Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, bertindak sebagai khatib Salat Idul Adha di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (27/5).
Hamdan mengangkat tema "Meneguhkan Spirit Qurban, Merawat Alam dan Kemanusiaan" dalam khotbahnya.
Salah satu yang disampaikan Hamdan adalah soal kesabaran. Dalam kesabaran manusia belajar untuk rendah hati.
"Kesabaran dalam konteks kekinian tidak bisa dimaknai sebagai duduk diam menunggu badai berlalu. Sabar adalah kemampuan mengelola diri di tengah era disrupsi, kehidupan bergerak tanpa arah yang bisa diprediksi," kata Hamdan.
Hamdan mengatakan sabar bukan lagi identik dengan perilaku bertahan dalam penderitaan, tetapi ketahanan mental terhadap fenomena distraksi. Sabar adalah kemampuan untuk menjaga produktivitas diri di tengah kehidupan yang serba salah fokus.
"Sabar adalah kemampuan mengalihkan diri dari meributkan hal-hal yang tidak penting bagi bangsa ini. Dalam relasi kemanusiaan, sabar juga berubah wajah. Sabar bukan sekadar menahan marah, tetapi kemampuan memahami sebelum menghakimi," katanya.
Terlebih di era maraknya hoaks dan ujaran kebencian. Sikap sabar teramat penting.
"Di era yang penuh dengan berita hoaks dan ujaran kebencian, sabar adalah yang tidak langsung membalas, tidak tergoda untuk selalu merasa benar, tetapi yang memberi ruang bagi hadirnya perspektif lain," katanya.
"Sabar adalah menjadi pribadi yang mendahului sikap tabayyun atau klarifikasi, dan pribadi yang suka melakukan saring sebelum sharing. Sabar adalah keadaban di tengah kebablasan dalam berekspresi. Sabar adalah seni mengendalikan diri di tengah dunia yang tidak sabar," ujarnya.
Hamdan menjelaskan kebermanfaatan hidup di zaman sekarang bukan lagi sekadar tentang menjadi orang baik, tapi tentang menjadi berarti.
"Banyak orang hadir tapi sering tidak banyak yang benar-benar berdampak. Di era di mana semua orang ingin terlihat, kebermanfaatan justru sering lahir dari mereka yang memilih memberi tanpa banyak bersuara," katanya.
Lanjutnya, kebermanfaatan juga bermakna menjadi diri yang relevan. Menurut Hamdan, ilmu yang tidak dibagikan adalah arsip mati.
"Jabatan tanpa kontribusi adalah kursi kosong. Bahkan kebaikan tanpa kepekaan adalah sekadar untuk terlihat peduli," katanya.
Salat Idul Adha di Masjid Istiqlal turut dihadiri sejumlah pejabat. Salah satunya Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang datang bersama putranya Jan Ethes Srinarendra.





