JAKARTA, KOMPAS.com - Bertepatan dengan 27 Mei, 20 tahun lalu, pukul 5.54 WIB, tanah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tetiba bergerak.
Gerakannya tak lantas membuat masyarakat mengambil aba-aba. Lebih tepat disebut bergolak, sebab golakan itu mengakibatkan luluh lantaknya bangunan yang ada di atas tanah DIY.
Dilansir dari Kompaspedia.kompas.id, gempa dengan durasi 57 detik yang terjadi pada 27 Mei 2006 itu menimbulkan kerusakan yang besar, merenggut ribuan nyawa, dan puluhan ribu orang terluka.
BNPB Yogyakarta mencatat, ada 6.652 orang meninggal dunia akibat tertimpa bangunan yang roboh, di antaranya 5.338 korban jiwa berasal dari DIY.
Baca juga: Getaran Gempa Yogyakarta Meluas
Sisanya sebanyak 1.314 korban jiwa berasal dari Jawa Tengah. Sebanyak 80 persen korban tersebut merupakan warga Bantul, DIY dan Klaten, Jawa Tengah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, gempa bumi tersebut berkekuatan 6,3 magnitudo berpusat pada 7,962 Lintang Selatan dan 110,43 Bujur Timur dengan kedalaman hanya 10 km.
Daerah yang mengalami kerusakan dan kerugian terparah terletak di sepanjang Patahan Opak (Opak Fault).
Patahan Opak merupakan garis patahan memanjang yang membentuk lembah Opak. Patahan sepanjang 30 km itu berpangkal di Sanden, Kabupaten Bantul, DIY, dan berujung di Tulung, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.
Baca juga: Melawan Lupa, Napak Tilas Gempa Yogyakarta
Ratusan ribu warga kehilangan tempat tinggal.
KOMPAS.com/MARKUS YUWONO Tugu Prasasti Peringatan Gempa Bumi Yogyakarta 27 Mei 2006 yang berada di sekitar pusat gempa di Dusun Potrobayan, Srihardono, Pundong, Bantul
Selain merenggut ribuan nyawa dan puluhan ribu orang luka-luka, gempa ini juga menyebabkan ratusan ribu warga kehilangan tempat tinggal.
Berdasarkan data Badan Koordinasi Nasional (Bakornas), total bangunan yang rusak di Yogyakarta dan Jawa Tengah mencapai ratusan ribu unit.
Rinciannya, rusak berat 127.879 unit, sedang 182.382 unit dan ringan 261.219 unit.
Total kerugian material akibat gempa Yogyakarta diperkirakan mencapai Rp29,1 triliun.
Teka-teki para ilmuwan
Gempa ini bukan hanya bungkusan kesedihan yang dialami warga Jogja, tetapi juga teka teki yang tak bisa dijelaskan secara gamblang oleh para ilmuwan.
Baca juga: Gempa M 5,1 Jember, KAI Sempat Hentikan Perjalanan 2 Kereta
Sesar Opak dinilai menjadi biang keladinya, tetapi analisis pusat gempa banyak yang berbeda.