Prihantini akhirnya memberikan klarifikasi awal terkait tuduhan pemalsuan riset berbasis akal imitasi (AI) yang ramai dibahas di media sosial.
Melalui komunikasi dengan pihak Universitas Negeri Yogyakarta, Prihantini menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang menyeret nama kampus.
Baca Juga: FIFA Kaget, Amerika Serikat Ogah Terima Kehadiran Timnas Iran di Piala Dunia 2026
Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Nur Hidayanto mengatakan Prihantini juga menyebut ada miskonsepsi yang berkembang cepat di media sosial. Menurut Nur, Prihantini merasa informasi yang tersebar tidak sepenuhnya benar.
Klarifikasi ini menunjukkan bahwa narasi yang viral di media sosial belum tentu sepenuhnya sesuai dengan versi pihak yang dituduh.
Saat ini, Prihantini disebut sedang menyiapkan penjelasan resmi terkait tudingan yang menyeret namanya.
“Kalau masalah seperti ini kan tidak satu pihak yang memutuskan. Pasti ada duduk bersama,” kata Nur.
Sementara itu, pihak kampus mengaku masih melakukan penelusuran internal dan belum mengambil kesimpulan final.
Kasus ini sebelumnya ramai setelah akun @mandharabrasika menuding adanya pemalsuan riset berbasis AI oleh sejumlah orang Indonesia dalam konferensi internasional di Denmark.
Dalam unggahan tersebut, peserta disebut diduga memanfaatkan AI untuk membuat data penelitian, gambar, hingga tulisan ilmiah demi memperoleh travel grant ke luar negeri.
“Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia,” tulis akun tersebut.
Kasus ini bukan hanya soal dugaan fabrikasi data ilmiah, tetapi juga tudingan adanya pergantian identitas saat presentasi berlangsung.
Dalam unggahan tersebut, salah seorang peserta disebut diduga mengganti nama, jilbab, hingga nametag ketika tampil di forum ilmiah.
Baca Juga: Bedah Rumah Warga, Sherly Tjoanda Bakal Kucurkan Dana Renovasi Rp45 Juta
Tak hanya itu, riset yang dipresentasikan juga dituding menggunakan data buatan AI, termasuk gambar dan tulisan penelitian yang disebut tidak valid.





