Ketum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengingatkan kepada seluruh jajaran fraksi partainya untuk tetap memperjuangkan kepentingan rakyat. Salah satunya dengan menciptakan produk legislasi yang pro rakyat kecil.
Hal itu disampaikan AHY dalam acara Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, Rabu (27/5).
AHY bilang, dalam memperjuangkan rakyat, tidak boleh hanya dilakukan dengan membagi-bagikan daging kurban.
"Fraksi Partai Demokrat memperjuangkan rakyat bukan hanya dengan membagi-bagikan kurban, tetapi memperjuangkan aspirasi melalui kebijakan, melalui undang-undang, dan produk-produk legislasi lain yang berpihak pada rakyat, rakyat kecil, rakyat marginal, rakyat yang membutuhkan," kata AHY.
Dalam Idul Adha kali ini, DPP Demokrat berkurban sebanyak 63 sapi yang merupakan pemberian dari pimpinan hingga kader partai.
Menurut AHY, selain menjadi kewajiban sebagai umat muslim, berkurban juga menjadi simbol kehadiran Demokrat di tengah masyarakat.
"Kita ingin Demokrat semakin punya makna dengan menghadirkan hewan-hewan kurban yang kemudian didistribusikan bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan.
Rasanya ini adalah bagian yang sangat mendasar. Yang mampu berbagi dengan yang kurang mampu," ungkapnya.
Singgung Kisah Nabi IbrahimAHY bilang, dalam ajaran Islam, Idul Adha bermula dari kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail.
Menurut AHY, perintah Allah itu tidaklah mudah untuk dijalankan oleh Nabi Ibrahim. Apalagi, Nabi Ismail lahir setelah penantian panjang Nabi Ibrahim.
"Maka rasanya manusia biasa seperti kita tidak sanggup. Itulah yang dipilih adalah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail. Setelah merindukan putra berapa tahun? Usianya saja panjang, begitu sudah lahir kemudian ada perintah untuk menyembelih," ucap AHY.
Apalagi, anak AHY yang kedua, Arjuna Hanyokrokusumo Yudhoyono, baru saja lahir pada akhir Maret lalu.
"Betapa tidak bisa dibayangkan betapa beratnya karena kebetulan juga baru punya baby lagi, nggak kebayang gitu, menunggu sekian lama tiba-tiba ada perintah dikurbankan untuk menguji kesetiaan dan ketakwaan kita kepada hanya satu, Sang Maha Pencipta," tutur AHY.
"Ini sesuatu yang bisa dikatakan tidak mudah dalam konteks apa pun mendapatkan perintah untuk dijalankan seperti itu," sambungnya.





