Peran Vital Pelabuhan Panjang di Balik Rantai Pasok Daging Nasional

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Sebagai negara kepulauan, jalur laut masih menjadi penopang utama distribusi logistik di Indonesia. Terletak di gerbang Sumatera, Pelabuhan Panjang mempunyai peran vital sebagai pintu masuk utama sapi impor yang turut berperan menopang stabilitas pasokan daging nasional.

Setiap bulan, ada ribuan sapi impor dari Australia yang masuk ke Indonesia melalui PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) Nonpetikemas Cabang Panjang di pesisir Kota Bandar Lampung, Lampung. Arus masuk sapi impor melalui pelabuhan itu sudah berlangsung selama puluhan tahun dan turut menggerakkan perekonomian.

Salah satu kedatangan sapi impor terbesar terjadi pada akhir April 2026. Sebanyak 8.228 ekor sapi impor dari Australia masuk ke Indonesia, diangkut menggunakan MV Al Kuwait. Kapal motor yang memiliki panjang 189,5 meter dan berat 36.068 Gross Tonnage (GT) itu bersandar di dermaga 006-007 Pelabuhan Panjang.

Setelah melalui pemeriksaan karantina, satu per satu sapi diturunkan melalui pintu rampa atau ramp door yang menghubungkan kapal dengan dermaga. Hewan ternak itu lalu dipindahkan ke truk-truk yang sudah disiapkan di darat.

Dari pelabuhan, sapi-sapi dibawa ke instalasi karantina di perusahaan penggemukan sapi atau feedlot. Di sana, sapi dipantau kesehatannya dan digemukkan selama 4-6 bulan.

Setelah mencapai bobot di atas 500 kilogram, sapi akan dipasarkan ke berbagai daerah untuk memenuhi kebutuhan daging di dalam negeri, khususnya untuk industri makanan dan restoran. Begitulah gambaran rantai pasok sapi impor bekerja.

Di balik kompleksnya rantai pasok tersebut, PTP Nonpetikemas Cabang Panjang berperan penting sebagai simpul logistik yang menghubungkan kapal pengangkut ternak dengan feedlot. Kesiapan layanan pelabuhan sangat penting untuk memastikan kelancaran pembongkaran kapal hingga pengakutan ternak ke kandang penggemukan.

Baca JugaHarga Sapi Impor dari Australia Melambung, Bagaimana Dampaknya?

Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Panjang Doddy Setiawan menjelaskan, proses pemindahan muatan kapal pengangkut sapi di pelabuhan nonpetikemas dilakukan secara khusus. Hal ini karena muatan berupa hewan ternak membutuhkan penanganan aman dan cepat.

Menurut dia, kapal pengangkut sapi mendapat prioritas sandar dibandingkan kapal kargo lainnya. “Hal ini untuk mencegah hewan stres, menghindari risiko kematian yang tinggi, dan meminimalkan penyusutan bobot,” kata Doddy kepada Kompas, Selasa (26/5/2026).

Sebelum diturunkan dari atas kapal, sapi harus melalui proses pemeriksaan karantina. Setelah dipastikan aman, sapi baru digiring keluar kapal lewat pintu rampa dengan hati-hati.

Waktu yang dibutuhkan untuk proses pembongkaran kapal tergantung pada banyaknya muatan sapi. Sebagai contoh, kapal dengan total muatan sapi hidup sebanyak 3.686 ekor membutuhkan waktu bongkar sekitar 30 jam.

Baca JugaKetahanan Pangan 2026: Babak Baru yang Mulai Menjanjikan

Jika muatan lebih banyak, proses bongkar juga butuh waktu lebih panjang. Karena itulah, pihak pelabuhan selalu memastikan kesiapan fasilitas, terutama dermaga, ramp door, dan jembatan timbang agar tak ada hambatan selama proses penurunan sapi dari kapal.

Apabila ada gangguan, kondisi kesehatan dan keselamatan sapi bisa saja terdampak. Pasokan daging sapi ke berbagai daerah juga kemungkinan terimbas.

Digitalisasi

Untuk mendukung kelancaran pelayanan, kata Doddy, pihak pelabuhan menerapkan sistem digitalisasi. Pengurusan dokumen administrasi kapal, muatan, hingga berbagai dokumen perizinan lain dapat diproses secara daring sehingga lebih cepat dan transparan. Begitu pula dengan penjadwalan sandar kapal.

Doddy menambahkan, pihaknya juga menerapkan sistem monitoring operasional berbasis digital untuk memantau arus kapal, proses bongkar muat, dan pergerakan distribusi logistik secara real time. Pemasangan kamera pengawas atau CCTV yang terhubung dengan sistem kontrol di area pelabuhan semakin memperkuat keamanan di kawasan pelabuhan.

Baca JugaPermintaan Melonjak, Harga Sapi Kurban di Malang Naik Minimal Rp 2 Juta

“Kami memastikan proses bongkar muat kapal pengangkut sapi dilakukan tepat waktu dan aman melalui pengelolaan operasional yang terencana, koordinasi antarinstansi, serta pengawasan kondisi ternak secara ketat,” ucap Doddy.

Sepanjang tahun 2025, PTP Nonpetikemas Cabang Panjang mencatat, total volume sapi impor dari Australia yang masuk ke Indonesia melalui Pelabuhan Panjang tercatat sebanyak 208.354 ekor. Setidaknya, ada 70 kapal pengangkut sapi yang bersandar di Pelabuhan Panjang sepanjang tahun itu.

Sejauh ini, kata Doddy, tidak pernah ada kasus gangguan kesehatan, penyusutan bobot, maupun kematian sapi selama proses penanganan di pelabuhan. Pencapaian ini menjadi salah satu indikator kesiapan pelabuhan dalam menjaga kualitas layanan dan menjamin kelancaran pengiriman ternak.

PTP Nonpetikemas Cabang Panjang merupakan salah satu dari total 11 cabang pelabuhan PTP Nonpetikemas yang beroperasi di Indonesia untuk mendukung distribusi logistik nasional. Selain ternak, pelabuhan tersebut juga menjadi jalur distribusi pupuk, batubara, minyak bumi dan produk turunannya, hingga alat-alat berat.

Kami memastikan proses bongkar muat kapal pengangkut sapi dilakukan tepat waktu dan aman melalui pengelolaan operasional yang terencana, koordinasi antarinstansi, serta pengawasan kondisi ternak secara ketat

Pengawasan ketat

Kelancaran penanganan sapi impor di Pelabuhan Panjang juga tak lepas dari peran Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Lampung. Kepala Karantina Lampung Donni Muksydayan mengatakan, pihaknya menerapkan sistem pengawasan biosecurity ketat dengan melakukan desinfeksi menyeluruh pada sarana angkut dan ternak di Pelabuhan Panjang.

Petugas juga melakukan pengawasan melekat dari pelabuhan sampai ke instalasi karantina. “Selanjutnya, penerapan masa karantina wajib selama 14 hari untuk memastikan tidak ada sapi yang sakit sebelum diterbitkan quarantine release,” ujar Donni.

Balai Karantina Lampung juga melakukan uji laboratorium untuk mendeteksi penyakit berbahaya pada ternak, seperti penyakit mulut dan kuku serta lumpy skin disease (LSD). Hasil uji laboratorium Balai Karantina sudah diakui oleh Australia.

Sepanjang tahun 2026, Balai Karantina Lampung mencatat, volume sapi hidup yang masuk melalui Pelabuhan Panjang mencapai 59.000 ekor. Adapun menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung, nilai impor binatang hidup (termasuk sapi) ke Lampung mencapai Rp 26,46 juta dollar AS selama periode Januari-Maret 2026. Angka ini menunjukkan besarnya nilai ekonomi dari sektor bisnis tersebut.

Baca JugaStok Sapi di Kandang Peternak Lampung Merosot, Harga Daging Naik

Sementara itu, Ketua Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) Didiek Purwanto mengatakan, sapi impor dari Australia masuk ke Indonesia melalui tiga pelabuhan utama, yakni Pelabuhan Panjang, Belawan, dan Tanjung Priok. Dari tiga pelabuhan itu, total volume sapi impor dari Australia yang masuk melalui Pelabuhan Panjang menjadi yang terbesar.

“Total volume sapi impor dari Australia yang masuk ke Indonesia melalui Pelabuhan Panjang mencapai 45-50 persen dari keseluruhan impor sapi. Pelabuhan Panjang tidak hanya penting untuk menjaga pasokan daging di Lampung, tapi juga skala nasional,” kata Didiek.

Menurut Didiek, tingginya arus masuk sapi impor melalui Pelabuhan Panjang karena cukup banyak perusahaan feedlot yang beroperasi di Lampung. Dari total 30 feedlot di Indonesia, ada sekitar 9-10 feedlot di Lampung. Sisanya tersebar di Jawa Barat, Banten, dan Sumatera Utara.

Selain itu, arus lalu lintas di Pelabuhan Panjang juga tidak begitu padat seperti di Tanjung Priok sehingga dinilai lebih efektif untuk pengangkutan ternak.

Merujuk data Badan Pangan Nasional, kebutuhan daging sapi/kerbau untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional sepanjang tahun 2026 sekitar 794.300 ton. Adapun total ketersediaan stok daging secara nasional diproyeksikan mencapai 949.700 ribu ton, yang bersumber dari peternak sapi lokal, impor sapi hidup dari Australia, dan impor daging sapi beku.

Dari total kebutuhan itu, kata Didiek, impor sapi hidup dari Australia mampu menopang sekitar 20 persen dari total kebutuhan daging nasional. Sapi hasil penggemukan kebanyakan dipasok ke rumah potong hewan.

Dia menilai, layanan bongkar muat dan berbagai fasilitas pendukung lain di Pelabuhan Panjang sudah memadai. Sistem digitalisasi juga mempermudah pengusaha melakukan pelacakan sapi.

Didiek mengaku sudah menjadi importir dan menekuni usaha peternakan sapi potong sejak tahun 1987. Selama nyaris tiga dekade, dia menyebut, tidak pernah ada insiden atau hambatan serius selama proses pengangkutan sapi.

Didiek menambahkan, pengangkutan sapi impor juga telah memperhatikan aspek kesejahteraan satwa atau animal walfare. Saat di kapal, sapi ditempatkan di kandang yang memadai serta diberikan makan dan minum yang cukup agar tetap sehat.

Konektivitas jalan dari Pelabuhan Panjang juga semakin memadai dengan beroperasinya  Jalan Tol Trans-Sumatera. Waktu tempuh perjalanan lebih singkat sehingga truk pengangut sapi tiba di kandang lebih cepat.

Kendati begitu, kata Didiek, pengangkutan sapi dari pelabuhan menuju kandang masih bisa dioptimalkan apabila jumlah truk yang disediakan oleh perusahaan jasa logistik diperbanyak. Setidaknya, butuh 100 unit truk dalam satu kali bongkar kapal.

“Jika jumlah truk terbatas, proses pengangkutan sapi harus menunggu truk kembali lagi dari kandang ke pelabuhan. Karena itu, truk perlu lebih banyak agar waktu pengiriman sapi dari pelabuhan ke kandang bisa lebih efisien lagi,” katanya.

Kepala Bidang Usaha dan Pasca Panen Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lampung Anwar Fuadi mengatakan, pasokan daging sapi di Lampung relatif stabil setiap tahun. Saat ini, kebutuhan sapi di Lampung sebanyak 31.921,94 ton. Adapun ketersediaan pasokan daging sapi di Lampung sebanyak 32.907 ton atau surplus 985 ton.

Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Lampung, sapi dari feedlot juga dipasarkan ke berbagai daerah, khususnya wilayah Jabodetabek dan Sumatera bagian selatan dan tengah. Karena itu, Pelabuhan Panjang tak hanya berperan sebagai pintu masuk sapi impor, tetapi juga menjadi jalur distribusi sapi dari Lampung ke daerah lain di Sumatera, khususnya Kepulauan Bangka Belitung.

Ke depan, kebutuhan daging sapi diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri pengolahan makanan. Sebagai pelabuhan internasional utama di Lampung, PTP Nonpetikemas Cabang Panjang terus memperkuat pelayanan sistem logistik terpadu agar distribusi pangan menjadi lebih cepat, aman, dan efisien.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketua Komisi X Minta Klarifikasi dari WNI yang Diduga Palsukan Riset di Denmark
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Puluhan Merek Global Bakal Adu Teknologi di GIIAS 2026
• 39 menit lalumedcom.id
thumb
Gunung Semeru Erupsi Disertai Awan Guguran Panas Saat Idul Adha Rabu 27 Mei 2026
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
Prabowo Pakai APBN untuk Beli 1.098 Sapi Kurban, MUI: Secara Syari’ Sah
• 7 jam lalukatadata.co.id
thumb
Penjualan KFC Indonesia (FAST) Naik 18,59% Tembus Rp1,4 Triliun
• 1 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.