JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga menilai, rencana Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kembali berkeliling Indonesia memiliki motif politik menjelang kontestasi politik 2029.
Jamiluddin menilai, setidaknya ada dua tujuan yang ingin dicapai Jokowi melalui agenda tersebut.
“Pertama, Jokowi ingin keliling Indonesia untuk menunjukkan basis massanya masih besar. Jokowi ingin pamer modal politiknya masih kuat,” kata Jamiluddin, dalam keterangannya, Rabu (27/5/2026).
Ia menilai, langkah itu merupakan sinyal politik kepada partai-partai politik bahwa Jokowi masih memiliki pengaruh elektoral yang diperhitungkan.
Baca juga: Amanat Jokowi di Balik Sikap Bara JP Dukung Prabowo-Gibran 2 Periode
Dengan demikian, kata dia, nilai tawar politik Jokowi di hadapan elite partai politik, termasuk Presiden Prabowo Subianto, diharapkan tetap tinggi.
Jamiluddin menilai, upaya tersebut juga berkaitan dengan peluang Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk kembali mendampingi Prabowo pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.
“Kalau hal itu terwujud, maka keinginan Jokowi untuk mengegolkan anaknya Gibran Rakabuming tetap mendampingi Prabowo pada Pilpres 2029 berpeluang tercapai," tutur dia.
Selain menjaga pengaruh politik pribadi, Jamiluddin menilai, Jokowi juga ingin meningkatkan elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Menurut dia, langkah tersebut diperlukan agar PSI mampu lolos ke DPR pada Pemilu Legislatif mendatang dan meningkatkan posisi tawar partai di kancah politik nasional.
“Target itu harus dicapai agar PSI dapat meningkat levelnya menjadi partai menengah," kata dia.
Baca juga: Meski Shalat Idul Adha di Perancis, Prabowo Tetap Ikuti Perkembangan di Masjid Istiqlal
Jamiluddin mengatakan, peningkatan elektabilitas PSI juga dapat menjadi modal politik tambahan untuk menjaga posisi Gibran di pemerintahan mendatang.
Meski demikian, ia menilai, upaya Jokowi tidak akan mudah karena situasi politik saat ini berbeda dibanding ketika Jokowi masih menjabat presiden.
“Jokowi saat ini bukanlah sosok sehebat saat menjabat presiden. Jokowi saat ini bukan lagi menjadi patron, tapi justru sosok yang penuh kontroversial," ungkap dia.
Ia menambahkan, sebagian pendukung fanatik Jokowi disebut mulai kecewa selama masa pemerintahannya, sehingga dukungan politik terhadap mantan wali kota Solo itu dinilai tidak lagi sebesar sebelumnya.
“Pendukung setianya tentu masih ada. Namun, kelompok ini tidak signifikan untuk mewujudkan dua target tersebut," ujar Jamiluddin.
Meski begitu, ia menilai, langkah Jokowi tetap wajar sebagai bagian dari upaya mempertahankan pengaruh politiknya di tingkat nasional.
Sebelumnya diberitakan, Jokowi mengaku kondisinya sudah sehat dan bersiap mendatangi undangan masyarakat ke berbagai daerah.
Baca juga: Prabowo ke Perancis, Fadli Zon Singgung Hubungan Baik Kedua Negara
Pernyataan itu Jokowi sampaikan menjawab pertanyaan wartawan terkait rencananya keliling daerah bersama PSI dan Projo di kediaman Sumber, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, Senin (24/5/2026).
“Ya, ini kan saya banyak undangan, undangan dari daerah-daerah untuk hadir dari masyarakat, ya saya sudah sehat dan saya akan datangi undangan-undangan yang ada,” kata Jokowi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



