Idul Adha Gaza Tanpa Kurban, Harga Tembus Rp100 Juta

celebesmedia.id
3 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Menjelang Idul Adha yang identik dengan kebersamaan dan suka cita di berbagai negara Muslim, suasana berbeda justru dirasakan warga Palestina di Jalur Gaza.

Perang berkepanjangan dan krisis kemanusiaan membuat banyak keluarga kehilangan tradisi kurban yang selama ini menjadi bagian penting perayaan hari raya.

Bagi Ahmed Nashwan, warga Gaza, Idul Adha kini bukan lagi momen penuh kebahagiaan seperti tahun-tahun sebelumnya. Selama tiga tahun terakhir, dirinya tidak lagi pergi bersama saudara dan anak-anaknya ke pasar ternak untuk memilih hewan kurban.

“Sebelum perang, Idul Adha merupakan momen penuh kebahagiaan bagi kami,” kata Nashwan kepada Xinhua, sebagaimana dikutip dari Antara, Selasa (26/5).

“Kami biasanya berkumpul sebagai keluarga untuk memilih hewan kurban, mempersiapkan hari raya, dan membagikan daging kepada kerabat serta keluarga miskin,” lanjutnya.

Idul Adha merupakan salah satu hari besar umat Islam yang identik dengan penyembelihan hewan kurban bagi mereka yang mampu. Namun di Gaza, tradisi tersebut perlahan menghilang akibat sulitnya akses terhadap ternak dan memburuknya kondisi ekonomi masyarakat.

“Kini, hari raya itu bagi kami hanya tinggal doa dan kenangan,” ujar Nashwan. “Tidak ada ternak yang masuk ke Gaza, dan sebagian besar orang hampir tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.”

Meski gencatan senjata antara Hamas dan Israel disebut telah tercapai pada Oktober 2025, pembatasan ketat di Jalur Gaza masih berlangsung. Arus barang masuk, termasuk hewan ternak seperti domba dan sapi untuk kurban, sangat terbatas sehingga jumlahnya jauh dari kebutuhan warga.

Direktur Kamar Dagang Gaza, Maher al-Tabbaa, mengungkapkan bahwa harga hewan kurban melonjak tajam sejak perang pecah. 

Jika sebelumnya seekor hewan kurban dijual sekitar 500 dolar AS, kini harganya mencapai 6.000 hingga 7.000 dolar AS atau setara lebih dari Rp100 juta.

Kondisi itu membuat banyak keluarga tidak lagi mampu membeli hewan kurban. Mohammed al-Hissi, warga Gaza City yang memiliki empat anak, mengatakan suasana Idul Adha kini berubah drastis dibanding masa sebelum perang.

“Idul Adha dulunya selalu menjadi salah satu masa paling membahagiakan bagi keluarga kami. Anak-anak saya biasanya bangun pagi, mengenakan pakaian baru, dan menemani saya mengunjungi kerabat setelah kami membagikan daging,” katanya.

“Tetapi saat ini, semuanya telah berubah akibat perang dan memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza. Sebagian besar keluarga tidak lagi dapat memikirkan untuk membeli hewan kurban karena harganya sangat tinggi dan masyarakat telah kehilangan pendapatan serta rumah mereka,” lanjutnya.

Di wilayah Gaza selatan, Mohammed Shallah mengenang tradisi Idul Adha bersama ayahnya yang tewas akibat serangan udara Israel di Khan Younis. Kini, pria berusia 22 tahun itu mengaku tidak lagi mampu melanjutkan tradisi keluarga mereka.

“Dulu, kami pergi bersama ayah dan kerabat saya untuk memilih hewan kurban,” kata Shallah kepada Xinhua. “Bahkan jika ternak masih bisa ditemukan, harganya sangat mahal. Saya tidak lagi mampu membeli hewan kurban sama sekali.”

Kelangkaan hewan ternak juga dibenarkan pedagang ternak Salah Afana. Menurutnya, banyak hewan mati akibat serangan udara, kekurangan pakan, hingga lumpuhnya layanan kesehatan hewan selama perang berlangsung.

“Pada saat bersamaan, tidak ada ternak yang masuk ke Gaza akibat penutupan perlintasan,” ujarnya.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertanian yang dikelola Hamas, Raafat Asaliya, menyebutkan bahwa sebelum perang, Gaza rutin mengimpor puluhan ribu sapi dan domba menjelang Idul Adha setiap tahunnya.

“Dengan adanya perang dan penutupan perlintasan, impor berhenti total,” katanya. Banyak peternakan, kandang, dan gudang pakan juga dilaporkan hancur akibat konflik.

Krisis berkepanjangan ini membuat warga Gaza kembali menjalani Idul Adha tanpa kurban untuk tahun ketiga berturut-turut. 

Di tengah keterbatasan dan kehilangan, sebagian warga hanya bisa mempertahankan doa dan kenangan tentang hari raya yang dulu penuh kebersamaan.

Sumber: Xinhua - Antara


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menahan Badai Geopolitik, di Balik Langkah Berani Bank Indonesia Menaikkan BI-Rate ke 5,25%
• 10 jam laluberitajatim.com
thumb
47 Sampel Pangan Diambil dari Pasar dan Mal Jelang Iduladha
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gagal Pertahankan Posisi 3 Besar, Hendri Susilo Yakin Malut United Akan Lebih Baik Musim Depan
• 13 jam lalubola.com
thumb
Masih Ingat Park Hang-seo? Eks Rival Terberat Shin Tae-yong Resmi Comeback Jadi Pelatih Klub Thailand
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Kuliah Gratis 4 Tahun, Universitas Mercu Buana Buka Pendaftaran Beasiswa OSC 2026
• 5 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.