jpnn.com, DEPOK - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menjadi khatib salat Iduladha 1447 H di Masjid Ukhuwah Islamiyah Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Rabu (27/5/2026).
Dalam khotbahnya, tokoh Muhammadiyah itu mengajak jemaah menyembelih sifat kebinatangan sekaligus menjadikan kampus sebagai benteng dari gempuran degradasi moral.
BACA JUGA: Menkeu Purbaya Berkurban Sapi Berbobot 846 Kg di Momen Iduladha
Mengawali khotbahnya, Fauzan merujuk riset tentang 30 persen warga dunia terindikasi stres. Menurut dia, penelitian The World Health Organization (WHO) juga mencatat 43 persen populasi dunia kini hidup di bawah gangguan kecemasan.
“Mengapa manusia modern yang serbaberkecukupan begitu rapuh? Salah satu penyebabnya adalah pemujaan kepada berhala-berhala baru, yakni status sosial dan ambisi materialistik yang menyebabkan jiwa terlena karena tidak ada kepasarahan kepada Sang Khalik,” katanya.
BACA JUGA: Peternak Boyolali Kaget Sapinya Habis Diborong Seskab Teddy
Fauzan menambahkan di era disrupsi yang begitu cepat, kemajuan saat ini tidak diimbangi arah moral. Akibatnya, manusia terjebak pada individualisme.
Oleh karena itu, Fauzan menekankan tentang semangat Iduladha yang dilatari kisah ketaatan Nabi Ibrahim pada perintah Allah untuk mengurbankan Ismail.
BACA JUGA: Makna Iduladha Bagi Purbaya, Selaras dengan Jabatan sebagai Punggawa Keuangan Negara
Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu menyebut Idulkurban mengingatkan bahwa kemajuan tidak cukup diukur dengan kecanggihan teknologi, tetapi juga perlu kualitas spiritual yang menghadirkan Tuhan dalam setiap langkah.
“Hakikat kepasrahan merupakan ciri manusia beriman. Ismail dengan kematangan spiritualnya menyambut perintah penyembelihan dirinya dengan kalimat penuh ketundukan,” imbuhnya.
Fauzan melanjutkan ceramahnya bahwa peristiwa Ismail diganti domba memberikan pelajaran tentang sifat kebinatangan pada manusia harus dibuang jauh-jauh. Dia menyebut sifat kebinatangan tidak memberikan nilai-nilai positif bagi kemanusiaan.
“Sifat kebinatangan mendegradasi manusia mencapai sifat kemanusiaannya. Kita hendaknya mereplikasi sifat Ismail pada masa hari ini,” tuturnya.
Selain itu, Fauzan juga menjadikan dialog Ibrahim dengan Ismail yang tertuang dalam Surah Ash-Shaffat di Al-Qur’an sebagai tamsil bagi pola pengajaran di perguruan tinggi.
Guru besar ilmu pendidikan bahasa Indonesia itu menyebut dialog Ibrahim dan Ismail merupakan role model pola edukasi luar biasa.
“Ada gaya pendidikan partisipatif yang memberikan ruang pada anak didik. Melalui keterpaduan berpikir pendidik dan anak didik, maka perguruan tinggi melahirkan anak-anak yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bermental spiritual,” ucapnya.
Menjelang bagian akhir khotbah itu, Fauzan mengajak jemaah menjadikan Iduladha sebagai ruang audit spiritual. Menurut dia, sifat kebinatangan dan ego yang menghalalkan segala cara dengan mengorbankan pihak lain demi jabatan harus diakhiri.
“Perilaku koruptif, pelecehan seksual, dan degradasi moral lainnya harus dihilangkan. Dari rahim kampuslah integritas bangsa diselamatkan,” ujarnya.
Pada Iduladha kali ini, Masjid UI menerima 26 hewan kurban dari berbagai kalangan, termasuk Rektor UI Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah dan Bank Syariah Indonesia (BSI). Perinciannya ialah delapan ekor sapi dan 18 domba maupun kambing.
Panitia kurban di Masjid UI telah membagikan 1.500 kupon daging. Nantinya, daging kurban itu akan diberikan kepada para mustahik di sekitar Kampus UI, warga Depok, serta satpam dan petugas kebersihan.(esy/jpnn.com)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Wamen Dikti Ajak Asosiasi Dosen Indonesia Sukseskan Program Presiden Prabowo
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi




