Dugaan pemalsuan riset berbasis kecerdasan buatan atau AI yang menyeret sejumlah warga negara Indonesia menjadi perhatian publik internasional setelah disebut terbongkar dalam konferensi ilmiah di Denmark.
Kasus itu ramai diperbincangkan usai akun media sosial @mandharabrasika mengungkap dugaan manipulasi riset yang dilakukan secara terorganisir dalam konferensi internasional bidang pneumonia di Kopenhagen.
Baca Juga: Sherly Tjoanda Kaget Temukan Bocah 10 Tahun Tak Mau Sekolah, Langsung Janji Kirim Tas Baru
“Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia,” tulis akun tersebut.
Kasus ini bukan hanya soal dugaan fabrikasi data ilmiah, tetapi juga tudingan adanya pergantian identitas saat presentasi berlangsung.
Dalam unggahan tersebut, salah seorang peserta disebut diduga mengganti nama, jilbab, hingga nametag ketika tampil di forum ilmiah.
Tak hanya itu, riset yang dipresentasikan juga dituding menggunakan data buatan AI, termasuk gambar dan tulisan penelitian yang disebut tidak valid.
Lokasi penelitian dalam makalah bahkan diklaim berada di berbagai negara seperti Peru, Etiopia, Guatemala, Lebanon, Bangladesh, Sudan Selatan, Kenya, Nepal, hingga India utara.
Namun, akun tersebut mempertanyakan kejanggalan karena seluruh peneliti disebut berasal dari Indonesia tanpa kolaborator lokal maupun dokumen persetujuan etik penelitian.
Menurut unggahan itu, dugaan manipulasi dilakukan demi memperoleh travel grant atau bantuan perjalanan ke luar negeri.
“Gratis, karena yang bayar mahal adalah Indonesia yang nama baiknya rusak di mata ilmuwan dunia,” tulis akun tersebut.
Baca Juga: Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud Tak Bisa Dipaksa Mundur, DPRD: Dia Punya Amanah dari Hampir Sejuta Warga
Kasus ini kini menjadi sorotan luas di media sosial karena dinilai mencoreng reputasi akademik Indonesia di forum internasional.





