Jakarta, VIVA – Gunung Semeru mengalami erupsi disertai awan panas guguran (APG) dengan jarak luncur tidak diketahui karena tertutup kabut pada Rabu siang. Gunung tersebut diketahui berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian mengungkapkan, srupsi Semeru tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi ± 3 menit 29 detik.
"Telah terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 11.22 WIB, namun tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut," kata diadalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang, 27 Mei 2027.
Berdasarkan data petugas, Gunung Semeru tercatat mengalami erupsi sebanyak tujuh kali sejak pukul 00.14 WIB hingga 11.22 WIB dengan tinggi letusan 600 meter hingga 800 meter di atas puncak.
"Erupsi itu berupa awan panas guguran dengan jarak luncur tidak diketahui dikarenakan gunung tertutup kabut," tuturnya.
Ia menjelaskan saat ini aktivitas vulkanik Gunung Semeru berada pada status Level III atau Siaga dengan rekomendasi masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).
"Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak," ujarnya.
Kemudian masyarakat juga tidak boleh beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).
Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.
"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," ujarnya. (Ant)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/7102510/original/016980500_1779885190-Pakis_Mangrove.jpeg)
