EtIndonesia. Kecelakaan ledakan gas besar terjadi di Tambang Batu Bara Liushenyu, Kabupaten Qinyuan, Kota Changzhi, Provinsi Shanxi, Tiongkok, pada 22 Mei malam. Menurut laporan terbaru pihak berwenang Partai Komunis Tiongkok, insiden tersebut menyebabkan 82 orang tewas, 2 orang hilang, dan 128 orang luka-luka. Namun yang menuai kritik dari luar adalah angka korban tewas yang berkali-kali direvisi setelah kejadian, sementara kondisi sebenarnya dari kecelakaan tambang itu tetap ditutup rapat, sehingga memunculkan dugaan bahwa otoritas kembali menutupi fakta sebenarnya.
Setelah kecelakaan terjadi, jumlah korban tewas meningkat tajam dalam waktu singkat. Dari laporan awal yang menyebut 8 orang meninggal, kemudian pemerintah sempat mengumumkan 90 korban jiwa, sebelum akhirnya direvisi menjadi 82 orang. Banyak pihak menilai terdapat masalah sistemik di balik tragedi ini, dan jumlah korban sebenarnya diduga lebih tinggi.
“Pemerintah tidak benar-benar menghitung korban, mereka menyembunyikan sebanyak mungkin. Dulu dalam kecelakaan besar di Tiongkok, angka korban selalu diumumkan 37 orang. Sekarang karena internet sudah berkembang, kalau mereka masih bilang 37 orang, tidak ada yang percaya lagi,” ujar Wakil Ketua Front Demokrasi Tiongkok di Jerman, Wang Shoufeng.
Saat kejadian, sebenarnya ada 247 pekerja yang sedang bekerja di bawah tanah, namun lebih dari 100 orang tidak tercatat dalam sistem. Media yang berada di bawah Kementerian Manajemen Darurat PKT menyebutkan bahwa 103 pekerja tidak mengenakan kartu pelacak lokasi, ditambah peta tambang yang tidak sesuai kondisi nyata sehingga menyulitkan proses penyelamatan.
Sejumlah mantan pekerja tambang mengungkap bahwa perusahaan diduga telah lama melakukan penambangan ilegal. Untuk menghindari pengawasan, pekerja dilarang membawa kartu pelacak saat turun ke tambang. Seorang penambang bahkan mengatakan, “Kalau melakukan penambangan ilegal, mana mungkin membawa kartu pelacak? Membawanya justru akan membongkar aktivitas itu.”
Tambang yang terlibat dalam insiden ini sebenarnya sudah lama masuk daftar tambang dengan risiko gas tinggi, dan dalam beberapa tahun terakhir beberapa kali dikenai sanksi. Namun anehnya, tambang tersebut tetap memperoleh sertifikasi “standarisasi keselamatan produksi” dan “tambang hijau”. Banyak pihak menilai kolusi antara pejabat dan pengusaha serta lemahnya pengawasan pemerintah merupakan penyebab utama tragedi ini.
“Meskipun ini tambang milik swasta, dan sudah berkali-kali ditemukan memiliki bahaya keselamatan serius, masalah tersebut tetap tidak diperbaiki. Jika tidak ada pejabat PKT yang melindunginya, atau tidak ada kolusi pejabat dan pengusaha, masalah seperti ini tidak mungkin terjadi. Jelas ini adalah masalah korupsi dalam birokrasi PKT dan kolusi pejabat dengan pengusaha,” kata Ketua Aliansi Pengacara Hak Asasi Manusia Tiongkok di Luar Negeri, Wu Shaoping.
Menurut laporan Reuters, setelah kecelakaan tambang Shanxi, pemerintah memperketat pemeriksaan keselamatan tambang batu bara. Pasar khawatir pasokan batu bara akan berkurang, sehingga harga kontrak berjangka batu bara kokas di Tiongkok melonjak hampir 8%.
Kecelakaan tambang batu bara di Tiongkok telah lama sering terjadi, dengan banyak insiden menewaskan lebih dari 100 orang. Yang paling parah adalah tragedi Tambang Laobaidong tahun 1960 yang menewaskan 684 orang. Sementara tragedi Tambang Liushenyu kali ini disebut sebagai kecelakaan tambang batu bara paling serius di Tiongkok sejak tahun 2009.
Sumber : NTDTV.com





