jpnn.com, JAKARTA - Musik dinilai memiliki peran besar dalam kehidupan manusia, mulai dari cara berperilaku, mengolah emosi, hingga cara seseorang berpikir dan menjalani kehidupannya.
Hal itu yang dimaknai oleh Chris Willy Arianto atau yang akrab disapa Billy. Kepala Program Studi Magister Psikologi di Unika Atma Jaya itu telah lama memiliki ketertarikan dengan musik.
BACA JUGA: Jangan Asal Pilih Jurusan Kuliah! Psikolog Ingatkan Bahaya âDecision Anxietyâ
Bahkan, dia sempat merasa ‘salah jurusan’ ketika menjadi mahasiswa psikologi. Namun, ketika masa orientasi, ia diperkenalkan dengan psikologi musik.
Di titik tersebut, motivasinya berbalik. Billy melihat musik dan psikologi merupakan dua hal dalam kehidupan sehari-hari yang saling terikat.
BACA JUGA: 12 Warga Jabar Korban TPPO Jalani Pemulihan Psikologis di UPTD PPA
“Musik itu dekat sekali dengan kehidupan manusia,” jelasnya.
Billy menuturkan sejak saat itu, ia tidak hanya melihat musik sebagai karya seni, tetapi juga menjadi fokus akademik dan penelitian yang ia tekuni hingga kini.
Psikologi musik sendiri merupakan cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara musik dan tingkah laku manusia.
Melalui musik, manusia dapat membentuk suasana hati, mengekspresikan emosi, hingga memengaruhi cara berpikir seseorang.
“Masyarakat mau mencari tahu sebenarnya apa yang membuat musik bisa berhubungan dengan kecerdasan, kenapa kalau mendengarkan musik kita bisa senang atau sedih. Nah, itulah yang dipelajari di psikologi musik,” pungkasnya.
Dari berbagai penelitiannya, Billy menemukan sejumlah hal menarik tentang hubungan musik, kecerdasan, dan kesehatan mental. Salah satu temuan menariknya adalah adanya perbedaan proses pengolahan informasi antara individu yang bermain musik dan yang tidak.
“Orang yang bermain musik ternyata mengolah informasi secara lebih cepat,” jelasnya. “Namun kita belum tahu, apakah musik menyebabkan seseorang menjadi lebih cerdas atau justru orang cerdas yang tertarik bermain musik,” imbuhnya.
Namun bagi Billy, musik bukan hanya soal kemampuan kognitif dan kecerdasan. Di balik dunia musik yang terlihat gemerlap, ia juga melihat sisi lain yang jarang dibicarakan, kesehatan mental para musisi profesional.
“Ternyata para musisi profesional memiliki kesejahteraan hidup dan kesehatan mental yang paling rentan. Sehingga perlu menaruh perhatian lebih kepada para musisi profesional,” jelasnya.
Terlepas dari perannya di dunia riset, Billy juga aktif di komunitas Psikologi Musik Indonesia yang ia dirikan bersama rekannya, Lestika Madinah Hasibuan.
Berdirinya komunitas ini berasal dari kesedihannya atas perkembangan bidang psikologi musik yang masih terbatas di Indonesia, padahal Indonesia memiliki potensi besar melalui keberagaman budaya dan musik.
Bagi Billy, musik tidak berhenti pada melodi yang didengar telinga. Di balik setiap irama, di situlah manusia menyampaikan emosi, pemikiran dan cerita hidupnya.
“Komunitas Psikologi Musik Indonesia ini menjadi ruang bersama bagi musisi, komposer, guru, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk saling belajar terkait dengan materi-materi yang ada di dalam psikologi musik,” jelas Billy.(mcr10/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul




