JAKARTA, KOMPAS.com - Suara takbir dan aroma jerami basah bercampur dengan bau khas hewan kurban memenuhi area masjid di sejumlah wilayah Jakarta dan sekitarnya menjelang Idul Adha 1447 Hijriah.
Di balik ramainya proses penyembelihan, ada para jagal yang telah puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk pekerjaan yang bagi sebagian orang terasa berat dan menegangkan.
Supardihan alias Eko (53), misalnya. Pria asal Kabupaten Bogor itu sudah menekuni profesi jagal sejak 1998. Awalnya, ia hanya diajak ayahnya membantu menyembelih kambing kecil untuk mempelajari teknik dasar penyembelihan.
Seiring waktu, Eko semakin terbiasa memegang pisau, menangani sapi dan kambing, hingga memahami karakter hewan kurban. Baginya, menjadi jagal bukan sekadar pekerjaan memotong hewan, melainkan bagian dari ibadah yang harus dijalankan dengan penuh ketulusan.
Baca juga: Jagal Ungkap Penyebab Sapi Kurban Mengamuk: Stres karena Kerumunan Penonton
“Masalah syariat-syariatnya kami harus benar, bacanya, gerakan memotong. Supaya si daging ini enggak gimana gitulah supaya harum kan gitu ada tata bahasanya,” ujar Eko saat ditemui usai menjagal sapi dan kambing di kawasan Masjid Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2026).
Di usianya yang hampir 54 tahun, Eko mengaku sempat ingin berhenti menjadi jagal. Namun, setiap kali mendapat panggilan untuk penyembelihan kurban atau aqiqah, ia selalu sulit menolak.
Ia merasa pekerjaan tersebut merupakan amanah sekaligus kehormatan yang tidak diberikan kepada semua orang.
“Sama saja (dengan kerja hari biasa), kalau ini bedanya begini, kalau kita nyembelih ya satu istilahnya kehormatan juga ya kan, dan memang tugas dari yang Maha Kuasa,” kata Eko.
Bagi Eko, hubungan antara jagal dan hewan kurban bukan sekadar soal teknis penyembelihan. Ia percaya sapi maupun kambing juga dapat merasakan ketulusan orang yang menanganinya.
Karena itu, sebelum proses penyembelihan dilakukan, ia berusaha membangun komunikasi batin dengan hewan kurban agar lebih tenang.
“Apa yang mau kita sembelih, juga harus kita sayangi. Jadi supaya yang mau kita sembelih itu merasakan, hati kita juga tulus sama dia,” ujar Eko.
Baca juga: Intip Tarif Jasa Jagal Kurban Bersertifikat di Jakarta, dari Potong Saja hingga Pemisahan Daging
Ia bahkan mengaku kerap “berbicara” dengan sapi yang hendak disembelih.
“Istilahnya ‘Ayo itu sudah tugas kamu sekarang, sudah waktunya kamu’. Ya manusia juga sama saling menyayangi. ‘Mungkin tugas kamu ini ya, mungkin insya Allah nanti di sana juga kamu ketemu lagi’,” tutur dia.
Menurut Eko, tanpa ketenangan dan pendekatan emosional, hewan kurban bisa memberontak ketika hendak disembelih.
Di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, seorang jagal senior bernama Iyung (64) masih terlihat sibuk berpindah dari satu lokasi penyembelihan ke lokasi lainnya.
Pria asal Tanah Abang itu sudah menjadi jagal sejak usia 17 tahun dan meneruskan profesi keluarganya secara turun-temurun. Dalam sehari, ia mengaku terbiasa menyembelih puluhan hingga ratusan hewan.
“Bukan potong sebulan dua bulan. Setiap hari, bukan tahunan ya. Setiap hari, saya memotong 150 ekor, 100, sampai 50 ekor,” kata Iyung.
Pengalaman panjang membuatnya memahami berbagai risiko saat menangani sapi maupun kerbau kurban. Salah satu yang paling ia waspadai adalah sapi Bali.
“Saya tuh takut kalau yang namanya sapi Bali. Itu ada pernah kejadian ustadz pernah ketusuk,” ujar dia.
Baca juga: Bagi Yudi, Menjadi Jagal Kurban Bukan soal Uang, tapi Ibadah dan Kebersamaan
Menurut Iyung, pengalaman jauh lebih penting dibanding sekadar keberanian. Ia menilai banyak jagal baru terlalu percaya diri tanpa memahami teknik penyembelihan yang benar.





