Tradisi berkurban pada Idul Adha sekilas terlihat sebagai ibadah tahunan. Namun, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memperkirakan pada 2026, tradisi ini diproyeksikan menggerakkan ekonomi hingga triliunan rupiah.
Dari kandang peternak, truk pengangkut, pasar hewan, halaman masjid, hingga ke piring makan keluarga penerima, momentum Idul Adha adalah salah satu sirkulasi ekonomi rakyat terbesar di Indonesia selain Idul Fitri/Lebaran.
Di halaman masjid, masyarakat menunggu sambil memegang kupon daging. Panitia kurban sibuk menimbang, mencatat, lalu membagikan bagian demi bagian agar terasa adil. Di tempat lain, peternak kecil menghitung hasil penjualan hewan. Bagi sebagian dari mereka, Idul Adha adalah musim ketika biaya sekolah anak, cicilan kandang, atau modal ekspansi usaha dapat terpenuhi.
Di tengah tekanan ekonomi global, gejolak rantai pasok, dan ketidakpastian pasar keuangan, tradisi kurban menghadirkan paradoks yang menarik. Ketika logika ekonomi mendorong orang untuk menahan pengeluaran, kurban justru mengajak masyarakat melepaskan sebagian yang dimiliki.
Ketika dunia semakin individualistis, Idul Adha mengingatkan bahwa ketahanan ekonomi tidak hanya bertumpu pada angka pertumbuhan, suku bunga, atau cadangan devisa, tetapi juga pada solidaritas dan kepercayaan sosial.
Peneliti Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS), Tira Mutiara, memproyeksikan potensi ekonomi kurban nasional pada 2026 mencapai Rp26,89 triliun.
Di sisi lain, Kementerian Pertanian memperkirakan kebutuhan hewan kurban nasional tahun 2026 mencapai sekitar 1,09 juta kambing, 466.086 domba, 791.452 sapi, dan 12.914 kerbau. Angka ini menunjukkan bahwa kurban telah menjadi denyut ekonomi rakyat yang melibatkan banyak pihak seperti peternak, pedagang, jasa angkut, UMKM, pengelola masjid, hingga lembaga filantropi.
Membaca kurban sebagai aktivitas ekonomi bukan berarti mereduksi ibadah menjadi transaksi. Sebagian pihak dapat berargumen bahwa kurban bersifat musiman dan tidak cukup kuat menciptakan dampak ekonomi jangka panjang. Ada pula yang menilai pengeluaran untuk kurban lebih baik dialihkan menjadi investasi produktif, bantuan pendidikan, atau program sosial yang lebih permanen.
Kritik itu tidak sepenuhnya keliru dan patut didengar. Ekonomi kurban memang masih menghadapi berbagai tantangan. Rantai pasok hewan belum selalu efisien. Harga pakan masih berfluktuasi. Peternak masih sulit memperoleh pembiayaan. Distribusi antardaerah belum merata.
Tanpa tata kelola yang baik, kenaikan permintaan dapat menaikkan harga dan memicu inflasi pangan. Namun, melihat kurban hanya sebagai konsumsi sesaat juga merupakan penyederhanaan yang berlebihan.
Tidak semua dampak ekonomi dapat diukur hanya dari durasi. Terdapat aktivitas ekonomi yang singkat, tetapi menciptakan efek sosial yang panjang dan kurban bekerja di ruang tersebut, yaitu mempertemukan distribusi ekonomi dengan distribusi empati.
Kurban memiliki karakter ekonomi yang berbeda dari konsumsi biasa. Ia bekerja seperti jaring pengaman sosial yang hidup dengan mengalirkan daya beli, menjaga perputaran ekonomi lokal, sekaligus memastikan kelompok rentan tidak tertinggal dari denyut pertumbuhan ekonomi.
Dalam agama Islam, seorang muslim membeli hewan kurban agar orang lain ikut merasakan kecukupan serta meningkatkan kepercayaan dan solidaritas sosial. Ekonomi modern dibangun di atas teknologi, data, dan algoritma.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa pasar hanya bergerak sehat ketika masyarakat masih memiliki rasa percaya dan soliditas. Tanpa kepercayaan, uang hanya berpindah tangan tanpa menciptakan ketahanan. Tanpa soliditas, pergerakan ekonomi tidak akan berkelanjutan.
Salah satu tantangan yang harus diselesaikan adalah mengoptimalkan rasa kepercayaan dan solidaritas sosial tersebut agar momentum kurban dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara produktif, inklusif, dan berkesinambungan.
Menjawab tantangan tersebut, pemerintah pusat perlu memperkuat data stok hewan, kesehatan ternak, distribusi antardaerah, serta pembinaan peternak. Sementara itu, pemerintah daerah memastikan titik penjualan dan pemotongan hewan berjalan tertib, higienis, dan tidak menimbulkan tekanan harga yang berlebihan.
Perbankan dan lembaga keuangan perlu melihat peternakan sebagai sektor usaha yang layak dibiayai. Di sisi lain, BAZNAS, Lembaga Amil Zakat (LAZ), dan pengelola masjid dapat memperkuat transparansi penghimpunan dan penyaluran kurban melalui pencatatan transaksi digital.
Selain itu, masyarakat perlu mengetahui bahwa kurbannya sudah disalurkan dan ke mana manfaat itu mengalir. Transparansi akan memperbesar kepercayaan, dan kepercayaan akan memperbesar tingkat partisipasi.
Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, digitalisasi transaksi juga perlu diperluas. Bank, fintech, dan penyedia jasa pembayaran memiliki peran penting untuk menyediakan kanal pembayaran digital yang mudah, aman, murah, dan inklusif.
Penggunaan QRIS, misalnya, dapat membantu masjid, lembaga filantropi, dan pelaku usaha kecil menerima pembayaran secara lebih praktis. Edukasi juga harus dilakukan agar masyarakat terhindar dari berbagai modus kejahatan, seperti QRIS palsu, penipuan donasi, atau penyalahgunaan rekening penampung.
Peran Bank Indonesia menjadi relevan. Dari perspektif sistem pembayaran, kurban bukan hanya soal memindahkan uang, melainkan juga memperluas rasa aman kolektif ke seluruh elemen masyarakat. Pengedaran uang tunai dalam kualitas yang layak, perlindungan konsumen, dan kanal pembayaran nontunai yang andal sesungguhnya adalah cara menjaga kohesi masyarakat di tengah pergerakan ekonomi yang semakin cepat.
Kurban tidak boleh berhenti hanya sebagai konsumsi sesaat. Kegiatan ini dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempererat soliditas dan gotong royong masyarakat. Teknologi memang dapat mempercepat transaksi, tetapi tidak pernah bisa menggantikan empati. QRIS dan kanal pembayaran digital lainnya dapat memudahkan pembayaran, tetapi nilai kurban tetap berada pada keikhlasan, keadilan distribusi, dan kedekatan sosial.
Idul Adha mengingatkan kita bahwa ekonomi bukan hanya tentang uang, melainkan juga tentang menjaga harapan. Ketika dunia sibuk mengejar efisiensi, kurban mengajarkan pentingnya distribusi. Setiap Idul Adha, masyarakat sedang melakukan sesuatu yang sangat modern dengan cara yang sangat tua: membangun ekonomi berbasis kepercayaan dan soliditas.
Krisis ekonomi sering kali bermula bukan ketika uang habis, melainkan ketika rasa percaya mulai hilang. Di tengah dunia yang semakin digital, cepat, dan individualistis, Idul Adha menjadi pengingat bahwa fondasi ekonomi paling penting yaitu kepercayaan masyarakat dan soliditas sosial. Dari seekor hewan kurban, masyarakat Indonesia sedang membangun infrastruktur sosial yang membuat ekonomi tetap bergerak saat dunia sedang bergejolak.





