JAKARTA, KOMPAS – Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Perancis menuai banyak sorotan. Sejumlah kalangan mempertanyakan lawatan yang sudah berlangsung beberapa kali itu meskipun masa pemerintahannya kurang dari dua tahun. Di sisi lain, jajaran Kabinet Merah Putih meyakini, kunjungan kenegaraan itu bakal membawa manfaat bagi negara dalam kondisi geopolitik global yang tak menentu..
Presiden berangkat menuju Perancis pada Senin (25/5/2026) malam. Setelah terbang selama 16 jam, ia tiba di Bandar Orly, Paris, Perancis, Selasa, sekitar pukul 10 waktu setempat. Begitu turun dari pesawat, dalam kunjungan keempat ini Presiden disambut Menteri Tenaga Kerja dan Solidaritas Perancis Jean-Pierre Farandou dan prabregu jajar kehormatan.
Sorotan atas kunjungan kenegaraan itu dicuitkan sejumlah warganet lewat akun X-nya sejak Selasa (26/5/2026) kemarin. Salah satu sosok yang ikut mengomentari lawatan itu adalah politisi PDI-Perjuangan Mohamad Guntur Romli lewat akunnya. Bahkan, ia turut mencatat sudah berapa banyak Presiden mengunjungi negara itu setelah dilantik.
“Sejak dilantik sebagai Presiden, Pak Prabowo sudah empat kali ke Perancis; Juli 2025, Januari 2026, April 2026, dan Mei 2026 (yang terakhir). Ini sudah setiap bulan ke Perancis. Apa sih yang dibahas, kok sampai berkali-kali dalam waktu berdekatan?,” tanya Guntur lewat akun X-nya, @GunRomli.
Cuitan itu direspons banyak warganet lainnya secara beragam. Ada yang serius, ada juga yang bercanda. Tetapi, semua respons itu turut mempertanyakan alasan Presiden kembali melakukan lawatan kenegaraan dalam kondisi negara yang terus mengalami pelemahan mata uang. Lebih-lebih momen kunjungan kenegaraan juga bertepatan dengan hari raya Idul Adha 1447 H.
Seiring banyaknya sorotan itu, Menteri Kebudayaan, yang juga Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerindra, Fadli Zon menyatakan, kunjungan kenegaraan Presiden selalu sejalan kepentingan nasional.
Ia juga menekankan, Perancis termasuk salah satu mitra strategis pemerintah mengingat banyaknya kerja sama yang terjalin. Diyakininya, kedatangan Presiden menuju negara itu untuk memperkuat hubungan kedua negara.
“Saya kira, memang hubungan kita sedang baik, dan saya kira hubungan yang saling menguntungkan. Ini hubungan yang sangat bagus di berbagai bidang, strategic partnership kita dengan negara-negara, semua negara ya, saya kira ini sangat baik,” kata Fadli, saat ditemui sesuai ibadah salat Idul Adha 1447 H, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (27/5/2026).
Menurut Fadli, waktu kunjungan kenegaraan itu kebetulan saja bertepatan dengan perayaan Idul Adha 1447 H. Ia menilai, ibadah hari raya itu bisa dilakukan di mana saja, termasuk saat menjalankan lawatan kenegaraan. Untuk itu, sebut dia, semestinya tidak ada yang harus dipersoalkan dari aktivitas Presiden itu.
“Ya, tahun lalu di sini, tahun ini kebetulan bertepatan dengan kunjungan kenegaraan atau state visit. Artinya, kita kan bisa di mana saja (beribadah), tidak harus selalu di sini, dan Presiden melaksanakan shalat Idul Adha di Perancis,” kata Fadli, yang juga kader dari partai yang dipimpin Presiden itu.
Menteri Agama Nasaruddin Umar ikut menjamin pelaksanaan ibadah Presiden berjalan lancar walaupun sedang melaksanakan agenda kenegaraan di luar negeri. Ia menerima laporan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Perancis jika ibadah shalat Idul Adha juga disiapkan.
Tak hanya itu, ia juga terus menjalin komunikasi dengan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang mendampingi perjalanan Presiden, untuk memastikan kelancaran jalannya ibadah, termasuk untuk pelaksanaan ibadah di Indonesia.
“Pak Presiden juga mengikuti perkembangan kita di Istiqlal. Buktinya kami komunikasi juga dengan Pak Seskab, dan sebagainya untuk menjamin semuanya berjalan,” kata Nasaruddin.
Sama seperti menteri lainnya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menilai, alasan Presiden melangsungkan kunjungan kenegaraan sudah disertai sederet pertimbangan khusus. Hal serupa berlaku jika Presiden menjalani kunjungan kenegaraan di dalam negeri. Artinya, keberangkatan Presiden menuju negara-negara sahabat itu selalu disertai tujuan khusus yang berguna untuk kepentingan orang banyak.
“Kami yakin nanti akan membawa untuk Indonesia di masa yang akan datang. Itu yang paling penting,” kata Saifullah.
Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam keterangan tertulis menyatakan, kunjungan resmi kenegaraan Presiden Prabowo di Perancis kali ini untuk memenuhi undangan dan sudah diagendakan sejak tahun lalu. Kunjungan sempat mengalami beberapa kali penjadwalan ulang.
Kunjungan resmi kenegaraan itu diharapkan semakin memperkuat hubungan strategis antara Indonesia dan Perancis. Sejauh ini, sebut dia, kedua negara itu telah menjalin kerja sama penting dalam berbagai sektor.
Ia berharap, sederet jalinan kerja sama itu bakal ikut memperkuat posisi Indonesia di kawasan Eropa. Bahkan, hubungan bilateral antara Indonesia dan Perancis dinilai mampu saling melengkapi pada tataran global.
Kami yakin nanti akan membawa untuk Indonesia di masa yang akan datang. Itu yang paling penting.
“Indonesia menjadi salah satu gerbang utama hubungan Eropa ke Asia, sementara Perancis merupakan gerbang penting bagi hubungan Asia, khususnya Asia Tenggara, menuju kawasan Eropa,” kata Teddy.
Walaupun begitu, sebut Teddy, Presiden akan menjalankan agenda lain terlebih dahulu sebelum menempuh agenda kenegaraan utamanya. Menurut rencana, Presiden melaksanakan shalat Idul Adha sekaligus bersilaturahmi dengan diaspora Indonesia di Wisma KBRI Paris pada perayaan Idul Adha 1447, Rabu, waktu setempat.





