DPRD DKI Desak Evaluasi Satpol PP usai Insiden Pedagang Es Krim di CFD

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, August Hamonangan, mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Satpol PP usai insiden penindakan pedagang es krim di kawasan Car Free Day (CFD) Bundaran HI, Jakarta Pusat.

"Insiden serupa sudah terjadi berulangkali. Jadi, saya rasa perlu ada evaluasi menyeluruh di dalam Satpol PP itu sendiri terkait dengan cara-cara penindakannya," ujar August dalam keterangannya, Selasa (26/5/2026).

Menurut August, tindakan petugas Satpol PP dalam video yang viral di media sosial dinilai terlalu berlebihan meski penertiban tetap diperlukan.

Baca juga: Viral Video Pedagang Es Krim CFD Ditertibkan Satpol PP, Warga Coba Membela

Meski penertiban perlu dilakukan, petugas Satpol PP tetap harus menghargai masyarakat karena mereka berhadapan langsung dengan manusia di lapangan.

“Satpol PP sudah tepat mengeluarkan permintaan maaf karena tindakan ini terlalu berlebihan. Tapi, permohonan maaf itu dan janji-janji untuk menjadi lebih humanis saja tidak cukup,” kata August dalam keterangannya, Selasa (26/5/2026).

Soroti zona berdagang di CFD

Selain itu, August mengatakan Bundaran HI memang termasuk zona merah bagi pedagang berdasarkan Lampiran Surat Keputusan Kepala Dinas Perhubungan Nomor e-0077 Tahun 2022.

Namun, menurut dia, masih terdapat zona kuning dan zona hijau yang diperbolehkan untuk aktivitas berdagang selama CFD berlangsung.

“Memang benar ada zona merah yang tidak boleh dipakai untuk berdagang. Tapi ada juga zona-zona kuning dan hijau lainnya di mana para pedagang boleh berjualan,” terangnya.

Baca juga: DPRD DKI Sentil Satpol PP soal Penertiban Pedagang Es Krim di CFD

Ia mempertanyakan mengapa petugas tidak hanya mengarahkan pedagang ke area yang diperbolehkan tanpa tindakan yang dianggap keras.

“Nah, saya heran kenapa para petugas Satpol PP itu tidak bisa hanya mengarahkan para pedagang untuk berjualan di area-area tersebut, tanpa melakukan tindakan kekerasan seperti terlihat dalam video yang tersebar di media sosial kemarin,” kata August.

August menyayangkan insiden tersebut karena dinilai dapat membuat masyarakat semakin antipati terhadap aparat Pemprov DKI Jakarta.

“Kalau seperti ini, masyarakat malah semakin antipati dengan petugas-petugas di lapangan. Mereka juga akan merasa semakin jauh dari Pemprov DKI,” ujar dia.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia menegaskan aparat pemerintah seharusnya hadir untuk mengayomi dan melayani masyarakat.

“Padahal, Pemprov DKI ini dan para petugasnya di lapangan harusnya dirasa hadir untuk mengayomi dan melayani masyarakat,” imbuh August.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Klaim Pungut Biaya Jasa Navigasi di Selat Hormuz, Bukan Tarif Tol
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
Tangis Kekasih Maarten Paes Viral di Belanda, Luna Bijl Tak Kuasa Haru usai Kiper Timnas Indonesia Jadi Pahlawan Ajax
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
ST016 Resmi Ditawarkan, Sukuk Syariah Bergaransi Negara Mulai Rp1 Juta
• 9 jam lalukatadata.co.id
thumb
DLH DKI Imbau Pembagian Daging Kurban Pakai Besek Bambu dan Daun Pisang, Bukan Plastik
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Sidang Vonis bagi Trio Prajurit TNI Terdakwa Pembunuh Kacab Bank Bakal Digelar 3 Juni
• 13 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.