Sebuah studi mengungkapkan bahwa populasi serangga di dunia terus menyusut dan kondisi ini mulai meninggalkan celah serius bagi ketahanan pangan global.
Selama tiga dekade terakhir, jumlah serangga dilaporkan menurun dengan laju mengkhawatirkan, bahkan mencapai 1 persen per tahun menurut sejumlah estimasi. Penurunan drastis ini sampai dijuluki sebagian ilmuwan sebagai kiamat serangga.
Banyak serangga berperan sebagai penyerbuk tanaman pangan. Karena itu, berkurangnya populasi mereka berdampak pada kesehatan ekosistem hingga hasil pertanian. Namun selama ini, dampak tersebut sulit diukur secara langsung oleh ilmuwan.
Kini, melalui studi baru yang dipublikasikan pada 6 Mei 2026 di jurnal Nature, para peneliti berhasil mengukur dampak penurunan serangga penyerbuk terhadap kesehatan manusia untuk pertama kalinya.
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan meneliti hubungan antara populasi penyerbuk liar, hasil panen, dan pola makan manusia di 10 desa pertanian di Nepal selama satu tahun. Sebagian besar makanan yang dikonsumsi warga desa berasal dari hasil pertanian lokal.
Tim peneliti melakukan survei penyerbuk setiap dua minggu untuk mengetahui jenis serangga serta jumlahnya yang mendatangi tanaman pertanian. Data itu kemudian dibandingkan dengan kasus malnutrisi yang terjadi di masyarakat.
Hasilnya, serangga penyerbuk diperkirakan berkontribusi terhadap 44 persen pendapatan pertanian warga desa dan lebih dari 20 persen asupan nutrisi penting mereka, termasuk vitamin A, vitamin E, dan folat.
Ketika jumlah dan keragaman serangga penyerbuk menurun, pendapatan warga dan kualitas pola makan mereka juga ikut merosot.
“Lebih dari setengah anak-anak dalam penelitian kami memiliki tinggi badan di bawah standar usianya, yang sebagian besar dipicu pola makan buruk akibat ketergantungan pada sayuran, kacang-kacangan, dan buah-buahan yang membutuhkan penyerbuk serangga,” kata Naomi Saville, salah satu penulis studi dari University College London Institute for Global Health.
Tim peneliti kemudian memproyeksikan data tersebut ke masa depan dengan asumsi jumlah penyerbuk terus menurun. Jika praktik pertanian tidak berubah, mereka memperkirakan asupan vitamin A dan folat warga desa akan turun 7 persen pada 2030.
Kekurangan nutrisi tersebut dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga cacat lahir.
Meski penelitian ini hanya dilakukan di komunitas pertanian Nepal, hasilnya dianggap memberi gambaran tentang dampak tersembunyi dari hilangnya penyerbuk di seluruh dunia. Sekitar 2 miliar orang di dunia bergantung pada pertanian skala kecil seperti desa-desa dalam penelitian tersebut.
Sekitar tiga perempat tanaman pangan global juga membutuhkan bantuan serangga untuk penyerbukan. Bahkan beberapa komoditas seperti kopi, almond, dan cokelat sepenuhnya bergantung pada serangga penyerbuk agar bisa bertahan. Jika tren ini terus berlanjut, kemampuan petani untuk memproduksi pangan dalam skala memadai bisa terancam.
Meski demikian, penelitian ini juga menemukan sejumlah solusi untuk membantu memutus tren penurunan tersebut. Berdasarkan model yang dibuat tim peneliti, langkah sederhana seperti menanam bunga liar lokal di dekat lahan pertanian, melindungi lebah liar, dan mengurangi penggunaan pestisida dapat meningkatkan populasi penyerbuk.
Upaya-upaya itu diperkirakan mampu meningkatkan pendapatan pertanian hingga 30 persen di atas level saat ini, sekaligus menaikkan asupan vitamin A dan folat masing-masing sebesar 5 persen dan 9 persen.
“Keanekaragaman hayati bukanlah kemewahan,” ujar Thomas Timberlake, salah satu penulis studi lain yang merupakan ahli ekologi dari University of York di Inggris. “Itu adalah fondasi kesehatan, nutrisi, dan mata pencaharian manusia.”





