Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mengatakan kampus harus menjadi ruang integrasi antara ilmu pengetahuan dengan kesadaran ketuhanan.
Ia menyampaikan pesan tersebut dalam kegiatan bertajuk Rangkaian Shalat Idul Adha Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia yang dipantau daring melalui YouTube Masjid Ukhuwah Islamiyah UI di Jakarta Pusat, Rabu.
“Kampus harus memfasilitasi ruang-ruang akademik di mana ilmu pengetahuan diintegrasikan secara utuh dengan kesadaran ketuhanan,” kata Wamendiktisaintek Fauzan.
Ia mengatakan institusi pendidikan, termasuk pendidikan tinggi memegang peranan yang sangat strategis dan krusial sebagai kawah candradimuka untuk membentuk karakter peserta didik yang transendental.
Baca juga: Wamenag: Ketuhanan dan kebangsaan tak bisa dipisahkan
Menurutnya, ketauhidan dan kepasrahan bukanlah diadopsi melalui indoktrinasi buta, melainkan lewat proses pencarian ilmiah, observasi empiris dan penalaran kritis.
“Di era disrupsi saat ini, kemajuan teknologi berkembang begitu cepat, tetapi kemajuan itu sering tidak diiringi dengan kematangan moral. Banyak manusia kehilangan arah hidup, mengalami kekeringan spiritual, dan terjebak dalam budaya individualistik.
Oleh karena itu, Fauzan menambahkan bahwa para pendidik harus terus berupaya untuk menumbuhkan kesadaran yang bermakna dalam setiap aktivitas akademiknya.
Ia menilai penerapan gaya pendidikan yang partisipatif akan sangat menghargai anak didik karena merupakan model komunikasi dua arah yang mencerahkan, demokratis, namun sarat akan nilai-nilai ketundukan moral.
Baca juga: Kemdiktisaintek dorong kampus menjadi lokomotif peradaban
“Melalui keterpaduan antara keteladanan pendidik dan cara berpikir anak didik, perguruan tinggi dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas otaknya, namun juga kokoh kepasrahan jiwanya di tengah badai krisis mental global,” ujarnya.
Ia menyampaikan pesan tersebut dalam kegiatan bertajuk Rangkaian Shalat Idul Adha Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia yang dipantau daring melalui YouTube Masjid Ukhuwah Islamiyah UI di Jakarta Pusat, Rabu.
“Kampus harus memfasilitasi ruang-ruang akademik di mana ilmu pengetahuan diintegrasikan secara utuh dengan kesadaran ketuhanan,” kata Wamendiktisaintek Fauzan.
Ia mengatakan institusi pendidikan, termasuk pendidikan tinggi memegang peranan yang sangat strategis dan krusial sebagai kawah candradimuka untuk membentuk karakter peserta didik yang transendental.
Baca juga: Wamenag: Ketuhanan dan kebangsaan tak bisa dipisahkan
Menurutnya, ketauhidan dan kepasrahan bukanlah diadopsi melalui indoktrinasi buta, melainkan lewat proses pencarian ilmiah, observasi empiris dan penalaran kritis.
“Di era disrupsi saat ini, kemajuan teknologi berkembang begitu cepat, tetapi kemajuan itu sering tidak diiringi dengan kematangan moral. Banyak manusia kehilangan arah hidup, mengalami kekeringan spiritual, dan terjebak dalam budaya individualistik.
Oleh karena itu, Fauzan menambahkan bahwa para pendidik harus terus berupaya untuk menumbuhkan kesadaran yang bermakna dalam setiap aktivitas akademiknya.
Ia menilai penerapan gaya pendidikan yang partisipatif akan sangat menghargai anak didik karena merupakan model komunikasi dua arah yang mencerahkan, demokratis, namun sarat akan nilai-nilai ketundukan moral.
Baca juga: Kemdiktisaintek dorong kampus menjadi lokomotif peradaban
“Melalui keterpaduan antara keteladanan pendidik dan cara berpikir anak didik, perguruan tinggi dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas otaknya, namun juga kokoh kepasrahan jiwanya di tengah badai krisis mental global,” ujarnya.





