JAKARTA, KOMPAS.com - Ibu Maria Bernadeth Latifah Oetama, istri pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama, meninggal dunia pada usia 91 tahun, Selasa (26/5/2026).
Rencananya, misa requiem atau misa arwah akan dilaksanakan di rumah duka di Jalan Sriwijaya Raya Nomor 40, Jakarta Selatan, pada Kamis (28/5/2026) pukul 18.30 WIB.
Selepas misa akan digelar prosesi tutup peti.
Baca juga: Istri Jakob Oetama, Maria Bernadeth Latifah Oetama, Meninggal Dunia
Kemudian pada Jumat (29/5/2026) pukul 09.00 WIB akan dilakukan misa pelepasan, dilanjutkan dengan pemakaman di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
KesederhanaanPutra sulung Jakob Oetama, Irwan Oetama, menyampaikan rasa syukur karena dapat hidup bersama kedua orangtuanya hingga usia yang tidak lagi muda.
“Jadi ibu kami ini mempunyai 5 anak, 7 cucu, dan 5 buyut. Kenapa kami mengucap syukur kepada orangtua kami. Adik kami paling kecil (Lilik Oetama) sekarang sudah umur 61, saya paling besar umur 68. Baru kemarin ini saya dibilang saya anak yatim piatu. Jadi coba bayangkan betapa lamanya kita bersama ayah dan ibu,” kata Irwan saat memberika kata sambutan di rumah duka di Jakarta Selatan.
Baca juga: Menag Melayat ke Rumah Duka Maria Bernadeth Latifah Oetama: Beliau Sangat Berjasa
Ia kemudian mengenang pola hidup sederhana yang diterapkan kedua orangtuanya sejak kecil.
Menurut Irwan, dirinya dan saudara-saudaranya terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga.
“Ibu ini adalah pendidik kami di rumah. Dari kecil kami berlima tidak dibantu seperti teman-teman yang lain yang beruntung. Di rumah enggak ada asisten rumah tangga. Kami berlima bekerja bergotong royong urus rumah, pakaian, setrika sampai saya lulus SMA kelas 3,” ujar dia.
Irwan juga mengenang kebiasaan masa kecilnya yang berjalan kaki ke sekolah dan menggunakan transportasi umum.
Menurut Irwan, pola hidup sederhana dan aktif tersebut menjadi salah satu alasan kedua orangtuanya dapat berusia panjang.
“Sekarang ini kami mengalami kenapa kok orangtua kami umur panjang. Karena segala sesuatunya dijalankan sendiri. Sementara teman kita lain naik motor, diantar naik mobil. Dari kita berjalan itu, itulah kita dikasih kesehatan, jadi sangat sederhana,” ucap dia.
Ia juga mengenang keseharian sang ibu yang selalu bangun pagi dan menyiapkan kebutuhan keluarga.
Irwan mengatakan, nilai-nilai kehidupan yang diajarkan kedua orangtuanya diperoleh melalui keseharian, bukan hanya teori.
“Satu lagi kami pelajari, kebetulan ayah seorang guru dan ibu orang pendidikan juga. Jadi hal-hal yang saya dapat itu bukan teori dari buku, tapi keseharian,” ujarnya.
Ia juga mengenang kepergian sanga ayah, Jakob Oetama, pada 2020 dan meyakini kedua orangtuanya kini telah kembali bersama.
“Jadi 2020 bapak meninggalkan ibu, dan enam tahun berpisah kembali lagi bersama. Dan kami yakin orangtua kami ini sudah bertemu dalam alam yang lain yang kekal bahagia, tidak ada drama lagi,” kata Irwan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




