PC IPNU Kota Surabaya sukses menyelenggarakan Konferensi Cabang (Konfercab) XXIX, Minggu (24/5/2026) di Yayasan Pesantren Terpadu Darul Muttaqien. Forum ini menjadi momentum evaluasi, konsolidasi, sekaligus penentuan arah gerak organisasi untuk masa khidmat berikutnya.
M. Cholilurrahman Halim Ketua PC IPNU Kota Surabaya masa khidmat 2024-2026 menegaskan, Konfercab ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat sistem kaderisasi sebagai pondasi utama keberlangsungan organisasi di tengah tantangan era digital.
“Konfercab ini bukan hanya forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum memperkuat kaderisasi pelajar Nahdliyin. IPNU harus hadir sebagai ruang pembinaan generasi muda yang mampu mencetak kader intelektual, berkarakter, serta siap menghadapi tantangan sosial dan perkembangan teknologi,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan zaman menuntut Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama untuk menghadirkan pola kaderisasi yang lebih adaptif, progresif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah.
Dalam laporan kepengurusan, PC IPNU Kota Surabaya menyebut selama satu periode masa khidmat 2024–2026 telah berhasil mencetak sekitar 700 kader melalui berbagai program kaderisasi formal maupun nonformal di tingkat cabang, PAC, ranting, hingga komisariat sekolah dan pesantren.
Seluruh data kader tersebut telah terdokumentasi secara digital melalui aplikasi SIRekan IPNU sebagai bagian dari modernisasi administrasi organisasi.
“Kaderisasi bukan hanya tentang pelaksanaan pelatihan, tetapi bagaimana proses pembinaan itu mampu terdata, terukur, dan berkelanjutan. Alhamdulillah selama satu periode kami berhasil mencetak sekitar 700 kader yang seluruhnya sudah terdokumentasi dalam sistem SIRekan IPNU,” tambahnya.
Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa IPNU harus kembali pada khittah perjuangannya sebagai organisasi kader yang berfokus pada pengembangan intelektual, spiritual, dan sosial pelajar Nahdliyin.
Selain itu, konfercab menghasilkan rumusan garis besar program kerja organisasi periode 2026–2028 yang menitikberatkan pada pengembangan sistem kaderisasi terpadu, peningkatan kapasitas intelektual kader, penguatan organisasi di sekolah dan pesantren, serta optimalisasi teknologi dalam pembinaan kader.
Forum komisi rekomendasi juga mendorong pembentukan fasilitator pengkaderan melalui program Training of Trainer (TOT), penguatan database kader, pengembangan komisariat di sekolah dan pesantren, serta peningkatan sinergi dengan lembaga pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama. (saf/ipg)




