Iwan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Diseperindag) Provinsi Jawa Timur mengungkapkan, peningkatan pertumbuhan ekonomi di sektor otomotif selama tiga tahun terakhir.
“Pada tahun 2023 tercatat sebesar Rp140,84 triliun meningkat menjadi Rp149,67 triliun pada tahun 2024 dan pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp148,58 triliun,” ujarnya saat membuka acara Indonesia International Motor Show (IIMS) Surabaya 2026 di Grand City Convex, Selasa (26/5/2026).
“Angka-angka ini mencatat cerminkan betapa besarnya peran industri otomotif dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat Jawa Timur,” tambahnya.
Sementara ekspor industri otomotif Jawa Timur juga menunjukkan tren positif, terus meningkat tiga tahun terakhir.
Pada 2023, nilai ekspor mencapai 447,17 juta dolar AS. Kemudian pada 2024 tercatat sebesar 442,25 juta dolar AS. Lalu pada tahun 2025 ekspor otomotif kita melonjak sangat signifikan menjadi 510,22 juta dolar AS.
“Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa dan patut kita banggakan bersama produk-produk otomotif Jawa Timur telah menjangkau pasar utama seperti Jepang Amerika Serikat dan Timur Leste,” sebut Iran.
Sementara dari sisi impor industri otomotif, pada tahun 2023 tercatat sebesar 319,11 juta dolar AS, turun menjadi 272,18 juta dolar AS pada tahun 2024, dan tahun 2025 tercatat sebesar 340,68 juta dolar AS.
“Jawa Timur mengelola arus masuk dengan baik,” katanya.
“Negara asal impor Amerika Serikat, China, dan Jepang,” tambahnya lagi.
Per Mei 2026, ekosistem industri otomotif Jawa Timur termasuk industri karoseri dan suku cadang berkembang menjadi 183 unit usaha. Dari jumlah tersebut terdiri dari 66 unit usaha besar, 19 usaha menengah dan 97 usaha kecil.
“Keberagaman skala usaha ini mencerminkan ekosistem industri yang inklusif dan saling menopang dari perusahaan multinasional hingga pelaku usaha kecil yang menjadi tulang punggung perekonomian rakyat. Di tengah capaian yang membanggakan ini, kita juga harus mencermati tantangan yang yang ada,” ungkapnya.
Ia menyebut, data Purchasing Manager Index PMI yang dirilis S&P Global mencatat indeks berada di level 49,1 pada April 2026. Sedikit di bawah ambang batas ekspansi 50.
“Ini mengindikasikan bahwa dunia industri masih menghadapi tekanan akibat perlambatan global, disrupsi rantai pasok hingga dinamika geopolitik internasional,” ungkapnya.
Iwan menilai, momentum IIMS Surabaya 2026 menjadi sangat penting sebagai ruang kolaborasi untuk membangun optimisme memperluas jejaring bisnis.
Kemudian mengenalkan inovasi teknologi kendaraan, misalnya kendaraan ramah lingkungan serta memperkuat industri otomotif nasional agar semakin kompetitif dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Daswar Marpaung Presiden Direktur Dyandra Promosindo memprediksi penjualan mobil di Surabaya dan Jawa Timur, akan mengalami peningkatan pada 2026.
Menurutnya, Surabaya dan Jakarta menjadi barometer penting pertumbuhan industri otomotif Indonesia.
“Barometer kita itu Surabaya dan Jakarta untuk industri otomotif di Indonesia 2026, saya kira ini lebih baik daripada tahun lalu. Kita optimis dapat menarik 32 ribu pengunjung dengan target transaksi Rp265 miliar,” ujar Daswar.
“Setelah sukses digelar di Jakarta dan Surabaya, rencananya IIMS 2026 akan berlanjut ke Balikpapan dan Manado. Tahun ini lebih dari 40 brand yang kita ajak berpartisipasi,” tuturnya. (lta/saf/ipg)




