Video Putin Mendadak Dihapus Kremlin, Bersamaan Rusia Ancam Bombardir Kyiv Besar-Besaran

erabaru.net
1 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada 25 Mei 2026, situasi perang Rusia–Ukraina kembali memasuki fase yang sangat berbahaya setelah Rusia secara terbuka mengeluarkan peringatan keras kepada warga negara asing dan staf diplomatik internasional agar segera meninggalkan Kyiv. Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran global bahwa Moskow kemungkinan sedang mempersiapkan gelombang serangan udara besar-besaran baru terhadap ibu kota Ukraina.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa militer Rusia akan melakukan serangan sistematis terhadap fasilitas industri pertahanan, pusat pengambilan keputusan strategis, serta fasilitas komando militer Ukraina yang berada di Kyiv. Pernyataan itu dianggap tidak biasa karena jarang sekali Moskow secara terbuka memberi sinyal sedetail itu sebelum operasi militer besar dilakukan.

Peringatan tersebut juga disampaikan langsung kepada pihak Amerika Serikat. Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, melakukan pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Dalam percakapan itu, Rusia memberitahukan bahwa mereka telah mengambil keputusan untuk menyerang berbagai fasilitas yang terkait dengan militer Ukraina di Kyiv.

Moskow juga meminta Washington memperhatikan keselamatan warga negara Amerika dan staf diplomatik AS yang masih berada di ibu kota Ukraina tersebut.

Langkah Rusia ini langsung memicu spekulasi internasional mengenai kemungkinan eskalasi besar yang dapat mengguncang situasi geopolitik global. Pengamat politik internasional, Mario Nawfal, bahkan memperingatkan dampak yang lebih luas terhadap stabilitas dunia.

Ia menyatakan bahwa jika Kyiv benar-benar berubah menjadi “lautan api”, maka dampaknya dapat meluas hingga mempengaruhi proses negosiasi internasional lain, termasuk pembicaraan sensitif mengenai Iran dan Timur Tengah.

Rusia Klaim Balasan atas Serangan Ukraina di Luhansk

Pemerintah Rusia menyebut ancaman serangan besar tersebut merupakan balasan atas serangan drone Ukraina terhadap sebuah asrama mahasiswa di wilayah Luhansk yang saat ini dikuasai Rusia.

Namun pihak Ukraina membantah tuduhan tersebut. Militer Ukraina menegaskan bahwa target sebenarnya adalah markas pasukan elite pengendali drone Rusia yang beroperasi di wilayah tersebut.

Sementara itu, pemerintah Ukraina mengonfirmasi bahwa gelombang terbaru serangan rudal dan drone Rusia telah menyebabkan sedikitnya dua orang tewas dan 91 orang lainnya terluka di Kyiv dan wilayah sekitarnya.

Beberapa distrik di Kyiv dilaporkan mengalami kerusakan berat. Gedung apartemen, fasilitas sipil, dan jaringan infrastruktur kota ikut terdampak akibat ledakan serta kebakaran yang terjadi setelah serangan.

Banyak analis keamanan menilai bahwa perintah terbuka Rusia agar warga asing segera meninggalkan Kyiv merupakan sinyal serius bahwa operasi udara besar mungkin akan segera dimulai dalam waktu dekat.

Kaliningrad Ikut Siaga Drone untuk Pertama Kalinya

Di tengah meningkatnya intensitas perang, wilayah eksklave Rusia, Kaliningrad, juga mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan baru.

Untuk pertama kalinya sejak perang berlangsung, otoritas Kaliningrad mengeluarkan peringatan bahaya serangan drone. Bandara Khrabrovo bahkan sempat menghentikan seluruh aktivitas penerbangan, termasuk lepas landas dan pendaratan.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman drone kini mulai menjangkau wilayah domestik Rusia yang sebelumnya relatif aman dari serangan langsung.

Ukraina Kembangkan Senjata “Lima”, Rudal Rusia Mulai Kehilangan Arah

Di sisi lain, Ukraina disebut berhasil menemukan metode pertahanan murah tetapi sangat efektif untuk menghadapi serangan drone dan rudal Rusia.

Sistem anti-drone bernama “Lima”, yang dikembangkan perusahaan teknologi pertahanan Ukraina, dikabarkan mampu menciptakan gangguan sinyal satelit berskala besar.

Teknologi tersebut bekerja dengan meniru sinyal navigasi satelit yang digunakan drone, rudal jelajah, rudal balistik, hingga bom luncur Rusia. Akibatnya, sistem senjata Rusia dapat diarahkan menuju koordinat palsu sehingga meleset dari target sebenarnya.

Para pengamat militer menilai teknologi peperangan elektronik seperti ini kini mulai menjadi salah satu elemen paling menentukan dalam perang modern.

Moskow Lumpuh oleh Gangguan GPS dan Internet

Investigasi media Inggris, The Guardian, mengungkap bahwa pemerintah Rusia dalam beberapa bulan terakhir terus memperluas gangguan terhadap sistem navigasi satelit dan komunikasi di Moskow.

Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah drone Ukraina menggunakan sistem GPS dalam melancarkan serangan ke wilayah Rusia.

Akibatnya, banyak warga Moskow mengeluhkan telepon genggam dan aplikasi peta digital mereka sering tidak berfungsi. Sebagian masyarakat bahkan mulai kembali menggunakan peta kertas untuk bepergian di dalam kota.

Operasi pengendalian jaringan ini disebut dipimpin oleh Departemen Kedua Dinas Keamanan Federal Rusia atau Federal Security Service, yang bertugas menangani ancaman sabotase dan keamanan internal.

Pemerintah Rusia juga semakin sering memutus jaringan internet seluler di pusat kota Moskow dengan alasan keamanan nasional.

Namun kebijakan tersebut mulai memicu ketidakpuasan publik. Di kota-kota besar seperti Saint Petersburg, warga mulai memprotes pembatasan internet karena mengganggu aktivitas sehari-hari dan bisnis.

Kalangan pengusaha Rusia bahkan mengeluhkan bahwa pemadaman jaringan telah menyebabkan kerugian hingga miliaran rubel.

Elite Kremlin Mulai Kehilangan Kepercayaan terhadap Putin

Bersamaan dengan meningkatnya tekanan eksternal, situasi internal di lingkaran elite Kremlin juga disebut semakin tidak stabil.

Laporan terbaru dari The Guardian menyebut sejumlah sumber dekat Kremlin, pebisnis Rusia, hingga kalangan intelijen Barat mengungkap adanya peningkatan ketidakpuasan terhadap Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Menurut sumber tersebut, Putin kini dianggap semakin tertutup dan semakin sulit menerima masukan dari lingkaran elite di sekitarnya.

Meski ekonomi Rusia terus melambat dan perang Ukraina belum menunjukkan kepastian akhir, Putin disebut tetap bersikeras melanjutkan operasi militer dalam skala besar.

Kondisi itu membuat sebagian elite Rusia mulai kehilangan harapan.

Seorang tokoh bisnis Rusia bahkan mengatakan bahwa semakin banyak orang di Moskow merasa “sesuatu yang buruk akan segera terjadi.”

Para analis politik menilai bahwa ancaman terbesar terhadap kekuasaan Putin suatu hari nanti kemungkinan bukan berasal dari demonstrasi rakyat, melainkan dari dalam lingkaran inti kekuasaan Kremlin sendiri.

Kondisi Kesehatan Putin Kembali Jadi Sorotan

Di tengah meningkatnya tekanan politik dan militer, kondisi kesehatan Putin kembali menjadi perhatian publik internasional.

Pada 19–20 Mei 2026, setelah menyelesaikan kunjungan luar negeri ke Tiongkok, Putin menghadiri pertemuan dengan para tentara garis depan di Kremlin.

Dalam rekaman video yang sempat dipublikasikan media resmi Rusia, Putin terlihat mencoba memimpin seruan “Ura!” sebanyak tiga kali. Namun suaranya terdengar lemah dan terputus-putus.

Ketika berdiri untuk kembali meneriakkan slogan tersebut, Putin juga terlihat mengalami kesulitan bernapas dan tampak membungkuk sejenak untuk mengatur napasnya.

Video itu kemudian dilaporkan dihapus dari situs resmi Kremlin, memicu berbagai spekulasi baru mengenai kondisi kesehatan pemimpin Rusia tersebut.

Drone AI Diprediksi Akan Mengubah Total Medan Perang

Sementara itu, perang Rusia–Ukraina kini disebut sedang memasuki era baru peperangan drone.

Ukraina dilaporkan menargetkan produksi hingga tujuh juta drone sepanjang tahun 2026, hampir dua kali lipat dibandingkan estimasi produksi tahun 2025 yang berada di kisaran 3,5 hingga 4 juta unit.

Jika kapasitas produksi penuh berhasil dicapai dan operator tersedia dalam jumlah cukup, Ukraina diperkirakan mampu mengerahkan hingga 20 ribu drone setiap hari di medan tempur.

Mantan Direktur Central Intelligence Agency sekaligus mantan jenderal bintang empat AS, David Petraeus, memperingatkan bahwa dunia kini sedang menuju fase baru peperangan otomatis berbasis kecerdasan buatan atau AI.

Menurut Petraeus, dalam satu hingga dua tahun mendatang, drone kemungkinan tidak lagi membutuhkan kendali manusia secara langsung.

Ia memperingatkan bahwa “kawanan drone” otonom berbasis AI kemungkinan segera muncul di medan perang modern.

Banyak analis militer percaya bahwa peperangan masa depan mungkin tidak lagi ditentukan oleh jumlah tank, kapal perang, atau jet tempur yang dimiliki sebuah negara, melainkan oleh kemampuan memproduksi drone AI dalam jumlah besar dengan biaya murah dan kecepatan tinggi.

Kini, ketika Rusia terus mengancam Kyiv dengan serangan baru, Moskow sendiri juga mulai menghadapi tekanan drone yang semakin besar di wilayah domestiknya sendiri.

Bagi Kremlin dan rezim Putin, banyak pihak menilai bahwa ujian paling berat kemungkinan baru saja dimulai. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kronologi Kebakaran Poins Square, Damkar Ungkap Penyebabnya
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Begini Detik-Detik Terjadi Blackout di Sumatera 
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Pelindo Petikemas Setor Rp1,73 Triliun, Dukung Fiskal Nasional
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Komdigi Perluas Uji Coba Digitalisasi Bansos, Warga Kini Bisa Ajukan Sanggahan
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Fuji Tak Sudi Bicara dengan Mantan Admin yang Sudah Jadi Tersangka: Rasanya Kesel Aja, Belum Ikhlas
• 4 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.