Brasil Raup Untung dari Konflik Timur Tengah, Ekspor Minyak ke Asia Naik

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Brasil menjadi salah satu negara produsen minyak yang dinilai paling diuntungkan dari konflik di Timur Tengah yang menyebabkan keterbatasan pasokan ke pasar global.

Melansir Al Jazeera pada Rabu (27/5/2026), sulitnya akses terhadap minyak dari kawasan Teluk, ditambah pasokan Rusia yang masih terbatas akibat sanksi, membuat pembeli di Asia berburu sumber minyak dari negara yang dinilai lebih aman dan andal.

Dalam kondisi tersebut, Brasil yang sudah menjadi salah satu eksportir minyak terbesar dunia muncul sebagai pihak yang paling diuntungkan.

Spesialis pemodelan kilang dan pasar minyak Kpler, Sumit Ritolia, mengatakan gangguan akibat perang Iran dan penutupan Selat Hormuz telah meningkatkan peran Brasil sebagai pemasok minyak marjinal bagi pasar Asia.

“China dan India khususnya meningkatkan pembelian minyak mentah Brasil untuk mengamankan pasokan yang tidak terdampak gangguan pengiriman di kawasan Teluk,” ujarnya.

Analis menilai Brasil memang belum mampu menggantikan Timur Tengah sebagai pemasok utama minyak Asia. Namun, meningkatnya risiko pengiriman di Teluk Persia seiring penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran serta blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran membuat minyak Brasil semakin menarik bagi kilang yang ingin menghindari guncangan pasokan.

Berdasarkan data Kpler, negara-negara Asia mengimpor sekitar 1,2 juta barel per hari (barrel per day/bpd) minyak mentah dari Brasil sepanjang 2025. Angka tersebut naik menjadi sekitar 1,8 juta bpd pada periode Januari—Mei 2026, mencerminkan meningkatnya peran Brasil dalam strategi diversifikasi pasokan Asia di luar kawasan Teluk.

Sebelum ketegangan Timur Tengah meningkat, Brasil sebenarnya telah lebih dulu meningkatkan produksi minyak melalui sejumlah proyek lepas pantai utama.

Data Kpler menunjukkan produksi minyak Brasil mencapai sekitar 3,77 juta bpd pada 2025. Adapun sepanjang Januari—Mei 2026, produksinya naik menjadi rata-rata 4,06 juta bpd dengan capaian 4,11 juta bpd pada Mei.

Meski demikian, Ritolia menilai kenaikan tersebut bukan semata-mata disebabkan lonjakan produksi akibat perang.

“Sejak Maret 2026, produksi Brasil hanya meningkat tipis sekitar 50.000 hingga 100.000 bpd, yang menunjukkan fleksibilitas jangka pendek masih terbatas untuk meningkatkan pasokan secara cepat sebagai respons terhadap gangguan global,” katanya.

Menurut dia, perubahan terbesar justru terlihat dari arah tujuan ekspor minyak Brasil.

Perusahaan migas pelat merah Brasil, Petrobras, semakin mengalihkan ekspor ke Asia karena kilang di kawasan itu bersedia membayar lebih tinggi untuk minyak yang tidak melewati Teluk Persia.

Lebih dari 60% ekspor Petrobras kini mengalir ke China, sementara ekspor ke AS dilaporkan turun menjadi nol dari sekitar 60.000 bpd pada Maret lalu, menurut oilprice.com.

Perubahan arus perdagangan itu mulai memberi manfaat bagi ekonomi Brasil. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada Maret melaporkan kenaikan harga minyak diperkirakan menopang neraca perdagangan Brasil.

Selain itu, Kementerian Keuangan Brasil memperkirakan harga minyak Brent di level US$100 per barel dapat menghasilkan tambahan penerimaan setara hampir 1% produk domestik bruto (PDB) di atas proyeksi anggaran 2026 saat ini.

China dan India Borong Minyak Brasil

Permintaan dari China menjadi pendorong utama kenaikan ekspor minyak Brasil. Data Kpler menunjukkan impor minyak Brasil oleh China rata-rata mencapai 1,316 juta bpd sepanjang Januari—Mei 2026, melonjak dibandingkan sekitar 704.000 bpd pada 2025.

Secara nilai, data resmi Brazil-China Business Council mencatat nilai ekspor minyak mentah Brasil ke China melonjak hampir 95% menjadi US$7,2 miliar pada kuartal I/2026.

Sementara itu, India juga meningkatkan pembelian secara signifikan. Impor minyak Brasil oleh India rata-rata mencapai sekitar 238.000 bpd pada Januari—Mei 2026, naik dari sekitar 100.000 bpd pada 2025.

Bahkan pada April 2026, Brasil menjadi pemasok minyak mentah terbesar keempat bagi India.

“China dan India, bersama negara-negara Asia lainnya, membutuhkan alternatif di luar Hormuz yang lebih aman secara politik dan tersedia secara fisik,” ujar Ritolia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
68 Ribu Hewan Kurban Disembelih di Jakarta pada Idul Adha 1447 H
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Rapor Pemain Naturalisasi di BRI Super League 2025/2026: Siapa yang Punya Nilai Tertinggi?
• 17 jam lalubola.com
thumb
Istiqlal Tak Bagi Daging Kurban Langsung ke Warga, Distribusi ke Lembaga Binaan
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Peminat Proyek Sampah Jadi Listrik Melonjak 4 Kali Lipat, Investor Asing Beragam
• 14 jam lalukatadata.co.id
thumb
Purbaya Tak Tahu Sapi Kurban Prabowo Pakai APBN hingga Rp100 Miliar
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.