jakarta.jpnn.com - Ketua Umum Himpunan Masyarakat Lombok (HIMALO) Karman BM menilai kebijakan Presiden Prabowo Subianto menggunakan APBN untuk berkurban tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan.
Menurut dia, bantuan presiden (banpres) bukan hal baru dalam adminstrasi pemerintahan.
BACA JUGA: Apresiasi Pidato Prabowo, Karman BM Berharap Hilirisasi Harus Jadi Jalan Menuju Keadilan Ekonomi
Karman BM menilai penggunakan dana itu untuk kurban merupakan trigger demi membangun solidaritas sosial antarwarga.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP GPII) 2013-2017 mengatakan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menjelaskan tidak ada persoalan dari sisi syariat terkait kebijakan tersebut.
BACA JUGA: Presiden Prabowo Minta Masyarakat Merekam Aparat yang Sewenang-wenang
“Substansi kurban dalam Islam ialah membangun kesalehan sosial, kepedulian kepada sesama, terutama masyarakat kecil yang membutuhkan perhatian negara,” ujar Karman di Jakarta, Rabu (27/5).
Menurutnya, ketika Presiden mengalokasikan anggaran qurban melalui negara, hal itu justru menjadi bentuk keteladanan seorang pemimpin kepada rakyatnya.
BACA JUGA: Prabowo Bilang Masyarakat Desa Tidak Pakai Dolar, Dudung: Beliau Pemimpin yang Bijak
Dia menilai kepala negara memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan kebijakan yang mampu memperkuat solidaritas sosial dan kebersamaan di tengah masyarakat.
“Kita harus melihat dari sisi manfaatnya untuk rakyat. Presiden ingin memberi contoh bahwa pemimpin harus hadir, berbagi dan peduli terhadap masyarakat. Ini bentuk teladan yang baik dan sejalan dengan nilai gotong royong bangsa Indonesia,” katanya.
Karman juga menilai polemik yang berkembang seharusnya tidak diarahkan pada upaya membenturkan nilai keagamaan dengan kebijakan sosial pemerintah.
Menurut dia, selama penggunaan anggaran dilakukan secara transparan, akuntabel, dan memberi manfaat nyata kepada masyarakat, kebijakan tersebut justru patut diapresiasi.
Dia menambahkan program kurban yang melibatkan negara bisa membantu pemerataan distribusi daging ke daerah-daerah yang selama ini minim akses, termasuk wilayah terpencil dan masyarakat prasejahtera.
Dengan demikian, semangat keadilan sosial dalam perayaan Iduladha bisa dirasakan lebih luas oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Kita jangan melihat kurban hanya sebagai simbol seremonial. Ada nilai pemerataan, solidaritas dan perhatian negara kepada rakyat kecil. Apalagi dalam momentum Iduladha, semangat berbagi dan membantu masyarakat harus menjadi prioritas bersama,” kata Karman BM. (jos/jpnn)
Redaktur & Reporter : Ragil




