Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Selasa (26/5/2026), sementara pasar saham bergerak beragam di tengah harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, optimisme itu tertahan setelah muncul serangan baru Amerika Serikat di Timur Tengah, yang kembali memicu ketidakpastian pasar.
Perunding utama Iran dan Menteri Luar Negeri Iran dilaporkan berada di Doha untuk bertemu Perdana Menteri Qatar guna membahas potensi kesepakatan dengan Amerika Serikat demi mengakhiri perang. Meski demikian, Washington dan Teheran sama-sama meredam ekspektasi bahwa terobosan damai akan segera tercapai.
Di saat yang sama, surat kabar Nikkei melaporkan kedua pihak tengah membahas rencana pembukaan Selat Hormuz sekitar 30 hari setelah tercapai kesepakatan penghentian permusuhan. Namun, di tengah proses diplomatik itu, pasukan Amerika Serikat pada Senin melancarkan serangan di Iran selatan terhadap sejumlah target, termasuk kapal yang diduga hendak memasang ranjau dan lokasi peluncur rudal. Amerika Serikat menyebut langkah itu sebagai tindakan defensif.
Perkembangan tersebut mendorong harga minyak Brent naik lebih dari 1 persen pada awal perdagangan Asia menjadi 97,32 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat tipis dibanding harga terakhir pada Senin, meski masih lebih rendah 5,5 persen dari posisi penutupan Jumat. Tidak ada harga penyelesaian pada Senin karena libur Memorial Day di Amerika Serikat.
“Saya agak skeptis. Kita terus diberi tahu bahwa kesepakatan sudah dekat, tetapi seperti apa bentuk kesepakatannya? Itu yang sangat penting. Kapan Selat Hormuz akan dibuka? Masih banyak yang belum kita ketahui,” kata Joseph Capurso, analis Commonwealth Bank of Australia seperti dilaporkan Reuters.
Di pasar saham, pergerakan bursa utama terpantau bervariasi. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,8 persen, sementara Nikkei Jepang turun 0,2 persen. Kontrak berjangka Nasdaq naik 0,9 persen dan kontrak berjangka S&P 500 bertambah 0,68 persen. Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 turun 0,36 persen, FTSE menguat 0,4 persen, dan DAX melemah 0,43 persen.
“Pasar ingin percaya bahwa perang ini akan segera berakhir, karena jika tidak, dampaknya buruk bagi ekonomi dunia. Selama ini ekonomi global masih punya bantalan dari penurunan persediaan, tetapi persediaan tidak bisa terus-menerus dikuras,” kata Capurso.
Di pasar mata uang, dolar Amerika Serikat cenderung stabil karena permintaan terhadap aset aman kembali meningkat, meski nilainya masih cukup jauh dari level tertinggi enam pekan yang sempat dicapai pekan lalu. Euro turun 0,06 persen menjadi 1,1636 dolar AS, pound sterling melemah ke 1,3498 dolar AS, sedangkan dolar terhadap yen relatif datar di level 158,95.
Pasar obligasi juga cenderung stabil setelah tekanan jual pada pekan lalu. Saat itu, investor mengkhawatirkan harga energi yang tinggi dalam jangka panjang dapat kembali memicu inflasi dan mendorong kenaikan suku bunga di berbagai negara. Imbal hasil surat utang Amerika Serikat tenor dua tahun tercatat hampir tidak berubah di 4,0612 persen, sementara tenor 10 tahun turun ke 4,5024 persen.
“Kita kemungkinan akan melihat penurunan imbal hasil secara berkala ketika risiko geopolitik mereda. Namun, risiko inflasi dan fiskal kemungkinan lebih bertahan lama,” kata Eric Robertsen, Kepala Riset Global sekaligus Kepala Strategi Standard Chartered.
Menurut Robertsen, gangguan pasokan komoditas umumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih. Di sisi lain, dukungan fiskal yang besar juga berpotensi memperburuk neraca pemerintah dan meningkatkan kebutuhan pinjaman di tengah biaya pendanaan yang masih tinggi. Sementara itu, di pasar komoditas lain, harga emas spot turun 0,5 persen menjadi 4.545,90 dolar AS per ons.(iss/ham)




