JAKARTA, KOMPAS.com - Penumpang mengeluhkan kapasitas Stasiun Duri, Jakarta Barat, yang kurang memadai saat gangguan KRL Tangerang, Selasa (26/5/2026).
Kondisi ini terlihat penumpang menumpuk imbas KRL mati mendadak di dekat Stasiun Rawa Buaya.
Penumpukan penumpang terpantau belum sepenuhnya terurai hingga pukul 22.30 WIB, terutama di area Peron 5 Tangerang Line.
Baca juga: Cerita Penumpang KRL Terjebak 1,5 Jam di Stasiun Duri, Gagal Temani Anak Takbiran
Alvina (26), salah satu penumpang menyebut area tunggu dan peron Stasiun Duri saat ini terlalu kecil dan sempit.
Ia pun mendesak agar ada pembenahan atau renovasi besar-besaran terhadap Stasiun Duri
"Stasiun Duri itu lebih parah dari Manggarai (kepadatannya), jauh emang, karena dia kecil dan sempit, peronnya aja sempit, jadi pas ada kayak gini (insiden KRL terlambat) jadinya parah banget," kata Alvina saat ditemui di lokasi, Selasa malam.
KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo Kepadatan penumpang di Peron 5 Stasiun Duri arah Tangerang masih terjadi hingga Selasa (26/5/2026) jelang tengah malam.
Ia meminta manajemen PT KAI Commuter untuk lebih tanggap terhadap keluhan masyarakat, terutama merevitalisasi stasiun agar kejadian saling berdesakan di ruang sempit saat jam sibuk tidak terus berulang.
Pasalnya, ia mengaku sudah pernah menyampaikan keluhan kepada akun media sosial resmi PT KAI, tetapi belum pernah melihat adanya rencana perbaikan.
"Padahal sudah banyak yang mengeluhkan ini di Twitter. Emang harus lebih peka aja KAI-nya menangkap keluhan biar bisa ditingkatkan layanannya. Harus bisa kayak Tanah Abang tuh jadi besar, enak lega," tuturnya.
Keluhan senada soal sempitnya daya tampung peron juga dirasakan Ikhsan (32) yang sempat terjebak 1,5 jam di Stasiun Duri.
"Masalahnya dari tadi itu di bawah penuh banget sesak, enggak bisa semuanya langsung masuk, makanya saya ke atas lagi. Jeda antar keretanya itu lama banget," ucap Ikhsan.
Terlebih, penguraian kepadatan penumpang menjadi sangat lambat karena mayoritas kereta yang tiba hanya berupa rangkaian delapan gerbong.
Sementara itu, Rifai, penumpang KRL yang menuju ke Bojong Indah menyebut belum pernah melihat adanya renovasi besar atau peningkatan kapasitas di Stasiun Duri selama lima tahun terakhir.
Padahal, kata dia, Stasiun Duri merupakan salah satu tumpuan paling penting bagi para pekerja komuter yang mayoritas tinggal di daerah penyangga.
"Orang yang kerja di Jakarta banyaknya justru rumahnya di Tangerang. Kalau stasiun transit buat ke sana (Tangerang) enggak proper, jadinya chaos terus. Walau enggak separah Green Line (Tanah Abang-Rangkasbitung), tapi Brown Line juga harusnya diperhatikan lah," kata dia.