Geger WNI Diduga Lakukan Riset Palsu, Mendiktisaintek hingga UNY Buka Suara

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Geger dugaan pemalsuan riset yang dilakukan sekelompok WNI untuk mengikuti konferensi ilmiah yang diselenggarakan di Kopenhagen, Denmark.

Dugaan skandal pemalsuan riset ini diungkap oleh Wa Ode Dwi Daningrat di akun Instagramnya, Senin (25/5) lalu, dan viral di media sosial.

Wa Ode Dwi Daningrat atau Dwi merupakan peneliti Indonesia yang berkiprah di bidang clinical medicine di University of Oxford. Dwi menemukan kejanggalan terhadap abstrak ilmiah yang disodorkan sekelompok periset tersebut dalam ISPPD 2026 yang berlangsung pada 17-21 Mei 2026.

ISPPD atau International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases merupakan forum ilmiah global utama di bidang pneumonia dan penyakit pneumokokal. Forum ini mempertemukan ribuan ilmuwan, dokter, epidemiolog, dan peneliti kesehatan dari berbagai negara.

Menurut Dwi, sekelompok periset itu menyodorkan 19 abstrak yang dipamerkan dalam acara tersebut. Menurutnya, jumlah abstrak sebanyak itu tidak masuk akal dibuat dalam waktu singkat. Terlebih, kata dia, abstrak tersebut tidak akurat dan mengandung fabrikasi data termasuk penggunaan artificial intelligence (AI).

Mendiktisaintek Menelusuri

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyatakan, pihaknya tengah mendalami dugaan pemalsuan riset yang dilakukan sekelompok WNI untuk mengikuti konferensi ilmiah di Kopenhagen, Denmark.

"Kemdiktisaintek memberikan perhatian terhadap informasi yang berkembang terkait dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian yang melibatkan pihak yang menggunakan afiliasi institusi di Indonesia," kata Brian pada Rabu (27/5).

Ia mengatakan pemerintah saat ini masih terus melakukan koordinasi untuk memastikan fakta-fakta yang sebenarnya terkait kasus tersebut.

"Saat ini kami terus melakukan koordinasi dan pendalaman bersama pihak terkait untuk memastikan fakta-fakta yang sebenarnya, termasuk status yang bersangkutan, bentuk afiliasi yang digunakan, serta keterkaitannya dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga riset di Indonesia," ujarnya.

Brian menegaskan penanganan kasus tersebut harus mengedepankan prinsip kehati-hatian dan verifikasi objektif berdasarkan mekanisme yang berlaku di lingkungan akademik dan penelitian.

"Namun demikian, kita juga harus mengedepankan prinsip kehati-hatian. Semua pihak perlu diberikan ruang klarifikasi, dan setiap dugaan perlu diverifikasi secara objektif berdasarkan bukti serta mekanisme yang berlaku di lingkungan akademik dan penelitian," kata Brian.

Pengaruhi Integritas Peneliti Indonesia

Menurut Brian, dugaan kasus tersebut berpotensi memengaruhi persepsi internasional terhadap integritas peneliti Indonesia.

"Kami memahami bahwa kasus seperti ini dikhawatirkan dapat berdampak pada persepsi internasional terhadap integritas peneliti Indonesia. Karena itu, integritas akademik harus menjadi fondasi utama ekosistem pendidikan tinggi dan riset kita. Praktik fabrikasi data, falsifikasi, maupun penyalahgunaan afiliasi akademik tentu tidak dapat dibenarkan," tuturnya.

Meski demikian, Brian meminta publik melihat persoalan tersebut secara proporsional dan tidak menggeneralisasi komunitas ilmiah Indonesia secara keseluruhan.

“Namun kita juga perlu melihat secara proporsional. Indonesia memiliki sangat banyak peneliti, dosen, mahasiswa, dan inovator yang bekerja secara profesional, menjunjung standar etik dan integritas yang baik, memiliki reputasi, serta terus menghasilkan riset yang diakui secara internasional. Karena itu, kasus yang melibatkan segelintir pihak tidak boleh menutupi capaian dan kerja keras komunitas ilmiah Indonesia secara keseluruhan," ujar Brian.

Ia juga menyampaikan berdasarkan informasi awal, pihak-pihak dalam kasus tersebut bukan dosen maupun peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia.

"Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Meski demikian, persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas," kata Brian.

UNY Telusuri Dugaan Keterlibatan Alumni

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) buka suara terkait adanya dugaan keterlibatan dua alumninya dalam kasus dugaan pemalsuan riset untuk mengikuti konferensi ilmiah di Kopenhagen, Denmark.

Pihak kampus mengaku tengah mendalami identitas dua nama yang ramai dibicarakan sebagai alumni UNY di media sosial, yaitu Rifaldy Fajar dan Prihantini.

Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro, mengatakan pihaknya menemukan dua nama tersebut dalam basis data alumni. Namun, ia belum bisa memastikan bahwa keduanya adalah benar alumni UNY.

"Kalau di database kami, ada dua nama yang sama dengan dua orang yang sedang viral tersebut. Ini masih kami dalami karena data yang digunakan saat publikasi berganti-ganti dan tidak ada nama departemen atau prodi tersebut di UNY,” kata Nur kepada kumparan, Rabu (27/5).

Pihaknya saat ini masih menelusuri dan mencoba menghubungi dua alumni yang namanya dikaitkan dalam polemik tersebut.

"Saat ini kami meminta teman-teman dosen dari FMIPA untuk reach out dua nama alumni yang ada di database kami. Karena memang sosmed beliau berdua sepertinya tidak bisa dikontak juga," katanya.

Nur mengatakan, salah satu nama yang disebut, yakni Prihantini, sudah berhasil dihubungi pihak kampus. Menurutnya, Prihantini akan melakukan klarifikasi di media sosial pribadinya. Sementara Rifaldy masih belum bisa dikontak.

“Ini Rifaldy yang ada di database kami belum bisa kami kontak," kata Nur.

"Kami berhasil menghubungi Prihantini, responsnya nggih akan ada klarifikasi di sosmed. Sepertinya nomor hp-nya dibanjiri pesan juga," lanjut dia.

Nur juga menjelaskan dua nama yang ada dalam basis data berasal dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

"Kalau yang ada di kami demikian (dari FMIPA)," katanya.

Ia menjelaskan, nama Rifaldy tercatat sebagai angkatan 2014 dan lulus pada 2017. Sedangkan nama Prihantini tercatat sebagai angkatan 2015 yang lulus tahun 2018.

"Sudah benar yang ini. Atas nama R angkatan 2014 dan P angkatan 2015," ujar Nur.

Apabila keduanya terbukti merupakan alumni yang terlibat dalam dugaan pemalsuan riset tersebut, Nur menyebut pihak kampus akan berdiskusi terkait sanksi atau langkah etik yang akan diberikan.

"Mengenai hal ini [sanksi], perlu kami bicarakan dengan pimpinan dan komite etik sepertinya. Supaya tidak menyalahi aturan," ujar Nur.

"Intinya, jika benar keduanya alumni, perlu kami diskusikan dengan pimpinan, komite etik dan pihak terkait untuk mengambil langkah selanjutnya," pungkasnya.

Pemalsuan Riset Pelanggaran Berat

Dokter epidemiolog sekaligus peneliti dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, turut prihatin dengan adanya pemalsuan identitas akademik demi keuntungan pribadi seperti travel grant, reputasi, atau akses konferensi internasional.

"Tentunya ini bukan sekadar nakal secara akademik, tapi sudah masuk pelanggaran serius ya, integritas ilmiah berat ya, atau scientific misconduct dan dalam dunia riset global ini setara dengan pelanggaran etik profesional ya," ujarnya kepada kumparan, Rabu (27/5).

"Jadi sebetulnya travel grant itu bukan hadiah jalan-jalan, itu investasi akademik untuk pertukaran ilmu, kolaborasi riset, dan peningkatan kapasitas ilmiah," tambahnya.

Menurut Dicky, kecurangan akademik ini merupakan kombinasi dari sejumlah masalah besar. Yang pertama, komersialisasi dan industrialisasi prestige akademik. Ia menilai publikasi, konferensi internasional, atau travel grant, ataupun sertifikat speaker dilihat sebagai simbol status sosial, bukan lagi proses ilmiah.

Kedua, Dicky menyebut ada andil dari lemahnya literasi metodologi penelitian. Banyak orang bisa membuat tulisan yang terlihat ilmiah, namun tak memahami epistemologinya, validitas, bias, bahkan etika penelitian.

Lebih lanjut, Dicky menilai bahwa fraud akademik dapat mengganggu kepercayaan internasional terhadap dunia akademik Indonesia.

"Terutama kalau institusi menutup-nutupi, pemerintah juga tidak ada respons, tidak ada investigasi, tidak ada sanksi, atau juga pemerintah membiarkan budaya asal publish dibiarkan ini. Karena dalam dunia akademik global reputasi itu dibangun bertahun-tahun," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Candi Borobudur Tetap Buka Saat Waisak Minggu 31 Mei 2026, Cek Jam Operasional
• 10 jam laluliputan6.com
thumb
BGN Ubah Distribusi MBG Jadi 5 Hari Demi Efisiensi Anggaran
• 52 menit lalukompas.com
thumb
Wali Kota Makassar Munafri: Festival Keberkahan Kurban Bosowa Peduli Jadi Ajang Berbagi dan Pemberdayaan Masyarakat
• 1 jam laluterkini.id
thumb
Bagaimana Kondisi Pelaksanaan Ibadah Haji Tahun Ini?
• 21 jam lalukompas.id
thumb
Siswi SD di Makassar Dibunuh Tetangga, Jasadnya Ditemukan di Rumah Kosong
• 20 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.