Spekulasi Tarif Transit Selat Hormuz Picu Gejolak pada Pasar Minyak Global

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pasar minyak global bergerak fluktuatif sepanjang pekan ini di tengah kekhawatiran investor terhadap kemungkinan rencana Iran memberlakukan pungutan permanen bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan damai dengan Amerika Serikat (AS).

Harga minyak mentah Brent internasional kembali melemah pada perdagangan Rabu (27/5/2026), membalikkan penguatan pada sesi sebelumnya. 

Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga turun seiring pelaku pasar mencoba menilai dampak serangan terbaru AS terhadap Iran pada Selasa yang disebut sebagai “serangan defensif” oleh Komando Pusat AS.

Situasi tersebut muncul di tengah spekulasi bahwa Teheran berpotensi menarik biaya transit bagi kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis itu sebagai bagian dari penyelesaian permanen konflik tiga bulan dengan Washington.

Presiden S&P Global Energy Dave Ernsberger mengatakan pasar saat ini cenderung berhati-hati karena banyaknya sinyal yang saling bertentangan terkait status negosiasi.

“Pelaku pasar khawatir mengambil posisi karena terlalu banyak pesan yang bercampur mengenai perkembangan negosiasi,” ujarnya dikutip dari CNBC International.

Baca Juga

  • Emiten Pelayaran Angkat Sauh Sambut Pembukaan Kembali Selat Hormuz
  • Iran Sebut 26 Kapal Berhasil Melintas di Selat Hormuz dalam 24 Jam
  • AS Klaim Ada Kemajuan Soal Pembukaan Selat Hormuz "Tanpa Pungutan"

Salah satu skema yang disebut-sebut adalah Iran dan Oman akan mengatur bersama lalu lintas di Selat Hormuz dan mengenakan semacam “biaya lingkungan” atau tarif transit bagi kapal.

Ernsberger menilai wacana tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai apakah pasar global dan pemerintah negara-negara lain akan menerima penerapan pungutan untuk jalur pelayaran internasional tersebut.

“Prinsip kebebasan lalu lintas maritim menjadi hal utama yang dipertaruhkan, termasuk preseden yang dapat ditimbulkan,” katanya.

Harga minyak Brent, yang menjadi acuan global dan dinilai paling sensitif terhadap gangguan pasokan di Timur Tengah, turun 2,8% menjadi US$98,47 per barel pada Rabu. Sehari sebelumnya, Garda Revolusi Iran berjanji akan membalas serangan AS.

Adapun hingga kini, detail mengenai mekanisme pungutan tersebut masih belum jelas.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan tidak ada tarif untuk melintasi Selat Hormuz. Namun, dia menegaskan bahwa navigasi serta perlindungan ekosistem Selat Hormuz, Teluk Persia, dan Laut Oman tetap membutuhkan biaya.

Sekitar seperlima pasokan minyak laut dunia melewati Selat Hormuz, jalur sempit yang berada di antara Iran dan Oman.

Ernsberger mengatakan pungutan yang dibahas berkisar US$1 per barel untuk minyak yang melewati selat tersebut.

Menurutnya, biaya sebesar itu mungkin tidak terlalu signifikan ketika harga minyak berada di level US$120 per barel. Namun, jika harga kembali ke kisaran US$55 per barel seperti pada Desember lalu, maka dampaknya akan jauh lebih besar terhadap perdagangan minyak global.

Dia menambahkan, biaya tersebut pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga minyak global atau harus ditanggung produsen melalui kenaikan biaya ekspor.

Kepala Middle East Energy and OPEC+ Insights Kepler, Amena Bakr, mengatakan ketidakpastian yang meningkat serta pesan yang bertolak belakang terkait negosiasi telah memperbesar volatilitas harga minyak.

“Kami belum mengetahui seperti apa bentuk kerangka kesepakatan tersebut,” ujarnya.

Meski terdapat peluang pembukaan kembali Selat Hormuz, pasar masih mempertanyakan stabilitas dan keandalan pengiriman minyak melalui jalur tersebut.

Ernsberger mengatakan sejumlah kapal memang mulai melintas di Selat Hormuz, tetapi lalu lintasnya baru sekitar 10% dari kondisi normal sebelum konflik pecah.

“Faktanya, sangat sedikit kapal tanker minyak mentah maupun produk olahan yang benar-benar melintas. Jika ada 10 kapal per hari, kemungkinan hanya dua di antaranya yang merupakan tanker minyak,” katanya.

Dia memperkirakan produksi minyak di Qatar, Irak, dan sebagian wilayah Arab Saudi membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk kembali normal. Sementara itu, lalu lintas pelayaran diperkirakan baru pulih sepenuhnya pada kuartal IV/2026.

Bakr menambahkan, proses penguraian antrean pengiriman secara optimistis membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Namun, secara realistis pemulihan pasokan ke level sebelum perang dapat memakan waktu hingga satu tahun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Idul Adha Dorong Ekonomi Indonesia, Purbaya Yakin Target Pendapatan Tercapai
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Purbaya Pakai Data Penjualan Mobil dan Listrik untuk Ukur Daya Beli
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
DEFEND ID Catat Lonjakan Laba Bersih 430,1 Persen pada Tahun Buku 2025 Usai Efisiensi Operasional dan Penguatan Proyek Strate
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Eks Napiter di Bantul Terima Daging Kurban Hibah dari Presiden Prabowo
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Daftar Pemain Timnas Belanda di Piala Dunia 2026: Koeman Coret Xavi Simons hingga De Vrij
• 11 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.