JAKARTA, KOMPAS – Jemaah haji dari seluruh dunia termasuk Indonesia tengah menjalani wukuf di Arafah yang menjadi rangkaian puncak ibadah haji. Jemaah haji pun diingatkan untuk memperbanyak istighfar dan memanfaatkan momentum wukuf di Arafah sebagai kesempatan memohon ampunan kepada Allah SWT.
Hal tersebut disampaikan Guru Besar Sosiologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, KH Asep Saifuddin Chalim, dalam khutbah wukuf, di tenda misi haji Indonesia di Arafah, Arab Saudi, yang disiarkan secara daring, pada Selasa (26/5/2026).
Dalam puncak dari rangkaian ibadah haji tersebut, Asep menyampaikan khutbah bertema “Kemaslahatan Bangsa dan Haji Mabrur: Menilik Esensi Tri Sukses Haji.”
Wukuf di tenda misi haji Indonesia di Arafah itu juga dihadiri Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, Ketua Tim Pengawas Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Cucun Ahmad Syamsurijal, Duta Besar RI untuk Arab Saudi Abdul Aziz Ahmad, dan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar.
Asep menyampaikan, ibadah haji merupakan panggilan dan Allah SWT akan memberikan jamuan kepada tamu-tamunya. Disebutkan bahwa setiap jemaah yang memohon ampun kepada Allah akan diampuni dosanya, sementara doa dan permohonan yang dipanjatkan selama menjalankan ibadah haji juga akan dikabulkan oleh Allah SWT.
“Pada kesempatan wukuf di Arafah kita harus banyak meminta ampunan dan banyak beristighfar. Namun, syarat istighfar itu harus kita penuhi,” ujarnya.
Menurut Asep, istighfar tidak cukup hanya diucapkan, tetapi juga harus disertai dengan pemenuhan syarat-syarat tertentu. Salah satu syarat utama tersebut yakni seseorang harus berkomitmen meninggalkan kebiasaan maksiat yang selama ini dilakukan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya menyesali perbuatan yang telah dilakukan sebagai bagian dari taubat yang sungguh-sungguh. Kemudian setiap orang juga harus berjanji untuk tidak mengulangi kembali perbuatan tersebut di masa mendatang.
Dalam khutbahnya, Asep juga mengajak jemaah untuk menyempurnakan permohonan ampunan kepada Allah SWT dengan meraih predikat haji mabrur. Ia menjelaskan ada tiga golongan yang dosanya diampuni secara total oleh Allah, yakni orang yang masuk Islam, orang yang berhijrah, dan mereka yang memperoleh haji mabrur.
Namun, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan agar ibadah haji menjadi mabrur, di antaranya memperbaiki niat, menggunakan harta yang halal, dan mengikuti manasik dengan benar. Jemaah juga harus memastikan biaya yang digunakan untuk berhaji berasal dari sumber halal serta menjalankan manasik sesuai tuntunan yang telah disiapkan.
Selain itu, Asep menyinggung salah satu rukun haji yakni tawaf atau mengelilingi Ka’bah yang mengandung makna mendalam tentang perjalanan hidup manusia yang terus berputar. Putaran mengelilingi Ka’bah menjadi simbol agar manusia senantiasa kembali mendekat kepada Allah SWT dalam setiap fase kehidupan.
Kesadaran hidup yang terus berputar akan membuat seseorang lebih siap menghadapi perubahan keadaan. Ketika berada di atas lalu jatuh ke bawah, seseorang akan memahami bahwa kondisi tersebut merupakan bagian dari dinamika kehidupan yang wajar.
Pada kesempatan wukuf di Arafah kita harus banyak meminta ampunan dan banyak beristighfar. Namun, syarat istighfar itu harus kita penuhi.
Asep menuturkan, perubahan status sosial dan ekonomi kerap menimbulkan kesedihan bagi orang yang tak siap menerimanya. Namun, apabila seseorang memahami hidup akan terus berputar, ia akan mampu menghadapi tiap kondisi dengan lebih tenang tanpa mengalami goncangan besar.
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf menegaskan pentingnya mewujudkan tri sukses haji dalam penyelenggaraan ibadah haji 2026. Tiga pilar tersebut meliputi sukses ritual, sukses ekosistem ekonomi, serta sukses peradaban dan keadaban.
Dalam konsep tersebut, sukses ritual diarahkan agar seluruh jemaah dapat menjalankan rangkaian ibadah haji secara sah, sehat, tertib, dan sempurna. Kemudian sukses ekosistem ekonomi ditujukan untuk memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan umat.
Sementara sukses peradaban dan keadaban menekankan pembentukan karakter jemaah yang disiplin, toleran, dan mencerminkan nilai luhur bangsa selama berada di Tanah Suci.
Irfan mengingatkan bahwa ibadah haji menjadi momentum penting yang mempertemukan umat Islam dari berbagai negara tanpa sekat perbedaan. Jutaan jemaah hadir dengan pakaian, doa, dan harapan yang sama di hadapan Allah SWT.
Irfan mengungkapkan lebih dari 200.000 anggota jemaah haji Indonesia telah tiba di Arab Saudi pada musim haji tahun ini. Selain itu, ribuan petugas disiagakan untuk mendukung layanan sekaligus perlindungan bagi jemaah. Pemerintah pun terus berupaya menjaga kualitas pelayanan hingga seluruh rangkaian operasional haji selesai dilaksanakan.
Di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang dinamis, pemerintah bersyukur proses kedatangan jemaah Indonesia berjalan lancar. Pemerintah juga mengedepankan pelayanan yang ramah lansia, ramah disabilitas, dan ramah kemanusiaan, disertai dukungan layanan konsumsi, transportasi, dan kesehatan untuk menjaga kenyamanan jemaah.





