Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mulai membuka dugaan skema “nakal” sejumlah eksportir minyak sawit mentah (CPO) yang disebut dapat merugikan Indonesia.
Skema tersebut diduga dilakukan melalui permainan harga ekspor lintas negara atau transfer pricing dengan melibatkan perusahaan perdagangan di Singapura.
Baca Juga: Turis Amerika hingga Australia Bikin Muak Thailand, Kebijakan Bebas Visa 60 Hari Dipangkas
Purbaya mengatakan pemerintah menemukan indikasi bahwa sejumlah eksportir besar menjual CPO dari Indonesia ke trading company di Singapura dengan harga yang lebih rendah.
Namun setelah sampai di Singapura, komoditas yang sama kembali dijual ke Amerika Serikat dengan harga jauh lebih tinggi.
“Data ekspor dia lebih rendah daripada yang seharusnya, 50 persen di bawah,” ujar Purbaya.
Praktik ini menjadi sorotan, manuver menarik terletak pada cara perusahaan memindahkan keuntungan ke luar negeri tanpa terlihat mencolok di dalam negeri.
Secara administratif, pencatatan ekspor dari Indonesia disebut tetap terlihat normal dan sesuai prosedur. Namun dugaan manipulasi terjadi saat barang transit di Singapura.
Dengan skema itu, keuntungan besar tidak tercatat di Indonesia, melainkan muncul di perusahaan trading luar negeri. Akibatnya, nilai ekspor Indonesia terlihat lebih rendah dari harga pasar sebenarnya. Situasi tersebut berpotensi memengaruhi penerimaan negara dari pajak maupun devisa ekspor sawit.
Adapun Purbaya menyebut pemerintah sudah mengantongi data lengkap terkait dugaan praktik tersebut sejak tiga bulan lalu.
Ia juga mengungkap ada 10 eksportir besar yang masuk dalam daftar pemeriksaan pemerintah. Dua nama yang telah disebut ke publik adalah Wilmar Nabati Indonesia dan Musim Mas Group.
Meski demikian, pemerintah belum memutuskan bentuk sanksi final terhadap perusahaan-perusahaan terkait.
Purbaya menegaskan pemerintah tidak ingin perusahaan sampai tutup, tetapi tetap harus memenuhi kewajiban apabila nantinya terbukti melakukan pelanggaran.
Baca Juga: Israel Tembaki Nelayan Palestina di Laut Gaza, Tiga Orang Dilaporkan Terluka
Kasus ini sekaligus memperlihatkan tantangan besar Indonesia dalam mengawasi perdagangan komoditas global. Sebab dalam praktik perdagangan internasional modern, keuntungan tidak selalu dimainkan lewat volume barang, melainkan melalui pengaturan harga transaksi antarperusahaan lintas negara.




