di Indonesia. Sekitar 2.500 bayi lahir setiap tahun dengan talasemia mayor yang membutuhkan transfusi darah seumur hidup.
Kondisi ini mendorong penguatan upaya deteksi dini dan skrining sebagai langkah pencegahan utama, di tengah masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pembawa sifat talasemia. Sysmex Indonesia bersama Kementerian Kesehatan, PMI Pusat, BPJS Kesehatan, dan Perhimpunan Orang Tua Penyandang Talasemia Indonesia (POPTI) menggelar rangkaian kegiatan “United for Thalassemia” dalam momentum World Thalassemia Day 2026.
- Skrining Mandiri HPV Dinilai Bisa Perluas Deteksi Dini Kanker Serviks
- Deteksi Dini Penyakit Kronis Masih Rendah, Ribuan Warga Ikuti Cek Kesehatan Gratis
Talasemia merupakan kelainan genetik yang memengaruhi pembentukan hemoglobin dalam sel darah merah, sehingga sel lebih mudah rusak dan menyebabkan anemia dengan tingkat keparahan berbeda. Tanpa skrining, pembawa sifat talasemia dapat terlihat sehat dan tetap berisiko menurunkan kondisi tersebut kepada anaknya.
Sepanjang Mei 2026, rangkaian kegiatan meliputi webinar nasional, aksi donor darah, dan kampanye digital untuk meningkatkan kesadaran publik. Webinar nasional pada 19 Mei menjadi forum diskusi lintas pemangku kepentingan yang membahas strategi pengendalian talasemia, akses layanan dalam JKN, penguatan deteksi dini, serta keberlanjutan pasokan darah bagi pasien.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni mengatakan, deteksi dini, edukasi, dukungan terhadap penyandang talasemia, serta kolaborasi antar pemangku kepentingan adalah bagian penting dalam memperkuat penanggulangan talasemia di Indonesia. “Tanpa skrining, talasemia dapat terus berulang antar generasi,” kata Andi.
Di Indonesia, prevalensi pembawa sifat talasemia tercatat cukup tinggi, dengan talasemia-α mencapai 2,6–11,0 persen populasi, talasemia-β sekitar 3,0–10,0 persen, dan HbE hingga 1,5–36 persen. Kondisi ini memperkuat urgensi skrining terutama pada remaja, calon pasangan, dan kelompok berisiko.
Selain edukasi, rangkaian kegiatan juga mencakup donor darah untuk mendukung kebutuhan pasien talasemia mayor yang membutuhkan transfusi rutin. Ketersediaan darah yang aman dan sesuai menjadi faktor penting dalam tata laksana jangka panjang penyakit ini.
Kampanye digital turut digelar pada 16–30 Mei 2026 melalui kompetisi media sosial yang mengajak masyarakat berbagi cerita inspiratif tentang dukungan keluarga, tenaga kesehatan, serta pentingnya skrining dan edukasi.
Melalui rangkaian ini, kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat memperkuat kesadaran publik bahwa talasemia dapat dicegah melalui skrining dini dan edukasi berkelanjutan.




